Selingan: Integritas akademik dan publikasi internasional

Siapapun dia, saya nampaknya harus memberikan ‘selamat’ kepada Nono Lee yang telah menerbitkan satu artikel yang ‘sama’ dalam dua jurnal internasional yang berbeda dalam waktu yang berdekatan. Yang menarik lagi, kedua artikel tersebut merupakan ‘hasil kolaborasi’nya dengan tiga penulis selebritas, ‘Pejabat Palsu’, ‘Agnes Monica’, dan ‘Inul Daratista’. Artikel yang berjudul Mapping Indonesian Rice Areas Using Multiple-Temporal Satellite Imagery tersebut muncul dalam African Journal of Agricultural Research, Vol. 7, No. 28, hal. 4038-4044 (24 Juli 2012) dan Scholarly Journal of Agricultural Science, Vol. 2, No. 6, hal. 119-125 (Juni 2012). Sila lirik kedua artikel tersebut di http://www.academicjournals.org/AJAR dan http:// http://www.scholarly-journals.com/SJAS.
ImageMengapa saya perlu memberikan ‘selamat’ kepada Nono Lee? Ada beberapa alasan. Pertama, kasus ini akan menjadi pencelik mata akademisi Indonesia tentang menjamurnya praktik-praktik yang mengangkangi integritas akademik. Kedua, kasus ini juga menjadi bukti bahwa tidak semua jurnal internasional menjalankan prinsip-prinsip integritas akademik. Hal ini memunculkan isu ‘jurnal abal-abal’, jurnal yang dengan topeng akademik dan open initiative, tetapi sebenarnya bertujuan sekedar mencari pemasukan dari handling fee (mengutip istilah yang mereka gunakan) yang dibebankan kepada penulis. Tentu ini tidak berarti semua jurnal yang mengutip handling fee selalu ‘abal-abal’, termasuk kedua jurnal di atas. Bisa jadi termuatnya kedua artikel di atas murni karena keisengan Nono Lee.

Kalau membaca beberapa bagian jurnal, seperti dalam bagian ‘acknowledgment‘, saya meragukan (tidak menuduh lho), artikel yang ditulis oleh Nono Lee tersebut telah melewati proses review dengan kualitas yang semestinya. Kita tidak tahu. Hanya saja, untuk akademisi atau peneliti yang mengetahui atau pernah terlibat dalam proses reviewing atau manajemen jurnal internasional, tentu akan sangat ‘mengangumi’ jika ada jurnal yang terbit mingguan dengan 10-15 artikel sekali terbit. Mirip dengan majalah berita mingguan. Jika proses review dijalankan dengan semestinya, nampaknya banyak editor dan pengelola jurnal internasional yang perlu belajar kepada jurnal ini. Mengapa? Jurnal tersebut dapat menarik sekian banyak artikel dan memprosesnya dalam waktu yang luar biasa cepat.

Andai saja kita bisa bertanya kepada Nono Lee, semuanya akan semakit jelas.

Sebaliknya, saya yakin Nono Lee telah melakukan ‘keisengan’ ini dengan serius. Betapa tidak, untuk menerbitkan artikel yang sama dalam kedua jurnal tersebut, paling tidak dia harus merogoh kocek sebesar 1200 dolar atau lebih dari Rp 10 juta. Tanpa ‘niat yang mulia’ saya yakin, seseorang akan berat melakukannya. Saya menduga, saat ini Nono Lee sedang mengulum senyum karena ‘keisengannya’ mendapatkan respon yang cukup ramai. “Horeee, aku berhasil!”, mungkin seperti itu teriaknya dalam hati. Ya, Nono Lee memang sudah berhasil mengusik banyak orang.

Nono Lee menulis untuk mendapatkan poin dalam rangka kenaikan jabatan akademik? Saya meragukannya. Pertama, lembaga yang digunakan fiktif. Tidak sulit disimpulkan, dalam menulis, dia ‘tidak berafiliasi’ dengan lembaga manapun. Kedua, saya yakin reviewer angka kredit yang membacannya saya yakin akan ‘mesam-mesem mengkel’, karena penulis pendampingnya yang merupakan ‘selebritas’.🙂

Mari kita lihat sisi positifnya. Kasus ini mengajak kita untuk kembali merenungkan integritas akademik. The Center for Academic Integrity (1999:4) mendefinisikan integritas akademik sebagai “a commitment, even in the face of adversity, to five fundamental values: honesty, trust, fairness, respect, and responsibility” (integritas akademik adalah komitmen, bahkan ketika dalam keadaan sulit, terhadap lima nilai dasar: kejujuran, kepercayaan, keadilan, penghargaan, dan tanggung-jawab). Komunitas akademik akan runtuh dengan sendirikan jika nilai-nilai ini terabaikan atau tergadaikan untuk kepentingan jangka pendek. Publikasi sebetulnya bukanlah tujuan. Orne (1981:4) merumuskan tujuan publikasi dengan sangat elegan, sebagai berikut:

I would urge you to write, not because it is a good thing, not because it is nice to see your name in print, not even because it is relevant to full membership in our society, but rather because you will really get to know a field only if you contribute to it. … Writing ultimately becomes important not only because of what it does for others but also for what it does for one-self“.

Tujuan mulia ini jauh dari ‘gaya-gayaan’, apalagi hanya sekedar mengumpulkan poin untuk kenaikan jabatan akademik. Jika tujuan ini dijadikan acuan utama, tidak jarang, integritas akademik akan menjadi taruhannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, dalam komunitas akademik beredar ‘gosip’ tentang menjamurnya ‘jurnal abal-abal’. Tentu saja kita tidak bisa serta merta menuduh bahwa kedua jurnal di atas adalah ‘abal-abal’, meskipun patut diduga bahwa keduanya mempunyai hubungan (sila perhatikan ‘template’ tulisan yang sangat mirip). Bisa jadi semuanya terjadi karena ‘kelihaian’ Nono Lee dalam ‘bermain’. Beberapa negara sudah merespon isu ini dengan serius. Sebut saja, misalnya di negara tetangga, Universitas Putra Malaysia telah menerbitkan daftar ‘jurnal abal-abal’. Tentu saja, daftar ini dapat semakin panjang sejalan dengan waktu dan terkuaknya ‘niat buruk’ para pengelola jurnal. Dalam berbagai pertemuan dengan akademisi Malaysia, indeks Scopus, SCI/SSCI, dan impact factor menjadi isu bagi mereka yang akan melakukan publikasi. Bahkan ketiga hal ini menjadi semacam protokol komunikasi portofolio antarmereka.

Beberapa negara yang lain memberikan peringkat untuk jurnal yang sudah mereka periksa kredibiltasnya. Misalnya, secara rutin (dua tahun sekali), Australian Research Council, menerbitkan peringkat jurnal di bawah The Excellence in Research for Australia (ERA) initiative yang melewati penilaian rekan sejawat. Untuk informasi lebih lanjut, sila periksa di sini: http://www.arc.gov.au/era/era_2012/era_2012.htm. Pemerintah Norwegia, contoh lain, melalui Norsk samfunnsvitenskapelig datatjeneste (NSD) membuat daftar jurnal dan merankingnya berdasar masukan dari komunitas akademisi secara nasional. Sila lirik di sini: http://dbh.nsd.uib.no/kanaler/. Basisdata ini bahwa juga merangkum jumlah publikasi yang ditulis oleh akademisi/peneliti Norwegia setiap tahun dalam jurnal yang bersangkutan. Ranking setiap jurnal bisa berubah, seiring dengan meningkatkan kualitasnya. Ini pun juga masukan dari komunitas akademik. Nampaknya inisiatif serupa belum terdengar di Indonesia.

Jika kasus Nono Lee dianggap serius, nampaknya pemerintah Indonesia harus meresponnya dengan cepat. Berbagai inisiatif yang telah dilakukan negara lain bisa diadaptasi. Sekali lagi, kalau dianggap serius. Kalau tidak, ya sudah, tidak usah terlalu banyak berharap. Untuk para akademisi, mungkin ada baiknya kembali meluruskan motivasi, dan memilih outlet publikasi yang sudah teruji kredibilitasnya. Kredibilitas bisa dilihat, misalnya, (meski tidak selalu) dari lembaga yang mengindeksnya, impact factornya, dewan redaksinya, kualitas artikel yang sudah diterbitkan, dan lembaga penerbitnya. Ingat, beberapa jurnal yang diindeks oleh Scopus dan bahkan mempunyai impact factor juga ditengarai sebagai ‘jurnal abal-abal’ dan dimasukkan ke dalam daftar hitam. Beberapa penerbit yang menggawangi sekitar 50 jurnal masuk ke dalam daftar hitam Universitas Putra Malaysia.

Jeffrey Beall, seorang pustakawan dari University of Colorado Denver meluangkan energi yang sangat cukup untuk mengkritisi praktik ‘jurnal abal-abal’ ini dan membuat daftar puluhan penerbit yang disebutkan sebagai ‘potential, possible, or probable predatory scholarly open-access publishers’. Yang tertarik sila, lirik daftarnya di sini. Daftar ini memuat 244 penerbit ‘predator’ dengan puluhan judul jurnal per penernit dan 126 jurnal. Jika ditotal secara keseluruhan, tidak sulit menemukan lebih dari 2500 jurnal yang patut  diduga ‘abal-abal’. Daftar kriteria yang dibuat oleh Beall dalam menentukan penerbit yang masuk ke dalam daftar tersebut dapat dilirik di sini. Anda boleh setuju, boleh tidak. Tentu saja, hal ini masih bisa diperdebatkan. Tetapi, kalau toh salah, ijtihad telah dilakukan.

Memang mengirim artikel ke jurnal yang sudah bereputasi tinggi tidak mudah. Ada cucuran keringat dan kadang ‘cucuran air mata’ di sana. Jurnal-jurnal baru yang kredibel bisa juga menjadi pilihan. Jurnal tersebut mungkin sekarang belum mempunyai reputasi, tetapi jika jurnal tersebut memang dikelola dengan serius tanpa mengorbankan integritas akademik, tidak jarang dalam beberapa tahun kemudian, berubah menjadi jurnal yang bergengsi. Diskusi sesama akademisi juga tidak haram dilakukan sebelum mengirim artikel.

Mari kita mulai dan belajar bersama-sama!

Catatan: Entri diperbaharui dan dikembangkan pada 17 Desember 2012

Referensi

Orne, M. T. (1981). The why and how of a communication to the literature. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 29, 1-4.

The Center for Academic Integrity (1999). The Fundamental Values of Academic Integrity. Durham, North Carolina: The Center for Academic Integrity.

9 comments
  1. kalau ada jurnal abal-abal, tentunya juga ada profesor/doktor abal-abal ya

    • Fathul Wahid said:

      Kalau sudah menyangkut personal, saya cenderung hati-hati Bu Ranny. Yang penting kita mulai dari menjaga diri kita Bu.

  2. santi indra astuti said:

    Terimakasih, info ini sangat bermanfaat. Semoga berkenan untuk share hasil pelacakan lainnya…

    • Terima kasih Bu Santi telah mampir. Salam kenal dan takzim dari saya Bu. Jadi kangen Bandung Bu, tos lami teu ka Bandung.🙂

  3. Agung S said:

    Asalamualaikum bpk, Fathul … saya menjadi tertarik untuk menulis artikel atau jurnal,,setelah di beri wacana dari pembimbing saya,, tetapi saya sedikit khawatir mengenai publikasi, apakah ada trik dan tips mengenai publikasi jurnal atau artikel sehingga tidak di cap artikel “Abal – Abal” seperti yang di sampaikan ibu Ranny diatas,, terimakasih,,

  4. Muh. Aliyazid Mude said:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Salam sukses selalu, pak fathul. Saya mengharapkan pak. agar nanti suatu saat banyak tulisan dari orang-orang dari dalam negari kita indonesia yang memenuhi jurnal-jurnal internasional yang mengambil referensi dari blok ini termasuk saya pak Olehnya itu saya menyarankan di blok ini pak ada topik tentang trik tulisan layak publikasi internasional disertai jurnal yang pernah lolos publikasi internasional yang terbaru dan pastinya sudah terseleksi oleh pak fathul . agar kami bisa jadikan rujukan dan motivasi pak . Atas bantuannya diucapkan terimakasih.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumusaalam warahmatullahi wabarakatuh Mas Aliyazid, Terima kasih untuk doanya.

      Harapan saya menulis blog ini tidak muluk-muluk Mas. Saya hanya ingin berbagi sedikit yang saya alami. Senang kalau ‘diari’ saya ini ada manfaatnya, meskipun sedikit.

      Kalau contoh artikel yang lolos publikasi terlalu banyak Mas, ratusan juta contoh.😉 Lagian kalau saya posting di sini, nanti saya bisa kena masalah pelanggaran hak cipta. Hehehe. Cara gampang, Mas Aliyazid, bisa lakukan pencarian di scholar.google.com, dan lihat sudah berapa kali artikel tersebut dikutip. Artikel yang buruk tidak akan dikutip orang, dan sebaliknya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: