Arsip

Monthly Archives: April 2012

Banyak yang percaya bahwa salah satu kendala dalam publikasi ilmiah internasional adalah penguasaan bahasa yang digunakan, terutama bahasa Inggris. Saya setuju. Diskusi beberapa hari belakangan terkait dengan penggunaan bahasa Inggris di Rintisan Sekolah Bertaraf (atau Bertarif?) Internasional (RSBI) yang sedang dibahas di Mahkamah Konstitusi juga menarik. Intinya, penguasaan bahasa Inggris bukan untuk ‘gaya-gayaan’ dan bahkan meninggalkan akar budaya. Ini nampaknya yang menjadi keprihatinan mereka yang mengatasnamakan pegiat pendidikan. Di sini tentu pilihannya bukan biner, ya-tidak, tetapi harus memperhatikan konteks. Salah satu konteksnya adalah publikasi ilmiah internasional.

Jika kita termasuk yang mempunyai masalah dalam bahasa Inggris, tenang, temannya banyak di planet ini. Tidak lebih dari seperempat penduduk planet ini yang menggunakan bahasa Inggris. Dalam berbahasa, menurut saya ada dua hal pokok yang terkait: kosakata (vocabulary) dan tata bahasa (grammar). Tetapi dalam menulis, menurut saya yang lebih penting dari kedua hal tersesbut, meskipun masih terkait, adalah kerunutan logika berpikir. Jika Anda belajar pemrogram komputer, logika ini adalah algoritma, dan bahasa pemrograman (C++, Lisp, Prolog, PhP, Java, dan lain-lain) adalah bahasanya (ada kata kunci [kosakata] dan aturan penulisan instruksi [tata bahasa]). Read More

Iklan

Seorang kolega yang sekarang menjadi assosiate professor di salah satu universitas terbaik Korea sempat kaget sewaktu wawancara untuk posisi tersebut. Apa pasal? Universitas tersebut tidak menganggap kolega saya mempunyai publikasi ilmiah. Padahal dalam CV yang dikirimkan ada lebih dari 30 publikasi.

Ternyata setelah dilacak, yang dimaksud adalah publikasi yang terindeks oleh Science Citation Index (SCI), yang saat ini dikelola oleh Thomson Reuters. Indeks inilah, dan termasuk Social Science Citation Index (SSCI), yang semuanya di bawah manajemen Thomson Reuters yang digunakan sebagai salah satu sumber pemeringkatan universitas oleh Times Higher Education (THE). Thomson nampaknya juga membuat beberapa indeks yang lebih spesifik yang didasarkan pada SCI. Semua indeks (khusus jurnal) ini diintegrasikan ke dalam Web of Science. Untuk universitas yang menganggap peringkat THE sangat prestisius, maka mempunyai dosen atau peneliti yang memiliki publikasi ayang terindeks di SCI adalah sebuah langkah awal. Read More

Tahapan ini seharusnya selalu dilakukan ketika akan memulai penelitian. Review dilakukan untuk memberikan fondasi yang solid dalam mengembangkan pengetahuan. Selain itu, menurut Webster dan Watson (2002; h. xiii), “It facilitates theory development, closes areas where a plethora of research exists, and uncovers areas where research is needed.”

Dalam praktik, hasil literature review bisa menjadi sebuah bab dalam tesis atau disertasi (dalam bentuk monograf), atau dalam bentuk artikel. Pada tahap penyusunan proposal penelitian pun, seharusnya review ini dilakukan. Read More