Menulis kesimpulan

Ketika mengirimkan artikel ke sebuah jurnal, salah satu komentar yang saya terima dari reviewer adalah ‘offer conclusions and NOT a summary‘ (‘NOT’ ditulis dengan huruf kapital). Adakah yang salah dengan bagian kesimpulan yang saya tulis? Saya buka kembali bagian tersebut. Aha! Setelah diperbaiki, termasuk juga bagian lain sesuai dengan saran reviewer, artikel tersebut akhirnya diterima untuk dipublikasikan di Transforming Government: People, Process and Policy (forthcoming).

Tidak jarang menulis bagian kesimpulan cukup sulit. Jangan sampai bagian ini menjadikan artikel ke fase anti-klimaks. Seharusnya bagian ini ditutup dengan ‘a good unbeat ending‘ (Walsham, 2006). Ingin tahu kalimat terakhir Walsham (2006) dalam bagian kesimpulan? ‘However, whether you like the paper is your choice, and not within my control‘ (Walsham, 2006: 329). Untuk dapat menulis kalimat dengan kepercayaan tingkat tinggi ini, nampaknya kita perlu membuktikan bahwa kita mempunyai legitimasi untuk melakukannya.🙂

Bagaimana seharusnya bagian kesimpulan ditulis? Trzeciak and MacKay (1994) memberikan resep menulis bagian kesimpulan. Resep ini tentu saja dapat diadaptasikan sesuai dengan konteks penulisan. Menurut mereka, bagian kesimpulan berisi (seperti biasa, saya tambahkan interpretasi dan ilustrasi untuk memperjelas):

1. Ringkasan temuan penelitian. Jangan menuliskan sesuatu yang tidak pernah dibahas di bagian sebelumnya. Namun sebaliknya, perlu diperhatikan, bagian ini seharusnya tidak mengulang sama persis dengan apa yang sudah dituliskan sebelumnya di bagian analisis atau diskusi.

2. Deduksi atau pengambilan kesimpulan dari uraian sebelumnya. Jangan menarik kesimpulan dari apa yang tidak pernah disinggung atau didiskusikan sebelumnya. Kadang ketika mereview artikel, saya temukan kesimpulan yang sepertingnya ‘sudah disiapkan’ sebelum penelitian dilakukan. Kesimpulan bukan ringkasan dari telaah literatur yang Anda lakukan (kecuali artikel yang kita tulisan adalah ‘literature review’), tetapi berpijak dari penelitian yang dilakukan.

3. Opini personal terkait dengan temuan yang didiskusikan. Tentu saja opini yang argumentatif. Pembimbing seorang kawan menyarankan untuk melakukan semacam ‘spekulasi’ di bagian ini. Mengapa ini perlu? Tidak jarang temuan penelitian membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengapa misalnya, hasil penelitian tidak seperti yang diduga sebelumnya. Penjelasan spekulatif, tetapi tetap argumentatif, diperlukan. Tambahkan penjelas bahwa spekulasi yang diberikan membutuhkan validasi lebih lanjut.

4. Jangan lupa sebutkan keterbatasan penelitian yang kita lakukan. Keterbatasan seharusnya dikaitkan dengan proses penelitian yang dijalankan, dan tidak ‘ujug-ujug’ dimunculkan. Keterbatasan dapat terkait dengan teori yang digunakan, metode yang diaplikasikan, atau pun terkait dengan generalisasi hasil penelitian. Keterbatasan ini akan menjadi dasar untuk bagian selanjutnya.

5. Berikan ilustrasi atau saran penelitian lanjutan yang bisa dilakukan. Saran ini biasanya merupakan respon dari keterbatasan yang diuraikan sebelumnya.

6. Tuliskan implikasi penelitian. Secara umum, implikasi dapat dikelompokkan menjadi dua: implikasi praktik dan implikasi teoretik. Implikasi praktik terkait dengan relevansi hasil penelitian untuk para praktisi. Implikasi ini dapat maujud dalam beragam bentuk, seperti metode baru dan serangkaian prinsip yang bisa digunakan oleh praktisi. Implikasi teoretik terkait dengan konstribusi penelitian dalam pengembangan atau validasi teori.

7. Fakta atau data penting lainnya yang tidak muncul dalam uraian sebelumnya. Terus terang saya agak kurang ‘sreg’ dengan saran ini. Namun bisa jadi yang dimaksudkan adalah fakta penting yang dapat menguatkan argumen kita. Tetapi mengapa harus di bagian kesimpulan dan tidak di bagian diskusi atau bahkan analisis?

Tentu saja, dari ketujuh bagian tersebut, kita bisa meramu semuanya menjadi satu, atau bahkan menekankan pada bagian yang satu dengan mengurangi pada bagian yang lain. Salah satu alasanyanya adalah kadang ruang yang disediakan sangat terbatas untuk mengelaborasi semua bagian dengan cukup detil. Beberapa jurnal membatasi jumlah kata maksimal 5000 atau bahkan 3000. Beberapa jurnal yang lain cukup baik hati dengan mengakomodasi artikel yang lebih panjang. Jika demikian, misalnya, bagian ringkasan temuan dapat diabaikan, dan penekanan diberikan pada bagian lain. Persis seperti membuat masakan, akankah kita buat lebih pedas atau lebih asin?Atau mungkin kita mengatur kembali urutan dalam memasak untuk menghasilkan cita rasa yang diinginkan. Siapa yang akan menikmati masakan tersebut seringkali menjadi dasar pilihan. Begitu juga dengan artikel. Jurnal dengan sasaran praktisi, seperti MIS Quarterly Executive atau Communication of ACM, misalnya implikasi praktik penelitian sangat ditekankan. Berbeda halnya dengan jurnal yang berfokus pada pengembangan teori, seperti Academy of Management Review atau Administrative Science Quarterly; kontribusi teoretik nampaknya lebih menarik untuk ditampilkan.

Referensi

Trzeciak, J., dan MacKay, S. E. (1994). Study Skills for Academic Writing. New York: Prentice Hall.

Walsham, G. (2006). Doing interpretive research. European Journal of Information Systems, 15, 320-330.

12 comments
  1. Budi Suhendro said:

    terima kasih atas pencerahannya, dan salam kenal dari saya Pak Fathul. berkenaan dengan penulisan kesimpulan, saya sangat setuju dengan tulisan bapak, tetapi ada beberapa yang ingin saya tanyakan:
    1. kaitannya dengan kesimpulan, ada beberapa peneliti ditempat saya yang mengharuskan memasukan cuplikan kalimat dari dasar teori, apakah ini diperbolehkan?
    2. Bolehkah Kesimpulan yang dibuat hanya diambilkan dari pembahasan?
    3. Jika memang ternyata kesimpulan yang kita buat hanya 1/2 halaman, padahal tulisan laporan cukup banyak, apakah hal ini diperbolehkan?
    Demikian pertanyaan dari saya Pak. Mohon tanggapannya.

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih juga Pak Budi sudah mampir.
      1. Kadang memang yang kita lakukan mengikuti pedoman yang ada Pak. Jadi tidak masalah kalau memang pedomannya seperti itu. Kita ikuti saja. Kalau nanti laporan dipublikasikan dalam bentuk artikel jurnal, misalnya, kita ikuti pedoman yang lain.
      2. Menurut saya seharusnya dalam artikel tidak ada bagian yang berulang. Kesimpulan harus bisa dirujuk ulang ke pembahasan, tetapi bukan hanya rangkuman pembahasan. Ada proses inferensi ‘naik satu tingkat’ yang menghubungkan ‘antar titik’ dalam pembahasan. Seringkali kita memang terlalu bersemangat menuliskan kesimpulan dalam pembahasan, dan karenanya sewaktu menulis kesimpulan sudah kehabisan ‘ide’ dan ‘energi’. Nampaknya tantangan di sini adalah membedakan mana yang seharusnya ditulis dalam ‘temuan’, ‘diskusi’ atau ‘pembahasan’, dan bagian ‘kesimpulan’. Mudah-mudahan entri lain dalam blog ini tentang ketiga bagian ini bisa membantu pak.
      3. Prinsipnya, kalau bisa pendek mengapa harus panjang. Nah, dalam kasus pembahasan yang panjang kok kesimpulan pendek, ada dua pertanyaan saya: apakah pembahasan yang tidak fokus sehingga panjang, ataukah mungkin ada haknya kesimpulan yang masuk ke bagian pembahasan.

      Mudah-mudahan sedikit membantu Pak.

      • Budi Suhendro said:

        Terima kasih atas penjelasannya pak, semoga dengan penjelasan ini menjadikan saya lebih fokus dalam membuat kesimpulan dari penelitian2 yang saya kerjakan. dan saya mendoakan, semoga pak Fathul selalu diberikan kesehatan baik jasmani dan rohani sehingga selalu dapat memberikan pencerahan kepada banyak insan khususnya dinegeri tercinta kita ini. dan sekali lagi terima kasih.

  2. Bagus Muhammad Akbar said:

    Terima kasih pak atas tulisannya, sangat membantu saya sekali. Sekarang saya mengerti cara untuk membuat suatu kesimpulan yang baik. Namun saya ada pertanyaan pak yaitu

    1. Apakah Rumusan masalah itu sebaiknya dijawab di pembahasan atau kesimpulan pak?
    2. Bolehkah ada kalimat di kesimpulan yang mengutip dari literatur review pak?
    3. bagaimana cara dalam meramu kesimpulan seperti yang disebutkan diatas namun tidak terjadi perulangan misal dalam pembahasan atau analisis?

    terima kasih.

    • Fathul Wahid said:

      Senang kalau tulisan saya ada manfaatnya Mas. Ini jawaban versi saya.
      1. Selama ini, mulai dari pembahasan rumusan masalah dijadikan acuan. Kesimpulan adalah ‘highlight’nya. Bahkan dalam merumuskan metode penelitian juga didasari kesadaran untuk menjawab rumusan masalah.
      2. Kesimpulan harusnya didasarkan dari hasil penelitian. Kutipan dapat digunakan untuk menguatkan. Kalau kesimpulan sudah didapatkan dari literatur, mengapa melakukan penelitian?
      3. Pembahasan seperti Anda menceritakan film yang baru saja ditonton dalam durasi lama (misal 15 menit). Kesimpulan, apa yang Anda ceritakan dalam waktu 2 menit. Dalam bagian temuan, Anda ceritakan yang ditemukan, tanpa analisis/pembahasan; dalam pembahasan, Anda ‘naik satu tingkat’ melihat pola/pelajaran/esensi dan sejenisnya; dalam kesimpulan: ada sambungkan pelajaran tersebut (jadi …..).

      Mudah-mudahan membantu.

  3. Ass…Makasih bapak atas tulisannya semoga berkah & barokah ilmunya….maaf bapak terkait dengan kesimpulan, saya ada pertanyaan mengenai :

    1. Apakah kesimpulan selalu merupakan jawaban dari rumusan masalah dan tujuan penelitian ?dan bagaimana kalau kesimpulan belum menjawab perumusan masalah
    2. Adakat keterkaitan manfaat penelitian dengan kesimpulan ?

    Terimakasih

    • Fathul Wahid said:

      Mas Nuril, betul seperti yang njenengan tulis, kesimpulan seharusnya menjawab pertantaan penelitian/rumusan masalah. Kalau belum terjawab, berarti ada yang salah dalam proses penelitiannya, ada belum selesai. Atau, bisa jadi kita perlu ubah rumusan masalahnya.

      Manfaat penelitian, dalam bayangan saya, adalah implikasi penelitian untuk beragam pihak: akademisi, praktisi, dan pengambil kebijakan. Bisa salah satu, bisa semuanya. Ini tidak bisa dilihat hanya dari kesimpulan.

  4. Makasih pak artikelnya jujur saja kemaren waktu skripsi saya sempat membaca dan mempraktekan artiekl bapak. dan alhamdulillah sangat bermanfaat. hanya saja masih ada pertanyaan pak berkaitan penarikan kesimpulan. Pernah membca dan juga mendengar kalo setiap kesimpulan yang kita tulis harus ada pembuktian entah bisa jadi hasil matematis atau statistis jadi kesimpulan meskipun bersinggungan dengan yang kita bahas namun jika tidak ada pembuktian bukan merupakan kesimpulan yang baik.. nah yang saya mau tanyakan itu . apakah itu benar pak? dan jika benar seberapa jauh pembuktian bisa dilakukan untuk menguatkan kesimpulan kita, bahkan jika ada suatu metodenya, apa yang dipakai

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih Mas Fadil.

      Tergantung jenis penelitiannya Mas. Tidak semua penelitian melibatkan hal yang berbau statistik dan matematik. Kesimpulan juga tergantung dengan rumusan masalah yang dibuat.

  5. Itqan Mazdadi said:

    Terimakasih atas artikel ini pak, selama ini kadang sebagian orang mungkin menyepelekan bagian kesimpulan,
    yang penting kesimpulan sudah menjawab rumusan masalah, ternyata setelah saya membaca artikel ini, menulis kesimpulan memiliki esensi tersendiri tentang hal hal yang disajikan.
    terkait hal … saya ingin bertanya pak,
    bolehkan dalam kesimpulan kita menyisisipkan gambar, atau diagram,? karena kadang ada beberapa hal yang lbih ringkas jika kita cantumkan dalam bentuk gambar atau diagram dan sejenisnya.
    terimakasih🙂

    • Fathul Wahid said:

      Mas Itqan. Boleh saja Mas menampilkan gambar atau diagram. Hanya saja, jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak pernah dibahas di bagian sebelumnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: