Mengenal medan

Travel by this road, where you will see clear marks of wheels. To allow earth and heaven to share equally in your warmth, do not go low, nor yet force you way into the upper air: if you drive too high, you will set the dome of heaven on fire, and if you are too low you will scorch the earth. The middle way is safest.” – Ovidius, Metamorphoses, Book II.*

Kabar buruk

Kalau kita cermati, akhir-akhir ini banyak sekali lembaga yang menerbitkan jurnal internasional dengan dalih kebijakan open access dengan motivasi yang sangat materialistik. Proses review yang dijalankan pun nampaknya sulit dipercaya kredibilitasnya. Saya beberapa kali mendapatkan kiriman undangan untuk melakukan review manuskrip yang masuk. Dengan halus permintaan tersebut saya tolak, karena saya mempunyai alasan yang cukup ilmiah, topik tulisan di luar keahlian atau minat saya. Pemilihan reviewer yang terkesan asal dan tidak mempertimbangkan latar belakang akademik, sebenarnya sebuah indikasi bahwa kualitas pengelolaan jurnal patut dicurigai.

Dalam situs webnya, biasanya kesan pengelola untuk mendapatkan apa yang mereka sebut handling fee sangat kentara. Bagaimana tidak, jika kita membuat tautan ‘how to submit’ atau sejenisnya, paragraf pertama berisi informasi berapa handling fee yang harus dibayar jika manuskrip diterima. Praktik-praktik seperti ini jelas sangat jauh dari norma akademik, tetapi tidak ada seorang pun atau lembaga yang berhak menutupnya. Jurnal seperti ini juga mempunyai ‘penggemarnya’ sendiri. Atau, dengan mengambil perspektif lain yang lebih positif, jurnal seperti ini dapat juga merupakan benih dari jurnal berkualitas pada masa yang akan datang. Semoga.

Memang handling feenya jauh lebih murah sih, dibandingkan memilih open access di jurnal terbitan Springer, misalnya. Layanan terbaru SpringerOpen (http:////www.springeropen.com) mematok biaya proses rata-rata sebesar EUR 500. Tetapi untuk jurnal yang sudah bereputasi dan terbit tercetak, biaya untuk menjadikan artikel kita dapat diakses secara gratis dapat mencapai EUR 2,000. The Public Library of Science (PLoS) yang didirikan pada tahun 2000 mematok biaya proses sebesar USD 2,900 untuk setiap artikel yang diterbitkan.

Karena alasan yang mirip, kritik juga ditujukan kepada penerbit jurnal yang bereputasi tinggi, semacam Elsevier. Model bisnis penerbit besar, seringkali sangat membebani penulis atau perpustakaan pelanggan. Pembelian dengan sistem ‘bundel’, misalnya. Perpustakaan tidak bisa melanggani satu jurnal saja yang diinginkan, tetapi harus satu bundel. Dalam majalah bergengsi The Economist (2012) – http://www.economist.com – edisi Februari 2012, sebuah artikel mengulas tentang masalah ini.

Pada Januari 2012, seorang ahli matematika Cambridge University memprotes kebijakan Elsevier, dan memboikotnya dengan tidak mengirimkan ke jurnal terbitan Elsevier dan mereview manuskripnya. Ini bukan cerita baru. Masih menurut The Economist, pada tahun 2006, seluruh dewan redaksi jurnal Topology mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Kasus serupa menimpa penerbit Springer, ketika seluruh dewan redaksi jurnal K-theory mengundurkan diri pada tahun 2007.

Kritik ini terus berlangsung. Sampai dengan 6 Maret 2012, petisi online di http://www.thecostofknowledge.com/ telah mengumpulkan 7867 ‘tanda tangan’ akademisi dari seluruh dunia.

Kabar baik

Jangan berputus asa dahulu. Jurnal-jurnal berruptasi baik yang dikelola dengan model bisnis tidak “open“, seperti yang dibawahi Elsevier, Sage, Francis & Taylor, Emerald, Inderscience, untuk menyebut beberapa, tidak memungut fee apapun alias gratis. Selama menerbitkan artikel saya di jurnal yang dikelola mereka, sampai saat ini saya tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Tetapi keringat yang saya keluarkan ketika melakukan penelitian dan menulis nampaknya memang sangat banyak.🙂 Sage, misalnya, bahkan mengirimkan beberapa kopi jurnal di mana tulisan kita dimuat secara gratis. Beberapa yang lain memberikan akses online gratis pada waktu yang terbatas dan untuk mendapatkan kopi cetaknya, wajar kalau kemudian kita yang membayar.

Catatan: *Dikutip oleh Czarniawska dan Sevon (1996).

Referensi

Czarniawska, B.,  dan Sevon, G. (1996). Introduction. Dalam B. Czarniawska dan G. Sevon (Eds.). Translating Organizational Change. Berlin: Walter de Guyter.

The Economist (2012). The price of information. Edisi 4 Februari. Diakses pada 6 Februari 2012 dari http://www.economist.com/node/21545974.

9 comments
  1. 3wdd said:

    Mohon maaf pak, saya kurang begitu faham dengan istilah handling fee, bukankah ketika seorang akademisi men-submit karya ilmiyah atau tulisan ke sebuah jurnal atau sejenisnya, sang akademisi justru mendapatkan honor jika tulisanya diterima, tapi kenapa pada tulisan tersebut sang akademisi justru harus membayar, mhn pencerahanya pak, terimakasih

    • Fathul Wahid said:

      Kalau di jurnal atau konferensi internasional, justru yang bayar penulisnya Mas. Meski banyak jurnal yang tidak memungut biaya. Kalau menulis di media massa, kebalikannya Mas, penulis yang dibayar. Jika diundang jadi pembicara kunci pada sebuah konferensi, saya tidak yakin kalau di tingkat internasional juga akan dibayar; biasanya hanya diganti ongkos tiket dan akomodasi. Kalau di Indonesia, nampaknya lebih dari ini.

  2. Assalamualaikum Wr Wb, sebelumnya terimakasih Pak Fathul yang telah memberikan pengalamannya dalam dunia jurnal kepada kami yg masih sangat pemula. Informasi yang Bapak berikan sangat bermanfaat dan memberi masukan untuk kami. Saya masih penasaran pak, apakah di jurnal internasional yang smakin bereputasi semakin banyak biaya prosesnya untuk menerbitkan artikel dan apakah jurnal yang handling fee nya lebih murah tidak berkualitas?
    Dan kalau boleh saya bertanya pak, jurnal bereputasi itu yang seperti apa nggih pak? maturnuwun

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Hajar. Salah satu ukuran jurnal bereputasi adalah impact factornya (IF) yang menunjukkan keterkutipan. Sebagai gambaran, jika IF=1, maka dalam dua tahun terakhir, semua artikel yang diterbitkan oleh jurnal tersebut rata-rata dikutip sekali. IF sebetulnya juga menunjukkan diterimanya jurnal oleh komunitas akademik karena dianggap berkualitas. Hal ini tidak ada hubungannya dengan handling fee. Banyak jurnal bagus yang gratis.

  3. feni said:

    boleh saya tahu jurnal apa saja yang gratis kalau kita publish disana? mohon infonya… terima kasih

    • Fathul Wahid said:

      Semua jurnal yang diterbitkan oleh (contoh) Elsevier, Taylor & Francis, Emerald, Sage, Springer, gratis Mbak. Jurnal yang mereka terbitkan juga lebih terjamin proses reviewnya dan tidak ‘abal-abal’. Kecuali ada opsi open access dan Mbak Feni ingin tulisannya didowload (dibaca) orang dengan gratis. Yang terakhir ini ada biaya cukup mahal.

  4. Septyan Eka Prastya said:

    assalammualaikum pak.. saya baru banget dalam dunia penelitian..
    karena itu saya masih belum terlalu mengerti bagaimana proses publikasi jurnal kita ke ajang internasional..
    bila berkenan mohon bapak menulis artikel tentang bagaimana proses dan langkah-langkah dalam mempublikasi jurnal ilmiah kita sampai ke kancah internasional.. makasih banget dulu pak sebelumnya, klo ada itu saya yang pemula ini akan sangat terbantu

  5. Assalamualaikum wrwb. Selamat siang Pak Fathul. Saya Ratih, mahasiswa Arsiektur Undip. Yang ingin saya tanyakan adalah untuk jurnal2 bagus yang geratis “tidak open access” berarti tulisan kita nantinya tidak dapat diakses secara bebas atau dengan kata lain jika ada orang yang ingin mendownload tulisan kita maka orang tersebut harus melakukan pembayaran pada jurnal yang bersangkutan. Kemudian untuk pilihan open access itu, apakah terdapat pada bagian ketika kita registrasi sebagai author?

    Demikian pertanyaan dari saya. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum wrwb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: