Penelitian kontraintuitif

Nampaknya sudah sangat lama saya tidak menambah entri blog ini. Aha, ternyata, entri terakhir saya tulis lebih dari tiga tahun lalu, tepatnya 11 Januari 2014. Ini mengindikasikan banyak hal: (a) menjaga semangat tidaklah mudah; (b) ide yang bermakna pun tidak datang setiap saat, dan (c) melepaskan diri dari rutinitas juga pekerjaan yang menantang.

Terlepas dari itu, entri ini terkait dengan menyikapi temuan penelitian yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau kontraintuitif (counterintuitive).

Pertama, topik penelitian sendiri seharusnya memang kontraintuitif. Kalau sebuah fenomena sudah intuitif, dan diterima dengan mudah tanpa debat, mengapa harus diteliti. Ini sama halnya mencari jawab atas pertanyaan yang semua orang sudah tahu jawabnya. Karenanya, ide penelitian selain berasal dari kesenjangan pengetahuan (gap spotting), juga dapat berasal dari problematisasi (problematization) (Alvesson & Sandberg, 2011). Problematisasi adalah menantang pemahaman yang dianggap sudah mapan. Ini jelas kontraintuitif.

Dengan iseng saya gunakan Google Scholar mencari penelitian dengan kata kunci “counterintuitive”. Eng ing eng, ternyata saya temukan 184.000 entri. Contoh beberapa judul adalah counterintutive behaviour, counterintutive narratives, counterintutive approach, counterintutive effect, counterintutive results, dan counterintutive consequence. Ini adalah argumen yang dijual kepada pembaca, kontribusi yang ditawarkan. Dalam membuat tulisan, pastikan bahwa kita mempunyai argumen yang dijual. Argumen ini akan semakin menarik dan tinggi keterjualannya ketika semakin menantang pemahaman yang telah mapan.

Kedua, penelitian dengan temuan kontraintuitif tidak selalu didesain di awal.Tidak jarang penelitian menghasilkan temuan yang tidak diharapkan sebagai diprediksi di depan. Ini bentuk kontraintuitisi yang lain. Pertanyaannya: apakah ini musibah atau berkah? Jawabannya tentu tergantung. Ketika kita tidak mendapatkan penjelasan yang mendukung temuan tersebut, kita mungkin dalam masalah. Sebuah musibah. Biasanya, peneliti seakan-akan menyembunyikan temuan ini dan tidak mengelaborasinya lebih jauh.

Sebaliknya, jika kita dapat mengidenfikasi penjelasannya, seharusnya temuan kontraintuitif menjadi berkah. Banyak contoh dalam dunia nyata, ketika temuan yang bersifat kontraintutif mengubah wajah dunia. Taleb (2007) menyebutnya the black swan, angsa hitam. Menurut pemahaman awam, warna angsa adalah putih. Apa yang terjadi ketika pencarian ternyata menemukan angsa hitam? Angsa hitam adalah metafor dari konsekuensi dari sesuatu yang tidak didesain atau diharapkan di awal. Siapa sangka, misalnya, Facebook telah mengubah wajah dunia. Zuckerberg sendiri, sang pembesutnya, bisa jadi tidak pernah membayangkan sebelumnya. Ketika pengetahuan sebelumnya mengasumsikan bahwa manusia dapat diprediksi karena dianggap rasional, Ariely (2011) justru menulis buku berjudul “Predictably Irrational”.

Serupa dengan itu, bentuk angsa hitam lain adalah temuan penelitian yang tidak diprediksi sebelumnya. Jika Anda adalah penelitinya, seharusnya Anda melakukan sujud syukur. Ini adalah peluang yang baik. Ini adalah kandidat argumen yang bisa Anda jual dalam tulisan. Ini bisa jadi menjadi temuan yang mencelik mata peneliti lain.

Anda tidak setuju? Bisa jadi, Anda adalah angsa hitam lainnya 😉

Referensi

Alvesson, M., & Sandberg, J. (2011). Generating research questions through problematization. Academy of Management Review, 36(2), 247-271.
Ariely, D. (2009). Predictably Irrational. London: HarperCollins.
Taleb, N. N. (2007). The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable. New York: Random House.

Timoho, pagi 9 September 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
1 comment
  1. Susana Yovita said:

    terimakasih atas postingan tsb. Sangat membangun semangat baru saya utk menemukan ide baru dlm penelitian sy yg harus memiliki dimensi kontraintuitif 😇

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: