Arsip

Monthly Archives: November 2012

Pada entri sebelumnya, kita diskusikan kelebihan dan kekurangan outlet publikasi, baik jurnal maupun konferensi. Entri ini akan memberikan gambaran, bagaimana memilih jurnal atau konferensi yang menjadi tujuan publikasi.

Tentukan ekspektasi! Apakah kita akan mengirimkan artikel ke jurnal atau konferensi kelas satu (first tier) atau yang lain? Penentuan ekspektasi ini mempunyai konsekuensi, mulai dari peluang diterimanya artikel (termasuk tingkat kekritisan review) sampai waktu tunggu untuk review dan terbit. Konsekuensi pertama berlaku baik untuk jurnal maupun konferensi, sedang yang kedua khusus untuk jurnal. Read More

Iklan

Seperti biasa, saya ingin mengawali entri ini dengan tiga cerita. Pertama, pada akhir 2008, istri saya dan pembimbing S3-nya mengikuti konferensi di Bali. Mereka mempunyai artikel bersama yang dipresentasikan. Di sela-sela konferensi, si pembimbing mengatakan ke istri saya, “Saya belum melihat ada yang menggunakan teori dalam studinya”. Padahal dalam presentasi banyak dipaparkan penelitian sebelumnya.

Cerita kedua tentang presentasi saya di Electronic Govenment conference awal September 2012. Hasil literature review saya menunjukkan bahwa hanya sekitar 14% (dari 108) artikel tentang eGovernment di negara berkembang yang menggunakan teori. Review saya lakukan pada publikasi mulai 2005 sampai 2011. Temuan sebelumnya pada tahun 2006 (Heeks and Bailur, 2007) bahkan lebih ‘menyedihkan’. Hanya satu dari 84 artikel yang menggunakan teori. Angka 14% yang saya sampaikan pun masih dikomentari oleh salah satu peserta: ‘cukup bagus itu’. Dia mensinyalir di ranah penelitian lain, bahkan persentasenya lebih rendah.
Read More

Ketika menulis entri blog ini, saya teringat dua kejadian masa lampau. Pertama, ketika mengikuti kelas metode penelitian kualitatif bersama dengan Ann Langley di Norwegian School of Economics and Business Administration (NHH) di Bergen pada Februari 2011. Di salah satu sesi tentang melakukan observasi kita diminta untuk menonton sebuah film yang dibuat pada tahun 1957. Judulnya adalah ‘12 Angry Men‘, dua belas orang marah. Film yang sangat menarik untuk dijadikan materi pembelajaran sesi observasi. Dalam kelompok berempat, kami diminta untuk melakukan analisis terhadap beragam aspek. Tentu tidak dari sisi sinematografi, tetapi dari aspek yang terkait dengan cerita di fim tersebut, misalnya terkait dengan negosiasi dan komunikasi antaraktor sepanjang film. Setting sebagian besar film hanya di sebuah ruangan yang melibatkan 12 juri pengadilan untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak. Saya tidak akan bercerita lebih banyak tentang film ini, di mana Henry Fonda bermain sangat brilian.

Kejadian kedua pada akhir September 2012, ketika saya juga mengikuti seminar terbatas (mereka menyebutnya conversation series) di Copenhagen Business School (CBS) yang bertajuk ‘Future of organization studies: The role of images (verbal and visual) in organization research‘. Salah satu  hal menarik yang dibahas dalam seminar itu adalah contoh pengumpulan data yang melibatkan kamera video untuk merekam informan ketika menjawab pertanyaan dalam wawancara. Gerakan atau gesture informan dapat memberikan banyak informasi tambahan dalam analisis, dibandingkan ketika misalnya hanya direkam suaranya atau bahkan ‘hanya’ dicatat, meskipun secara ekstensif. Read More

Beberapa hari yang lalu saya membaca, atau lebih tepatnya memindai dengan cepat, sebuah artikel yang diterima di sebuah konferensi internasional. Terus terang saya ‘geleng-geleng kepala’ ketika membacanya. Bukan karena topiknya tidak menarik, tetapi kualitas penulisannya yang menurut saya masih perlu diperbaiki, terutama pada bagian metodologi. Yang saya baca di sana adalah parade definisi tanpa argumen mengapa sebuah metode atau teknik dipilih. Bahkan definisi apa itu wawancara dituliskan. Kalau saya reveiwernya, artikel ini kemungkinan besar saya mintakan untuk revisi besar dan kalau banyak artikel lain yang lebih bagus, ditolak. Halah, nggaya. 🙂

Walsham (2006: 327) memberikan komentar yang menarik untuk bagian metodologi ini: “You won’t get a paper published in a good journal just because you have a well-written methodology section. However, you might get a paper rejected by a good journal because your methodology section is weak.”

Saya tidak akan membahas apakah istilah yang benar, untuk bagian ini, metodologi atau metode. Saya temukan keduanya digunakan dalam artikel jurnal, dan saya tidak ingin terjebak pada diskusi istilah. Lha, biasanya yang hobinya ‘ngeyel’  dalam mendiskusikan istilah ini juga jarang melakukan publikasi. 🙂 Read More

Survei menggunakan kuesioner sebagai instrumen adalah salah satu metode pengumpulan data paling populer dalam penelitian positivis. Penelitian positivis biasanya melibatkan proposisi formal, variabel yang dapat dikuantifikasi, dan pengujian hipotesis (Orlikowski dan Baroudi, 1991). Metode ini terlihat sederhana, dan karenanya sering disepelekan. Kenyataanya tidak demikian.

Berdasar pengalaman sedikit saya dalam membaca dan mereview artikel jurnal atau konferensi, saya menemukan beragam isu yang bisa didiskusikan. Setiap isu ini hanya akan didiskusikan dengan singkat dan disertai dengan ilustrasi praktik.

Pertama, penelitian positivis biasanya mengembangkan model penelitian yang menggambarkan hubungan antarvariabel. Penelitian seringkali membangun model dengan memasukkan variabel dari beragam sumber (e.g., teori, model, konsep, dan lain-lain). Masalah yang sering saya temukan adalah lemahnya argumen yang digunakan ketika membangun model. Variabel yang biasanya direpresentasikan dalam bentuk ‘kotak’ dalam model seringkali berasal dari sumber lain yang mempunyai asumsi berbeda-beda ketika dikembangkan. Proses ini menurut saya mirip dengan masalah menggabungkan beragam ‘lensa teorietis’ ke dalam sebuah penelitian (Okhuysen dan Bonardi, 2011). Ada berbagai pertimbangan yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah kedekatan ‘lensa’ yang akan digunakan, termasuk asumsi dasar yang digunakan ketika ‘lensa’ tersebut dikembangkan . Sebagai contoh, memasukkan variabel yang didasari oleh teori yang mengandaikan bahwa ‘manusia selalu rasional’, dan lainnya yang didasari oleh teori yang mengasumsikan bahwa ‘manusia tidak selalu rasional’, memerlukan argumen yang kuat. Read More