Mencari motivasi

“I would urge you to write, not because it is a good thing, not because it is nice to see your name in print, not even because it is relevant to full membership in our society, but rather because you will really get to know a field only if you contribute to it. … Writing ultimately becomes important not only because of what it does for others but also for what it does for one-self” (Orne, 1981, p. 4).

Sudah lama dipercaya jika motivasi atau niat akan menentukan proses untuk mencapai sebuah tujuan. Kutipan di atas memberikan ilustrasi beberapa pilihan motivasi dalam menulis untuk publikasi ilmiah. Tanpa motivasi yang tepat, nampaknya agak sulit untuk mengalokasikan waktu dan energi serta menjaga konsistensi. Apapun motivasi yang dipilih, pastikan motivasi tersebut dapat memberikan bahan bakar untuk perjalanan yang panjang.

Publikasi ilmiah, apalagi untuk jurnal internasional, bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam seminggu, sebulan, atau bahkan setahun. Tidak jarang penulis “dipaksa” untuk menjaga stamina dalam sebuah reli panjang selama proses penelitian, pengiriman manuskrif, proses revisi yang sangat mungkin tidak sekali, sebelum akhirnya dipublikasikan di jurnal. Waktu yang dibutuhkan tidaklah singkat. Beberapa tulisan bahkan baru muncul dalam sebuah jurnal bergengsi setelah melalui proses selama empat tahun sejak dikirim! (Mingers, 2002).

Dalam tradisi akademik Amerika terdapat slogan ‘publish or perish‘, melakukan publikasi atau hancur. Tekanan untuk melakukan publikasi di sana sangat kuat. Di Indonesia, tekanan tidak sebesar di Amerika. Bahkan seringkali kualitas jurnal internasional tujuan publikasi pun tidak diperhatikan. Untuk mendapatkan gambaran posisi Indonesia dalam peta akademik global dilihat dari jumlah publikasi internasional, sila klik di sini.

"Most scientists regarded the new streamlined peer-review process as 'quite an improvement'". Sumber: Lyytinen dan Saunders (2011)

Ilustrasi pembuka ini tidak untuk menciutkan nyali, tetapi justru untuk mempersiapkan diri sebagai pribadi yang berani mengambil risiko dan gigih.

Referensi

Lyytinen, K., dan Saunders, C. (2011). Improving Your Publication Strategy. Tersedia daring di http://tinyurl.com/6q7nlcb

Mingers, J. (2002). The long and winding road: Getting papers published in top journals. Communications of the Association for Information Systems, 8 (Article 22).

Orne, M. T. (1981). The why and how of a communication to the literature. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 29, 1-4.

17 comments
  1. M. Bhanu S said:

    Ada beberapa hal yang saya sepakat mengenai rendahnya publikasi jurnal internasional di indonesia di sebabkan beberapa hal diantaranya :
    1. Alokasi dana untuk penelitian yang terbatas, sehingga mau mengembangkan suatu penelitian tidak bisa maksimal.
    2. Rendahnya reward “koin” untuk peneliti, ada baiknya juga untuk reward bisa di tingkatkan, sehingga bisa menjadi motivasi bagi peneliti atau dosen untuk menemukan hal-hal baru di bidang pengetahuan, dll yg telah di paparkan oleh penulis.

    Ada satu hal yang bisa jadi pertimbangan kenapa publikasi internassional di indonesia kalah jauh dibandingkan negara tetangga :
    1. Ada kemungkinan jadwal mengajar untuk dosen di indoensia terlalu banyak, sehingga waktu yang dialokasikan untuk melakukan penelitian terbatas. Menurut info dari temen yang kuliah di luar negri, para dosen yang fokusnya penelitian di bebani jam mengajar sedikit agar bisa fokus dalam penelitiannya.
    2. Kita harus akui bahwa bahasa inggris masih menjadi kendala, sehingga sedikit banyak menjadi sandungan dalam menulis jurnal internassionla.

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih Mas Bhanu untuk komentarnya. Memang beban dosen di Indonesia sangat luar biasa. Tetapi, saya ingin melihat potret yang positifnya: beberapa kolega yang dengan beban kerjanya lebih berat, tetapi tetap bisa penelitian, menulis buku, dan publikasi. Tetapi banyak juga kolega yang banyak meluangkan waktu untuk ngeles, dan kehabisan waktu untuk penelitian dan publikasi. Dua potret ini adalah fakta sosial di Indonesia. Kira-kira kenapa ya?

  2. Ana Yulianti said:

    Pak fathul, kesulitan memperoleh data saya temui saat ini, apa lagi ini menyangkut data rumah sakit, kata teman “mana ada organisasi yang mau memberikan datanya”🙂, saya bilang “penelitian ini kan untuk kemajuan organisasi tersebut”, trus kata teman saya “hasil penelitianmu tidak akan dipakai rumah sakit tersebut”, fakta ini membuat saya jadi sedikit down, padahal ini penelitian pertama saya, yang ingin saya tanyakan, kesulitan memperoleh data ditemui juga gak pak di luar negeri? trus hasil peneneltiannya dipakai apa gak?Bagaimana perbandingannya dengan di Indonesia?

    • Fathul Wahid said:

      Mbak Ana, itu tantangan. Karenanya yang terpenting adalah membangun kepercayaan. Informan yang baik berpikirnya tentu bukan ‘saya dapat apa?’, tetapi ‘apa yang bisa saya berikan?’. Karena yang mendapatkan manfaatnya bukan RS itu, misalnya, tetapi komunitas ilmiah, dan lembaga (termasuk RS) lain. Soal dipakai atau tidak, harus dipahami, bahwa penelitian ilmiah berbeda dengan penelitian bisnis dalam beberapa aspek. Sila lirik di sini Mbak, http://menjadidosen.wordpress.com/6-indahnya-meneliti/6-3-relevansi-penelitian/

      Kalau masalah, nampaknya tidak jauh berbeda Mbak. Kalau memang terdapat data sensitif, buat perjanjian, kalau nama RS dibuah anonim. Untuk beberapa kasus, bahkan di luar negeri, hasil penelitian dikenai embargo selama beberapa tahun sebelum bisa diakses oleh publik. Praktik ini setahu saya di Indonesia belum ada.

  3. Ana Yulianti said:

    Waaah jadi SEMANGAT lagi neh pak, saya setuju dengan “Informan yang baik berpikirnya tentu bukan ‘saya dapat apa?’, tetapi ‘apa yang bisa saya berikan?’”, berarti pendekatan ke informan juga penting ya pak🙂, makasih pak infonya, saya terima tantangannya🙂

  4. adanya sebuah motivasi dengan kondisi yang baru memberikan semua pekerjaan terasa mudah dan senang dalam menjalaninya ,tp membangun semngat yang kadang kita kesulitan mungkin kita bisa membaca2 kata2 motivasi dengan itulah kita akan bisa lebih berkarya..kasih smgatnya pak … (setiap penulis akan mati, hanya karyanyalah yang abadi maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti —ali bin abi tholib )

  5. Assalaamu’alaikum.. Pak Fathul.. semoga sehat selalu, saya mau menanyakan apakah terlalu naif ketika motivasi kita menulis bahkan publikasi internasional adalah untuk memperbaiki kondisi disekitar kita ya Pak Fathul..? motivasi saya kok masih disekitaran itu Bapak, mohon bimbingannya, terlebih jika ingin dikaitkan dengan tugas Thesis sekolah S2 yang akan saya jalani, mungkinkah sekali menulis bisa untuk dipublikasikan kemana-mana, terimakasih sebelumnya

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Uji. Apapun motivasinya, menurut saya, tidak ada masalah kok, selama mampu memberikan daya dorong untuk berbuat baik. Bahkan secara ekstrim (maaf sedikit OOT), sering saya contohkan, kalau rajin sholat karena ada mertua juga tidak apa-apa, asal sementara. Nanti motivasi akan berubah dengan sendirinya ke arah yang seharusnya. Ini menurut saya lho. Hehehe. Publikasi internasional juga tidak wajib, bahkan untuk dosen atau profesor sekalipun.

      Kalau menulis sekali dikirim ke mana-mana jelas tidak boleh Mas, kecuali ada keterangan tentangnya (dan pengalihan hak cipta jika diperlukan). Kira-kira begitu Mas Uji. Ada pendapat lain?

  6. Sukriadi said:

    Assalaamu Alaikum WR.WB. Yang terhormat Pak Fathul. semoga selalu dalam lingdungan Allah SWT.
    Beberapa hal yang saya mau sampaikan mengenai kurangnya jurnal internasional di indonesia:
    1. Pemerintah kurang memberikan ruang dan penghargaan bagi para peneliti, Pada dasarnya dana tidak menjadi kendala utama, Tapi hambatan yang akan ditemui pada saat penelitian atau dilapangan serta fasilitas, komunitas, dan literature.
    2. Masing-masing peneliti di lembaga penelitian di Indonesia kebanyakan hanya bekerja sendiri-sendiri tanpa adanya sinergi untuk memfokuskan pada satu bidang yang diteliti.

    Oh iyya Pak, Sekedar saran, Bisah gh ditambahkan Motivasinya dalam versi indonesia, Maksudnya sumbernya dari Indonesia.
    Terimakasih sebelumnya

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Sukriadi, Terima kasih untuk doanya. Doa yang sama untuk Mas Sukriadi.

      Terima kasih juga untuk tambahannya. Saya 100% setuju Mas. Masalah ini pernah saya diskusikan di sini: http://fathulwahid.wordpress.com/2011/09/11/publikasi-internasional-akademisi-indonesia/

      Untuk yang motivasi dalam versi Indonesia, kalau menemukan akan saya tambahkan Mas. Cuma sampai sejauh ini saya belum menemukan ada penulis Indonesia yang memberi landasan “nilai” (tidak sekedar alasan “teknis”) untuk publikasi internasional.

  7. Muh. Aliyazid Mude said:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh, semoga pak fathul, keluarga dan kerabatnya mendapatkan kesehatan dan limpahan rahmat dari Allah Swt.

    motivasi sangat penting untuk kesuksesan dalam penulisan seperti bensin dengan mobil. bagi yang cerdas tentunya mobilnya tidak mau bila bensinnya kosong, karena dia tahu bahwa mobil tidak akan bisa jalan bila tidak ada bensin, semakin banyak bensin sebuah mobil, maka semakin perjalanannya akan jauh. begipula motivasi. orang yang memiliki motivasi yang besar dalam menulis pasti menjadi penulis yang terkenal. olehnya itu mari menjaga motivasi agar senantiasa ada disetiap hari-hari kita. bila orang ingin menjadi orang hebat dan sukses maka terlebih dahulu dia miliki motivasi yang besar. dibawah ini adalah algoritma keberhasilan dan kesuksesan
    1. motivasi (kecil atau besar) silahkan memilih
    bila kita mau sukses ditingkat lokal saja, maka monggo pilih motivasi kecil, sebaliknya bila mau sukses tingkat internasional, maka pilih motivasi yang besar .
    2. berusaha mewujudkan keinginan
    3. hasil akhir (kecewa atau bahagia)
    bila hasil akhir didapatkan bahagia dan kepuasan maka itulah tujuan berusaha, sebaliknya bila yang didaptkan kekecewaan maka jadikanlah hal itu pengalaman atau cambuk untuk menuju bahagia.

    tips untuk mendapatkan motivasi yang besar dan super dalam menulis dapat :
    1. berinteraksi dengan penulis yang sudah sampai pada level tersebut
    2. melatih dan mencoba menulis internasional
    3. bacaan kebanyakan bacaan internasional
    4. tulisan kebanyakan berinteraksi secara internasional

    pada intinya semua interaksi pada penulisan adalah interaksi internasional, baik dalam berpikir maupun dalam merasakan. sehingga kita dapatkan hasil akhir atau kebahagiaan yang internasional pula.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Aliyazid, Doa yang sama untuk njenengan dan keluarga. Terima kasih untuk kunjungan, komentar, dan tambahan tipsnya. Pengunjung blog ini juga akan membaca komentar dari Mas Ali. Sukses selalu Mas.

  8. Assalamu’alaikum Pak Fathul Wahid. Motivasi yang bagus,ada beberapa pertimbangan juga mengenai waktu dan kesempatan untuk melakukan penelitian karena seringkali seorang dosen di bebani pekerjaan lain.Kalau boleh usul neh bagaimana Pak Fathul Wahid menulis tutorial bagaimana menerbitkan dalam jurnal ilmiah,apa yang harus di persiapkan,biaya dan sebagainya sehingga pemula seperti saya bisa sebagai langkah awal untuk mempersiapkan syukur-syukur ada semacam workhsop menerbiatkan jurnal ilmiah ke kampus-kampus.

    • Wa’alaikumussalam Mas Mukhlis. Terima kasih sudah mampir.

      Kalau soal tantangan dosen di Indonesia, semuanya sama Mas. Saya melihat melihat yang produkstif, bukannya karena tidak ada kerjaan kok, dan bahkan lebih sibuk dibandingkan kita. Karenanya motivasi intrinsik (dari dalam) menjadi sangat penting. Dengan motivasi ini kita bisa menjadikan satu hari “lebih dari 24 jam”.

      Makanya jangan heran, kalau saya punya prinsip: berikan pekerjaan kepada mereka yang sudah mempunyai banyak pekerjaan, karena kemungkinan besar akan selesai dengan baik. Bisa jadi, mereka yang tidak mempunyai pekerjaan, dulunya pernah dikasih tanggungjawab tetapi tidak melaksanakan dengan baik. Seperti familier dengan kasus ini ya?🙂

      Untuk workshop, biasanya di APTIKOM, DItjen Dikti, dan beberapa perguruan tinggi mengadakan kok Mas. Tinggal rajin-rajin cari informasi.

  9. Assalamu’alaikum Pak Fathul, salam kenal (lagi). Tulisannya menarik. Pak, kalau boleh saya rekues artikel yang sedikit berbau “apa sih manfaat dari penulisan ilmiah? bagi kita, bagi masyarakat, bagi dunia.”, karena kalau kita lihat dari ilustrasi nya, buat apa penulis harus melewati semua “bahaya” jika di kenyataan ternyata tulisan tidak bermanfat benar bagi dunia nyata. Sekali lagi terimakasih atas perhatiannya.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Makkie, Ilmu pengetahuan dikumpulkan secara bertahap. Apa yang kita anggap sebagai pengetahuan biasa, sebelumnya sangat mungkin merupakan hasil dari penelitian (seperti hukum archimides, yang karenanya muncul ide kapan selam dan lain-lain). Buku-buku yang kita baca tidak lepas dari penelitian-penelitian sebelumnya.

      Kalau yang dimaksud manfaat langsung seperti orang membuat sumur kemudian bisa untuk mandi, ini yang tidak semua penelitian dapat seperti itu. Bahkan kadang perlu waktu yang lama sebuah penelitian menunjukkan dampaknya. Kalau saya meneliti, terus saya ajarkan ke mahasiswa, dan nantinya mahasiswa lulus dan menggunakan informasi yang pernah saya berikan di kelas dalam mengambil keputusan di lembaga publik yang dia pimpin, misalnya, apakah itu bukan sebuah manfaat juga? Memang ada juga penelitian yang tidak berdampak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: