Menulis metodologi

Beberapa hari yang lalu saya membaca, atau lebih tepatnya memindai dengan cepat, sebuah artikel yang diterima di sebuah konferensi internasional. Terus terang saya ‘geleng-geleng kepala’ ketika membacanya. Bukan karena topiknya tidak menarik, tetapi kualitas penulisannya yang menurut saya masih perlu diperbaiki, terutama pada bagian metodologi. Yang saya baca di sana adalah parade definisi tanpa argumen mengapa sebuah metode atau teknik dipilih. Bahkan definisi apa itu wawancara dituliskan. Kalau saya reveiwernya, artikel ini kemungkinan besar saya mintakan untuk revisi besar dan kalau banyak artikel lain yang lebih bagus, ditolak. Halah, nggaya.🙂

Walsham (2006: 327) memberikan komentar yang menarik untuk bagian metodologi ini: “You won’t get a paper published in a good journal just because you have a well-written methodology section. However, you might get a paper rejected by a good journal because your methodology section is weak.”

Saya tidak akan membahas apakah istilah yang benar, untuk bagian ini, metodologi atau metode. Saya temukan keduanya digunakan dalam artikel jurnal, dan saya tidak ingin terjebak pada diskusi istilah. Lha, biasanya yang hobinya ‘ngeyel’  dalam mendiskusikan istilah ini juga jarang melakukan publikasi.🙂

Bagaimana seharusnya bagian metodologi ditulis? Tentu apa yang harus ditulis dan bagaimana menuliskannya mungkin berbeda antardisiplin. Karenanya, saya sengaja tidak melakukan proses sintesis, tetapi memaparkan beragam ‘resep’.

Jika kita menggunakan kerangka artikel yang ditawarkan oleh Day (1975). Bagian ini berisi ‘materials and methods’  dan cocok untuk penelitian yang melibatkan eksperimen, terutama di laboratorium. Menurut Day (1975), tuliskan spesifikasi dan kuantitas teknis secara tepat, termasuk metode penyiapannya. Kadang, perlu juga menampikan karakteristik kimia dan fisika senyawa yang digunakan. Bagian metodologi ini harus juga mendeskripsikan dengan detil langkah-langkah penelitian yang dilakukan, sehingga peneliti lain dapat mengulanginya. Perlu diingat, meskipun saran Day ini mungkin bisa diaplikasikan dalam banyak disiplin, latar belakang dia yang kemungkinan besar adalah teknik (berdasar outlet publikasi yang dipilihnya), perlu dipertimbangkan dalam mengadopsinya.

Resep lain diberikan oleh Kallet (2004), dengan latar belakang kedokteran. Menurutnya, bagian metodologi harus memberikan informasi yang menunjukkan bagaimana sebuah studi dapat dinilai validitasnya. Bagian ini secara umum terdiri dari lima bagian:

  1. Menggambarkan material yang digunakan dalam studi
  2. Menjelaskan bagaimana material tersebut disiapkan
  3. Menggambarkan desain/prosedur/protokol penelitian
  4. Menjelaskan bagaimana pengukuran dilakukan dan perhitungan apa saja yang dilakukan
  5. Menyatakan uji statistik yang digunakan untuk menganalisis data.

Kallet (2004) secara eksplisit menegaskan untuk menggunakan kalimat lampau (past tense) ketika menulis bagian ini. Tidak kalah penting, di sini, adalah mengatur antarbagian dalam urutan yang logis.

Bagaimana untuk penelitian positivis yang melibatkan survei? Apakah konten bagian metodologi sama? Pencarian saya tidak menemukan resep yang siap pakai. Sebagai gantinya, kita bisa rujuk beberapa artikel yang diterbitkan dalam jurnal yang bereputasi bagus.

Untuk penelitian positivis akan saya rujuk artikel Sun et al. (2006). Saya memilihnya karena ada Straub sebagai salah satu penulisnya. Straub saat ini adalah editor in chief jurnal paling bererputasi di bidang sistem informasi (SI) sejagad, MIS Quarterly. Straub bersama beberapa koleganya juga banyak menulis artikel tentang validasi instrumen dalam penelitian positivis. Lihat misalnya Boudreau et al. (2001), Straub et al. (2004), dan  Burton-Jones dan Straub (2006). Saya, alhamdulillah, menjadi salah satu murid dalam kelasnya, dan berkesempatan memvalidasi pengetahuan terbatas saya dalam penelitian positivis yang saya pelajari secara otodidak, alias tanpa ‘guru formal’.🙂

Dalam artikel mereka, Sun et al. (2006) menulis bagian metodologi ke dalam bagian berikut:

  1. Konteks penelitian. Pada bagian ini, dijelaskan juga mengapa konteks tersebut relevan untuk menguji model penelitian yang dikembangkan. Beberapa argumen secara eksplisit dituliskan di sana. Argumentasi seperti ini diperlukan, terutama, karena tujuan penelitian ini adalah menjelaskan kepuasan pengguna terhadap penyampaian layanan teknologi informasi; lebih didorong alasan konseptual, dibandingkan empirikal yang spesifik.
  2. Pengukuran. Pada bagian ini dijelaskan bagaimana item-item yang digunakan untuk mengukur variabel (konstruk) dikembangkan. Apakah berdasar penelitian sebelumnya, atau dikembangkan dari awal, dan apa alasannya, dijelaskan di sini. Variabel-variabel pendukung lain, seperti demografi, juga dijelaskan, bagaimana mengukurnya. Uji reliabilitas dan validitas intrumen pengukuran juga perlu dituliskan di sini.
  3. Prosedur pengumpulan data. Bagaimana kuesioner didistribusikan dan kepada siapa dijelaskan di sini. Bagian ini juga biasanya melaporkan response rate yang didapat, berapa respon yang valid, dan informasi lain yang relevan.
  4. Teknik analisis data. Bagian ini menjelaskan bagaimana data dianalisis, termasuk alasan mengapa teknik tersebut dipilih.

Untuk penelitian interpretif, saya temukan panduan ‘tersembunyi’ di salah satu artikel Walsham (1995). Walsham adalah salah satu tokoh penting dalam pengenalan dan pengembangan penelitian interpretif di bidang SI. Dia pernah menjadi senior editor dua jurnal penting di bidang IS, MIS Quarterly dan Information Systems Research. Bagi saya, dia adalah profesor yang sangat mumpuni dan sederhana. Saya pernah ketemu sekali dengannya dan mengikuti ceramahnya di Kathmandu, Nepal, pada Mei 2011 yang lalu.

Bagi Walsham (1995), bagian metodologi, paling tidak, berisi:

  1. Deskripsi pengumpulan data. Bagian ini meliputi penjelasan tentang (a) tempat penelitian yang dipilih, termasuk alasan pemilihannya, (b) banyak orang yang diwawancarai serta posisinya dalam konteks tempat penelitian, (c) sumber data lain yang digunakan, (d) waktu atau durasi pengumpulan data.
  2. Deskrispi analisis data. Bagian ini menjelaskan (a) bagaimana hasil wawancara dan data lainnya direkam, (b) bagaimana analisis dilakukan, dan (c) bagaimana proses iteratif antara data dan teori terjadi. Deskripsi tentang strategi sensemaking yang digunakan dan bagaimana data dikodekan, termasuk penggunaan software pendukung, juga perlu dituliskan di sini.

Referensi
Burton-Jones, A., & Straub, D. W. (2006). Reconceptualizing system usage: An approach and empirical test. Information Systems Research, 17(3), 228-246.

Boudreau, M. C., Gefen, D., & Straub, D. W. (2001). Validation in information systems research: A state-of-the-art assessment. MIS Quarterly, 1-16.

Day, R. (1975). How to write a scientific paper. IEEE Transaction on Professional Communication, 41(7), 486-494.

Kallet, R. H. (2004). How to write the methods section of a research paper. Respiratory Care, 49(10), 1229-1232.

Straub, D., Boudreau, M. C., & Gefen, D. (2004). Validation guidelines for IS positivist research. Communications of the Association for Information Systems, 13(24), 380-427.

Sun, Y., Fang, Y., Lim, K. H., & Straub, D. (2012). User Satisfaction with Information Technology Service Delivery: A Social Capital Perspective. Information Systems Research.

Walsham, G. (2006). Doing interpretive research. European Journal of Information Systems, 15(3), 320-330.

Walsham, G. (1995). Interpretive case studies in IS research: nature and method. European Journal of Information Systems, 4(2), 74-81.

21 comments
  1. mutje said:

    Mantap, menjadi referensi yang menyenangkan mas

  2. sigit purnomo said:

    Bagaimana memilih metodologi yang tepat untuk menyelesaikan sustu kasus pak fathul? dan Apakah ada hubungan yang tepat antara pemilihan metodologi dengan pemilihan model penyelesaian/pembahasan?

    • Pak Sigit, kalau menurut saya pemilihan metodologi tergantung kepada pertanyaan penelitian (rumusan masalah) yang ingin dijawab. Kalau misalnya pertanyaannya “bagaimana proses pelembagaan inisiatif eProcurement di pemerintah lokal?”, maka studi positivis dengan survei tidak akan bisa menjawab. Untuk kasus ini akan lebih masuk akal menggunakan pendekatan interpretif yang melibatkan studi kasus. Pemilihan informan/responden juga bisa berpengaruh. Ini, salah satunya, akan terkait dengan validitas (eksternal) penelitian.

  3. Berarti antara metodologi penelitian atau metode penelitian masih belum di sepakati definisi nya ya pak…?
    baiklah terlepas dari itu… ini terkait tentang penelitian dalam bidang ilmu komputer pak…mengingat basic saya masih kuliah ilmu komputer… seiring perkembangan bidang ilmu komputer mengalami pergeseran dan perkembangan dari berbagai bidang ilmu yang menjadi ilmu-ilmu baru, antara lain electrical engineering, computer engineering, computer software engineering, computer science, information system dan information technology. Pergeseran bidang ilmu itu terus berkembang hingga sampai saat ini ilmu komputer difokuskan atas dua bagian besar yaitu bidang ilmu komputer dan bidang ilmu teknologi informasi.
    Nah yang ingin saya tanyakan adalah metode atau metodologi semacam apa yang tepat digunakan dalam penelitian-penelitian ilmu komputer maupun sejenisnya… mengingat pergeseran keilmuan dari tambahan ilmu yang lain masih sangat mungkin terjadi lagi…
    mohon penjelasan dari awal sampai akhirnya…

    • Itu hanya perdebatan tidak penting sih Mas. Masalah terminologi. Di komunitas internasional menurut saya sudah selesai, hanya saja di Indonesia kadang ada yang masih ‘genit’.

      Metode (detil) penelitian akan sangat tergantung dengan apa yang akan diteliti (rumusah masalah, pertanyaan penelitian) Mas. Tidak bisa ‘digebyah uyah’ alias disamaratakan. Cara paling sederhana, coba lihat artikel jurnal yang bagus untuk mempelajari bagaiman praktik yang sudah bagus. Satu lagi, wacana metode selalu berkembang, sebagaimana ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

      Jadi agak sulit kalau harus mengulas metode dari awal sampai akhir dengan singkat. Kuliah metode level doktoral saja butuh lebih dari 10 SKS.🙂 Hehehe. Intinya: belajar pelan-pelan (termasuk filsafat ilmu pengetahuan) sambil dipraktikkan.

      • Nur Widiyasono said:

        punten pak , mau tanya …… untuk artikel jurnal yang bagus , itu seperti apa ya pak ? parameternya apa saja ? saya mau belajar menulis dari Pak Fathul , mohon petunjuknya ya pak !🙂

        • Fathul Wahid said:

          Mas Nur, ini pertanyaan sulit, karena sangat mungkin subyektif. Parameter yang saya gunakan sederhana: ketika saya selesai membaca sebuah artikel dan merasa mendapatkan pencerahan. Artikel seperti ini biasanya ditulis dengan baik, ‘alur ceritanya’ mudah diikuti, dan jelas kontribusinya. Menurut Mas Nur?

  4. Gilang Arif Freeanto said:

    Maaf pa saya mau bertanya dan sedikit berpendapat, mohon di koreksi
    1. Apakah metodologi penelitian dapat diterapkan pada semua disiplin ilmu ?
    2. Mengenai metodologi dan karya ilmiah bidang ilmu sains dan psikologi, sosiologi
    – penelitian dalam bidang ilmu sains (fisika, kimia, farmasi, dll) menurut saya adalah ilmu pasti hasil kesimpulan nya pun dapat disebut karya ilmiah, karena pengujian laboratorium, variabel nya pasti dan kuantitatif, serta dapat dipergunakan di segala sikon serta tempat karena sifatnya yang universal, contoh teori einsten E=MC2 dll
    – penelitian dalam bidang ilmu psikologi, sosiologi dan sejenisnya apakah dapat disebut karya ilmiah karena variabel nya berbeda fluktuatif serta kualitatif, juga kesimpulan nyabelum tentu dapat dipergunakan di berbagai sikon dan tempat yang berbeda, contoh penelitian perilaku dan sifat remaja pada umur 14 tahun-21 tahun, yang pasti kesimpulan nya akan berbeda saat sikon dan tempatnya berbeda antara misalnya eropa yang sekuler serta asia yang agamis ketimuran, atau penelitian yang bersifat non fisik seperti ilmu santet dll karena parameter nya tidak ada.
    semoga dapat direpon, terimakasih….

    • Fathul Wahid said:

      Kita diskusi Mas Gilang.

      1. Metode ilmiah dan prinsip-prinsip dasarnya secara umum bisa sama, hanya saja setiap disiplin biasanya mempunyai tradisi tersendiri.
      2. Ilmu alam dan ilmu sosial termasuk humaniora ‘dapat’ mempunyai landasan filosofis yang berbeda. Mengapa ‘dapat? Karena, ada madzhab ilmu sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmu alam. Bahkan, dalam ilmu sosial saja, filosofis dasarnya bisa berbeda.

      Diskusi Anda bisa dikaitkan dengan pertanyaan dasar: mengapa melakukan penelitian? Bagi saya, salah satunya untuk memahami fenomena (baik alam maupun sosial) dengan lebih baik. Bisa jadi, sebagian orang menganggap penelitian ilmu sosial ‘tidak ilmiah’ karena tidak pasti. Tetapi apakah ada yang pasti di dunia ini? Yang membedakan antara ‘kepastian’ ilmu alam dan ilmu sosial, salah satu, bisa jadi terkait dengan ‘durasi’ dan ‘variasi’. Mungkin karena itu juga, dalam ilmu fisika ada istilah ‘berat’ dan ‘massa’. Apa yang membedakan? Konteks. Batu bermassa 1 kg di bumi dengan tekanan 1 atmosfer berberat 1 kg, tetapi tidak di permukaan bulan. Di atas gunung yang tinggi dengan tekanan atmosfer yang berbeda, seharusnya beratnya juga berbeda, hanya saja karena variasinya kecil, diabaikan.

      Untuk diskusi metafisika, seperti santet, nampaknya memerlukan forum khusus.🙂 Dalam perspektif sosiologis, santet adalah fakta sosial. Pembuktian yang memungkinkan semua orang paham adalah perkara lain. Bisa jadi masalah kesepakatan, atau waktu. Ini mirip ketika para ahli nanoteknologi sedang diskusi. Orang awam yang mendengarkan tentu tidak bisa mengikuti.

      Diskusi yang njenengan angkat ini topik klasik. Bagi saya, ikuti yang diyakini, dan terbuka bahwa ada madzhab lain di sana. Dunia akan kusam jika hanya diisi satu warna.🙂

  5. Mau tany Pak Fathul,, Bagaimana memilih metodologi yang tepat untuk membuat studi kasus berbasis SPK? dan Apakah ada kaitan langsung antara pemilihan metodologi dengan pemilihan model penyelesaian/pembahasan?

    • Fathul Wahid said:

      SPK untuk masalah yang rumit dan belum ada model analitiknya akan sangat menantang. Ini akan melibatkan banyak informasi yang belum terkumpul. Model yang digunakan pun sangat tergantung pada informasi yang terkumpul.

  6. Didik Riyanto said:

    bagus bang iful saking komlitnya saya jadi bingung dalam mana sebagai acuan untuk menentukanmetodologi.. bang ajari aku resep yang simpel dan mudah untuk memilih metodologiyang tepat bangtips jitu aza untuk pemula…

    • Fathul Wahid said:

      Mas Didik, Semuanya tergantung dengan masalah yang akan diteliti. Tidak ada resep yang siap pakai untuk semua kasus.🙂

  7. Berikut saya kutip gayanya nggaya njenengan pak “tetapi kualitas penulisannya yang menurut saya masih perlu diperbaiki, terutama pada bagian metodologi. Yang saya baca di sana adalah parade definisi tanpa argumen mengapa sebuah metode atau teknik dipilih. Bahkan definisi apa itu wawancara dituliskan” seharusnya sekalian njenengan tutup paragraf ini dengan kalimat : Kalau saya reviewernya, artikel ini mungkin sudah saya masukkan dalam tumpukan sampah penelitian, nah itu baru nggaya pak hahaha…

    Kalau didalam penulisan metodologi untuk artikel kelas internasional tsb masih ada yg menulis ttg defenisi wawancara tanpa argumen mengapa metode tsb dipilih, nie saya jadi ingat saat membaca karya Tugas Akhir D3 yg digunakan berkali2 sebagai bahan contekan dan akhirnya gaya penulisan ini menjadi landasan dasar dan turun temurun dimana untuk metode2 yg digunakan itu ditulis defenisinya semua.

    Jadi, Jika membicarakan kualitas penulisan dalam penelitian tentu semua tak lepas dari pemilihan resep penulisan namun ternyata njenengan disini memaparkan beragam resep. Nah untuk keragaman resep ini tentu ada beberapa hal yg polanya seragam dalam memaparkan metodologi penelitian pak, apakah njenengan ada formula/resep sendiri yg ringkas yg cocok diterapkan untuk digunakan sebagai acuan peniliti pemula (yg baru belajar menulis penelitian) sehingga dapat menghasilkan tulisan yg benar2 berkualitas.

    Kemudian ada istilah state of the art pak kog sepertinya saya tidak menemukannya di-blog njenengan ini selain hanya dibagian referensi pada tulisan ini. mungkin ada tulisan yg khusus membahas ini nantinya pak sehingga pembahasan metodologi ini jadi kaya.

    Maaf yya pak pertanyaannya cukup panjang dan bertele2 yya pak, maklum pak ini mungkin ilmu bagi saya untuk belajar menulis, dan jika njenengan tidak ingin mengomentari tulisan saya ini njenengan harus berfikir seribu kali pak karna akan saya laporkan ke pak zain hahaha..
    salam hormat saya untuk njenengan dan pak zain.

    • didikwd said:

      terima kasih pak bro,, saling koreksi ya,, hehe,,🙂

    • Fathul Wahid said:

      Mas Iqbal,

      Tidak ada penelitian yang metodenya sama, kalau mengharapkan hasil yang berbeda (baca: kontribusi). Kalau ada laporan kok bagian metodenya sama, itu pasti plagiarisme dan itu haram secara akademik.

      Resep singkatnya: kalau ada narasi bagian metode yang bisa disalin-tempel ke banyak penelitian dan masih relevan, berarti ada masalah. Metode seharusnya spesifik, dan tidan bisa disalin-tempel ke penelitian lainnya.

      Untuk state of the art, kalau yang njenengan maksud perkembangan terkini, bisa didekati dengan melakukan literature review yang sistematik. Silakan baca entri tentang itu di blog ini.🙂

  8. Lia Rosmalia said:

    Assalamu’alaikum Pak Fathul..
    Trima’kasih pak…bertambah pengetahuan sy tentang menulis metodologi🙂 Ada yang menarik pak tentang keberagaman menulis Metodologi ini. Dari pengalaman saya, sering sekali sy menemukan isi penjelasan pada bab metodologi hanya sebatas metode pencarian data dan metode pengembangan sistemnya saja ( hanya sebatas bagan sj, dan itu pun pengulangan bagan dr bab sebelumnya). Di bagian ini yang sering kali membuat sy tak bisa berkomentar bnyk , karena secara tidak langsung hal tersebut seperti sdh umum dan sdh lama dibenarkan serta tdk menjadi masalah, tetap di Acc. Apakah hal tersebut memang di legalkan pak? dengan menulis metodologi sesederhana itu apakah dikarenakan tidak adanya standar penulisannya atau memang adanya unsur kemalasan dalam pengembnagan pengetahuan? Jujur pak sy kebingungan sekali pada saat harus membaca Metodologi penelitian dengan formatnya yang diseragamkan namun isinya terlalu sederhana dibandingkan dengan apa yg bapak tuliskan di artikel ini, wah sangat jauh pak🙂
    Mudah-mudahan ke depannnya ada artikel yg membahas lebih jelas lg khususnya yg berkaitan dengan standar format penulisan metodologi, sehingga tidak ada ada lg keberagaman yg kebingungkan. terima kasih bnyk pak atas penjelasannya🙂

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Lia,

      Kalau menurut saya, apapun yang kita pilih harus disertai argumen. Memang benar pengamatan yang njenengan lakukan. Saya kadang juga mules membacanya.🙂 Bagaimana tidak? Makan enak dengan menu yang sama setiap hari saja bosan, apalagi membaca tulisan atau bagan yang sama berulang.

      Singkatnya: setiap penelitian itu unik. Begitu juga metodenya. Kalau ada metode yang bisa disalin-tempel ke penelitian lain tanpa kontektualisasi, ini jelas masalah. Kalau pun sama-sama survei, isi kuesionernya berbeda, respondenya bisa berbeda, teknik sampling juga, dan seterusnya. Kalau wawancara, informannya juga berbeda, pertanyaannya berbeda, dan seterusnya. Jadi, kalau menulis bagian metode, tuliskan sampai tingkat detil ini beserta alasannya.

      Mudah-mudahan membantu.

  9. mungkin boleh sedikit saran pak fathul… untuk yang lima bagian:

    mungkin dapat digambarkan secara lebih detail lagi? semacam diberikan contoh-contoh. terimakasih🙂

    • Fathul Wahid said:

      Mas Septian, Kalau mau detil, coba cari tulisan di jurnal yang bagus dan pelajari caranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: