Selingan: Posisi baru publikasi internasional

Ada beberapa isu menarik, paling tidak menurut saya, yang banyak didiskusikan oleh komunitas akademik Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Salah satunya terkait dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara no. 17/2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Dengan dekimian, peraturan serupa no. 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tidak berlaku. Ada beberapa perubahan yang cukup mendasar dalam peraturan ini, salah satunya bahwa salah satu syarat menduduki jabatan fungsional profesor adalah memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi (pasal 26 ayat 4). Syarat ini tidak ditemui dalam peraturan sebelumnya.

Kemarin (15/05/2013), dalam sebuah seminar di Universitas Negeri Semarang, Prof. Supriadi Rustad (Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemdikbud) menyampaikan informasi yang menurut saya cukup spektakuler. Katanya, profesor yang tidak menghasilkan karya dalam jurnal internasional bereputasi (bukan yang abal-abal), tunjangan jabatannya terancam dicabut. Katanya juga, Ditjen Dikti sedang menggodog aturannya. 

Apa yang menarik dari dua hal ini? Ini berarti ada penghargaan lebih terhadap publikasi internasional dan diberikan posisi baru. Harapan Prof. Tanpanami dalam wawancara imajiner yang ditulis dalam blog ini lebih dari setahun yang lalu, segera menjadi kenyataan.

Ketika informasi ini dituliskan seorang kawan dalam tembok Facebook, komentar yang didapat beragam. Mulai dari yang menyambut dengan girang, sampai dengan yang skeptis. Yang skeptis terbagi menjadi dua. Kelompok pertama, menyanksikan apakah mungkin kewajiban seperti ini akan diundangkan. Menurut mereka, ‘korban’nya adalah para profesor yang sudah terlanjur dalam posisi nyaman. Kelompok kedua mencibir, kenapa menilai kertas yang tidak berguna. Bagi mereka, publikasi dalam jurnal hanya sebatas kertas tanpa manfaat. Lebih jauh mereka berdalil banyak penelitian perusahaan kelas dunia tidak dipublikasikan.

Untuk skeptisisme yang pertama, biarlah waktu yang memberikan jawab. Kini, tidak saatnya berandai-andai. Tapi hati-hati, jangan menggantungkan harapan terlalu tinggi, meskipun halal. Skeptisisme yang kedua ini menarik didiskusikan. Ini bukan diskusi kemarin sore. Ini diskusi yang dimulai puluhan bahkan ratusan tahun lalu yang tidak pernah berujung pada satu kesepakatan. Meskipun, kesepakatan dalam ini tidak perlu. Ini diskusi masalah relevansi. Argumen yang dimunculkan oleh kelompok kedua ini benar dalam kondisi tertentu, namun dalam banyak sisi, saya tidak bisa mengikuti argumen ini. Saya tidak akan mencoba menjawab dengan argumen, tapi sebaliknya akan memberikan daftar pertanyaan.

Dari manakah kelompok kedua mendapatkan pengetahuan? Apakah mereka pernah dengan serius meneliti dan mempublikasikannya dalam jurnal internasional bereputasi? Apakah mereka pernah bersentuhan dengan pada peneliti produktif yang tulisannya dalam jurnal internasional mempunyai dampak yang luar biasa? Bagaimana mereka mendefinisikan dampak, jangkauan geografik dan temporal dampak? Bagaimana mereka berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan? Apakah mereka tahu bahwa peneliti di perusahaan kelas dunia juga banyak yang aktif dalam komunitas akademik dan publikasi internasional? Apakah mereka tahu, dosen yang melakukan publikasi internasional, juga banyak yang peduli dengan masalah sekitar dan berusaha membuat perubahan? Ah, sudahlah. Daftar pertanyaan ini sudah terlalu panjang.

Terlepas dari itu, inilah potret dunia nyata, yang penuh warna. Tidak perlu marah. Yang diperlukan adalah dialog yang konstruktif antarkelompok. Masihkah ingin melakukan publikasi internasional? Ini pilihan hidup dengan segala konsekuensinya bagi dosen — meminjam istilah Pierre Bourdieu — sebagai homo academicus.🙂

Kotamu, 16 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: