Memilih jurnal dan konferensi

Pada entri sebelumnya, kita diskusikan kelebihan dan kekurangan outlet publikasi, baik jurnal maupun konferensi. Entri ini akan memberikan gambaran, bagaimana memilih jurnal atau konferensi yang menjadi tujuan publikasi.

Tentukan ekspektasi! Apakah kita akan mengirimkan artikel ke jurnal atau konferensi kelas satu (first tier) atau yang lain? Penentuan ekspektasi ini mempunyai konsekuensi, mulai dari peluang diterimanya artikel (termasuk tingkat kekritisan review) sampai waktu tunggu untuk review dan terbit. Konsekuensi pertama berlaku baik untuk jurnal maupun konferensi, sedang yang kedua khusus untuk jurnal.

Jurnal

Berapa lama waktu tunggu sebuah artikel terbit dalam sebuah jurnal, mulai dari pengiriman artikel, proses review, sampai dengan terbit? Jawabnya beragam, tetapi tidak sulit untuk mengatakan ‘cukup lama’ atau bahkan ‘sangat lama’. Sebagai contoh ekstrim, Mingers (2002) ‘menunggu’ empat tahun sebelum salah satu artikelnya terbit pada sebuah jurnal bergengsi! Mengapa bisa demikian?

Artikel yang dikirim biasanya akan diseleksi awal (screening) oleh review manager (editor atau associate editor) yang ditugaskan. Artikel yang tidak mempunyai harapan untuk diterbitkan, termasuk tidak relevan untuk jurnal yang dituju atau kualitas yang ‘tidak tertolong’ akan mendapatkan respon lumayan cepat: ditolak. Tetapi ini bukan jaminan, kalau kita, lama tidak mendapatkan respon, berarti artikel kita pasti diterima. Tidak, sama sekali tidak. Artikel yang mempunyai ‘masa depan’ akan dikirim ke reviewer untuk mendapatkan komentar. Beberapa artikel langsung dapat ditentukan statusnya (diterima atau ditolak) setelah review pertama, tetapi banyak yang lain, menunggu sama beberapa ronde review sebelum mendapatkan ‘kata akhir’.

Berikut saya kutipkan prosedur review standar jurnal Information Technology and People terbitan Emerald. Jurnal ini berdasar statistik, menerima sekitar 10% dari keseluruhan artikel yang masuk.

Thus, in an ideal world, a strong paper that could be through the review process and appear in print within 8 months of submission: 7 days for review manager screening, 21 days for reviews, 7 days for review manager to accept the paper, six months for the paper to appear in print.

Ini berlaku untuk artikel yang bagus dan waktu proses yang ideal. Artinya, untuk artikel yang tidak bagus, dan sangat mungkin waktu proses ideal tidak selalu terpenuhi, kita bisa menebak, berapa lama waktu yang dibutuhkan: lebih lama dari delapan bulan!

Namun kadang, kalau kita beruntung bisa lebih cepat dibandingkan itu. Kapan itu? Ketika artikel kita bagus, dikirim pada waktu yang tepat (misal pada edisi khusus, dan salah satu artikel yang ditunggu tidak kunjung masuk, dan pas artikel kita sesuai dengan tema), reviewer merespon dengan cepat, komentar yang diberikan positif dengan revisi minor, dan sejenisnya. Namun yang seperti ini tidak sering terjadi.🙂

Kembali ke topik memilih jurnal. Ada beragam cara menentukan kualitas jurnal. Pertama, lihat penerbitnya. Ini cara yang paling sederhana. Penerbit yang sudah mapan, biasanya cenderung lebih serius dalam mengelola jurnal, termasuk proses review. Untuk memberikan contoh penerbit, sebut misalnya, Elsevier, Taylor & Francis, Sage, Emerald, ACM, dan IEEE.

Kedua, kualitas jurnal bisa juga dilihat dari impact factornya. Impact factor ini dikembangkan oleh Thomson Reuters dengan mengukur rata-rata frekuensi keterkutipan artikel jurnal dalam dua tahun tahun terakhir. Jika impact factor sebuah jurnal adalah 1, maka ini berarti rata-rata setiap artikel yang diterbitkan oleh jurnal tersebut dikutip sekali dalam dua tahun terakhir. Asumsi yang digunakan adalah artikel yang dikutip adalah artikel yang berkualitas, dan sebaliknya artikel yang tidak berkualitas tidak atau jarang dikutip. Rumus umumnya: semakin besar skor impact factor, semakin berkualitas sebuah jurnal.

Ada bias dalam impact factor, misalnya karena self-citation, yaitu adanya semacam pratik untuk menganjurkan artikel yang dikirim sebuah jurnal, harus mengutip salah satu atau lebih artikel yang sudah terbit di jurnal tersebut. Tidak semua jurnal mempunyai impact factor.

Ketiga, masih berdasarkan data dari Thomson Reuters, kita bisa dengan mudah melihat jurnal yang berkualitas dengan memeriksa apakah jurnal tersebut masuk dalam Science Citation Index (SCI) dan turunanya (termasuk di antaranya Social Sciences Citation Index [SSCI] dan Arts & Humanities Citation Index [AHCI]). Data sampai November 2012 menunjukkan sebanyak 3.700 jurnal (dari 100 disiplin) masuk dalam SCI, 1.950 jurnal (dari 50 disiplin ilmu sosial) dan 3.500 jurnal ilmiah dan teknik lain masuk dalam SSCI, dan 1.160 jurnal dari bidang seni dan humaniora serta 6.000 jurnal ilmiah dan ilmu sosial lainnya masuk dalam AHCI.

Keempat, lihat peringkat jurnal, baik yang dibuat oleh lembaga pemerintah, lembaga ilmiah, atau komunitas ilmiah. Sebagai contoh, Australian Research Council, menerbitkan peringkat jurnal di bawah The Excellence in Research for Australia (ERA) initiative (http://www.arc.gov.au/era/era_2012/era_2012.htm),  Pemerintah Norwegia mengembangkan Norsk samfunnsvitenskapelig datatjeneste (NSD) (http://dbh.nsd.uib.no/kanaler).

SCImago Lab (http://www.scimagojr.com) mengembangan peringkat jurnal berdasar data dari Scopus. University of Washington mengembangkan skor eigen factor dan article influence (http://www.eigenfactor.org) untuk melihat ranking jurnal.

Komunitas ilmiah, seperti bidang saya, sistem informasi, kadang melakukan survei untuk melihat persepsi akademisi akan kualitas jurnal dalam disiplin ini. Untuk mengetahuinya, sila lihat di http://ais.affiniscape.com/displaycommon.cfm?an=1&subarticlenbr=432.

Selain itu, kalau masih mau memusingkan diri, tentu masih ada cara lain yang dapat digunakan untuk memilih. J Salah satunya adalah dengan melihat apakah jurnal sudah diindeks di lembaga yang berreputasi, seperti Elsevier (Scopus).

Konferensi

Kualitas konferensi sangat beragam. Membandingkan kualitas konferensi lebih sulit dibandingkan membandingkan jurnal, karena tidak ada ukuran kuantitatif. Namun beberapa hal ini bisa dijadikana acuan.

Pertama, lihat lembaga penyelenggaranya. Konferensi yang diselenggarakan oleh komunitas ilmiah yang jelas dan sudah mapan (seperti AIS, ACM, dan IEEE) biasanya berkualitas bagus. Lembaga ini kadang juga mengendorse lembaga lain yang menyelenggarakan konferensi.

Kedua, apakah prosiding yang dihasilkan oleh konferensi diindeks afau tidak? Seringkali ini juga dijadikan acuan dalam memilih konferensi. Konferensi yang prosidingnya diindeks oleh AIS, ACM, IEEE, atau Scopus, misalnya akan lebih diminati. Tidak jarang hal ini dijadikan salah satu poin dalam promosi.

Ketiga, kenali persepsi komunitas akademik terhadap konferensi yang sudah berjalan beberapa kali. Sebagai contoh, di bidang sistem informasi, International Conference on Information Systems (ICIS), European Conference on Information Systems (ECIS), dan Hawaii International Conference on System Sciences (HICSS) dianggap sangat bagus. Kualitas review sangat ketat, dengan tingkat seleksi sampai sekitar 20%. Di bidang yang lebih spesifik, misalnya eGovernment, Electronic Government Conference (EGOV) juga dinilai sangat bagus. Bagus di sini diartikan kualitas artikel yang dipresentasikan (karena seleksi yang ketat), dan komunitas akademik yang menghadirinya. Ingat, salah satu misi utama mengikuti konferensi (berbeda dengan menerbitkan artikel di jurnal) adalah mengembangkan jaringan akademik.

Di atas itu semua, jangan sampai kita sibuk memilih jurnal atau konferensi, tetapi lupa merampungkan penelitian dan menulis artikel yang berkualitas.🙂

Referensi

Mingers, J. (2002). The long and winding road: Getting papers published in top journals. Communications of the Association for Information Systems, 8 (Article 22).

Kristiansand, 9 November 2012

*Entri ini ditulis berdasar masukan dari Pak Zainudin Zukhri, yang dirasa perlu untuk ‘pemula’ dalam publikasi internasional. Padahal penulis blog ini juga pemula.🙂
39 comments
  1. firdii said:

    wah, terima kasih ilmu nya pak, saya lagi nguliah (nguli sambil kuliah) setelah lulus 2006 dari T.INF UII. Izin Ctrl+D ya pak.

    • Fathul Wahid said:

      Silakan Mas Firdi. Selamat untuk sekolahnya lagi. Semoga lancar.

  2. adulweb said:

    assalamualaikum wr wb. Pak Fathul Saya membaca sekilas tentang Artikel-artikel yang bapak tulis di Website ini,
    saya ingin bertanya tentang bagaimana tips dan trik agar tulisan yang kita tulis dapat di publish di Jurnal Internasional. apakah bisa Skripsi ataupun tugas akhir bisa dijadikan Jurnal Internasional. terimakasih
    mohon bimbingannya pak.

    • Wa’alaikumussalam Mas Adul, Semuanya tergantung kualitas penelitian Mas. Salah satu indikasinya: kontribusi penelitian (skripsi/tesis) dalam ‘menambah’ pengetahuan yang sudah ada. Diskusi terkait kontribusi bisa dilihat di https://publikasiinternasional.wordpress.com/2012/02/10/merumuskan-masalah/ Kalau kontribusinya jelas, insya Allah bisa ‘journalable’, meskipun harus juga dengan keras menuliskan ulang dalam format dan bahasa artikel.

      • adulweb said:

        Trikny gmn pak biar tulisan yang saya tulis lolos saat di review?

        • Fathul Wahid said:

          Mas Adulweb, Semua yang saya tulis di blog ini sebetulnya niatnya itu Mas. Kalau singkatnya: pastikan tulisan kita memberikan kontribusi yang jelas terhadap literatur yang sudah ada. Kontribusi ini biasanya terkait dengan teori dan praktik.

        • Pak Fathul nie saya mau ngewangi mas adulweb bertanya, supaya njenengan menulis tentang bagaimana letak/posisi penelitian (peta penelitian) atau bahasa kerennya state of the art penelitian kita thd penelitian yg sudah ada, dengan demikian jika kita tau dimana posisi penelitian kita maka kita medapatkan jawaban mengenai kontribusi penelitian kita dan akhirnya kita bisa mengetahuai apakah patut dipublish / diterima dalam jurnal.

        • Fathul Wahid said:

          Mas Iqbal, Itu bisa diidentifikasi dengan melakukan literature review yang sistematis. Jadi kita tahu bagian mana yang belum diteliti dan apa kontribusi yang mungkin kita berikan.

        • Fathul Wahid said:

          Mas Adulweb, Jawaban saya singkat: perjelas kontribusinya. Disamping tentu saja tergantung dengan relevansi topik dan outlet, latar belakang masalah, rumusan masalah, teori yang digunakan, metodologi yang dipilih, dan lain-lainnya. Semua entri di blog ini untuk menjawab pertanyaan njenengan Mas.🙂

  3. assalamualaikum pak fathul, salam kenal sebelumnya..tulisan bapak sangat membantu bagi pemula seperti saya..:)..pertanyaan saya hampir serupa dengan adulweb, selain itu saya pernah dengar bahwa tema jurnal yang layak lolos untuk publikasi internasional adalah tema tema unik yang mengusung regional content ,atau mengungkap potensi daerah /negara? apa benar seperti itu pak..:)

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Nurhayati, Terima kasih sudah mampir. Intinya sebetulnya bukan masalah regional content (menggunakan istilah njenengan), tetapi masalah kontribusi. Nah salah satu bentuk kontribusi adalah konteks yang berbeda, dengan semua karakteristiknya. Indonesia, misalnya, adalah konteks yang ‘under-researched’, dan jujur diakui publikasi internasional dengan konteks Indonesia lebih banyak dilakukan oleh peneliti asing. Ini tantangan bagi akademisi/peneliti Indonesia. Tentu saja mengatakan ‘Indonesia’ dalam publikasi tanpa memunculkan karakteristik konteks yang relevan dalam penelitian juga tidak menarik. Ini pendapat saya Mbak, bisa jadi salah.🙂

  4. suharno said:

    salam kenal pak fatul sehat to? saya pemula tentang penulisan jurnal atau publikasi , mungkin bisa di bantu pak tips untuk memilih topik jurnal, kok punya bapak sangat menarik untuk di baca .mohon bantuanya .

    • Fathul Wahid said:

      Salam kenal juga Mas Suharno. Alhamdulillah saya sehat. Mudah-mudahan juga dengan Mas Harno. Kalau tips singkatnya sih: cari masalahnya dulu. Masalah yang belum pernah diteliti dan menarik (tidak hanya untuk penelitinya saja, tetapi juga orang lain — paling tidak ini harapannya), sehingga penelitian akan memberikan kontribusi yang jelas. Kalau yang Mas Harno maksud judulnya, itu bisa ditentukan kemudian, dan seringkali prosesnya tidak sekali jalan, dan sangat tergantung dari temuan penelitian. Semoga sedikit membantu Mas.

  5. Apakah setiap artikel ilmiah yang akan kita kirim ke media publikasi itu HARUS own-research-based pak? Jikapun tidak harus berbasis penelitian sendiri (semisal hasil review beberapa jurnal) maka yang kita ulas atau kita simpulkan di artikel kita itu apakah merupakan satu ‘ilmu baru’ sehingga menjadikan artikle kita ada kemungkinan dimuat di jurnal-jurnal terindeks? mohon petunjuknya.

    • Fathul Wahid said:

      Mas Tri, intinya adalah kontribusi. Kita bisa mensintesis penelitian orang lain sebelumnya dan memberikan gambaran/tilikan/pengetahuan baru. Ini yang namanya literature review. Coba njenengan lihat entri di blog ini tentang melalukan literatur review di sini: https://publikasiinternasional.wordpress.com/2012/04/07/melakukan-literature-review/ Hanya saja yang perlu diperhatikan di sini, salah satunya, adalah proses pemilihan literatur yang harus sistematis dan tidak ‘hunt and peck’. Jika dilakukan dengan benar, banyak outlet publikasi yang mau mempublikasikannya. Saya sendiri pernah melakukan literatur review butuh lebih dari dua tahun sejak mencari literatur yang dimasukkan (lebih dari 100 artikel) sampai dengan terbit.🙂

  6. Vira Megasari Haqni said:

    aslmlkm, bapak saya masih sangat awam mengenai penulisan jurnal, saya mohon diberikan tips cara-cara untuk memilih tema yang baik dan menarik untuk dijadikan judul dalam penulisan jurnal. trima kasih..wslmlkm

    • Fathul Wahid said:

      Assalamu’alaikum Mbak Vira, Judul terkait dengan topik Mbak, dan topik tergantung dengan masalah yang belum ‘disentuh’ oleh penelitian sebelumnya. Jadi kalau ditanya tipsnya, jawabannya singkat: cari dulu masalah yang akan diteliti, termasuk mengapa masalah tersebut perlu dan penting diteliti. Cara mengetahuinya, salah satunya lakukan literature review Mbak, alias banyak membaca.🙂 Semuanya, meski sedikit-sedikit, saya ulas di entri lain blog ini Mbak. Mudah-mudahan jawaban singkat ini membantu Mbak.

  7. Lahan said:

    Assalamu’alaikum Pak Fathul Wahid, kembali saya mohon pencerahan dari njenengan tentang proses penerbitan artikel di jurnla ilmiah/jurnal internasional. Mungkin yang saya tanyakan agak keluar dari pembahasan yang njenengan tulis di atas, tapi ada kaitannya juga, hhehehehe… (maklum, pemula pak).

    Misalnya saya punya artikel, kemudian saya ingin mengirimkan artikel saya ke sebuah jurnal untuk dipublikasikan. Setelah saya memilih suatu jurnal untuk mempublikasikan artikel saya, proses yang terjadi di dalamnya apa saja pak…? Maksudnya proses penerbitan artikel yang kita kirim dari mulai author mengirimkan artikelnya sampai nantinya artikel yang saya kirim berhasil dipublikasikan.

    Mungkin kalo njenengan punya waktu lebih, saya kepingin njenengan membuat tulisan tentang itu, biar saya juga lebih “gamblang”. Maturnuwun.

    • Wa’alaikumussalam Mas Lahan, Kira-kira prosesnya seperti ini:

      1. Manuskrip dikirim (dengan berbagai kanal, saat ini yang banyak digunakan oleh jurnal internasional adalah layanan berbasis web)
      2. Editor-in-chief atau editor lain melakukan screening awal, yang tidak *tertolong* karena berbagai sebab (kualitas yang tidak memadai, bahasa yang amburadul, tidak relevan, dll) langsung ditolak. Persentase yang tidak lolos screening awal sangat tergantung dari jurnal. Notifikasinya untuk yang tertolak karena kasus ini bisa dalam hitungan hari.
      3. Jika manuskrip dianggap layak, maka akan dikirimkan ke reviewer (lebih dari satu orang, dan beberapa sampai tiga orang)
      4. Proses review bisa memakan waktu beberapa bulan (saya pernah menunggu enam bulan, dan ditolak)🙂
      5. Kalau manuskrip mempunyai harapan, biasanya ada revisi yang harus dilakukan oleh penulis (biasanya diberikan tenggat waktu oleh editor)
      6. Review sangat mungkin tidak sekali proses, dan bisa beberapa ‘ronde’, dan tidak ada jaminan pasti diterima. Seorang kawan setelah melakui sekitar lima ronde dan waktu dua tahun, akhirnya manuskripnya ditolak.
      7. Proses dari pengiriman manuskrip sampai dengan pemuatan bisa bervariasi, dan beberapa bisa mencapai dua, tiga, dan bahkan empat tahun! Kalau kita beruntung, bisa hanya dalam hitungan bulan (misal 6 bulan mendapat notifikasi diterima, dan tambahan beberapa bulan lainnya untuk proses penerbitan). Sebagai contoh, salah satu manuskrip saya yang diterima dengan ‘fast-track’ dari awal sampai terbit butuh sekitar 10 bulan. Saya sangat beruntung untuk kasus ini. Manuskrip saya yang lain, butuh dua tahun dengan 3-4 kali revisi.

      Sudah tambah gamblang Mas?

      • Lahan said:

        Alhamdulillah, sudah tambah gamblang pak. Jangan “kapok” kalo saya banyak tanya ya pak (hehhehehehehe). Maturnuwun pencerahannya pak.

  8. Assalamu Alaikum Pak Fathul… Salam Kenal… membaca tulisan bapak saya jadi teringat kebijakan Kemendikbud yang dituangkan dalam surat edaran Nomor 152/E/T/2012 per 27 Januari 2012 perihal ketentuan kelulusan s1 s2 dan s3 untuk kelulusan setelah Agustus 2012 yang harus mempublikasikan karya tulis ilmiah pada jurnal, baik tingkat nasional maupun internasional. Berkenaan dengan itu tentunya apabila benar-benar dilaksanakan kebijakan itu akan berdampak baik dengan banyak karya-karya ilmiah yang dipublikasikan. Di sisi lain, bisa juga diramalkan bahwa kebijakan yang ‘memaksa’ ini akan menelurkan dampak negatif seperti munculnya “jasa penulisan jurnal ilmiah” seperti halnya jasa pembuatan skripsi, serta bisa juga melahirkan jurnal abal-abal tanpa mutu dan tidak memenuhi standar, karena sekedar untuk memenuhi syarat kelulusan. Menurut Bapak kesiapan perangkat dan sarana prasarana apa saja kah yang musti dipersiapkan menghadapi kebijakan tersebut… baik dari kalangan akademis, pemerintah dan para penikmat jurnal…. tentunya tanpa didukung kesiapan publik dapat melahirkan penyimpangan substansial kan…?

  9. Putri Tajuddin said:

    assalamualaikum… pak fathul, tulisan di blog bapak sangat membantu saya yang masih awam tentang jurnal.
    Mengenai penulisan jurnal apakah bisa diberikan masukan dan tips-tips dalam pemilihan judul, maupun tema jurnal yang akan kita tulis.
    apakah seperti skripsi bisa dijadikan jurnal? contoh skripsi tentang Sistem Informasi geografi..
    terima kasih..

    • Wa’alaikumussalam Mbak Putri. Terima kasih. Untuk mencari masalah, salah satunya dapat melalui ‘literature review’.

      Untuk skripsi, semuanya tergantung kepada kualitasnya. Pertanyaannya, apa kontribusi skripsi tersebut? Metode baru dalam SIG, implementasi SIG dalam konteks spesifik dan diuji implementasinya di lapangan, atau yang lain?

      Mudah-mudahan membantu Mbak.

  10. Bagus Muhammad AKbar said:

    Terima kasih pak Fathul atas tulisan2nya yang sangat membantu sekali. Ow iya pak kalau boleh saya mau request tentang cara membuat kesimpulan suatu penelitian yang berkualitas pak terutama untuk para pemula seperti saya. karena terkadang untuk membuat kesimpulan yang berkualitas kadang kita suka bohong atau mengada-ada. Tolong berikan tipsnya ya pak. Terima kasih….

    • Bagus Muhammad AKbar said:

      Ow iya pak, maaf ternyata sudah ditulis tentang menulis kesimpulan, mau tanya lagi pak, tolong diberikan entri tentang tips memulai suatu penilitian seperti kita membuat suatu gambaran bagaimana penelitian kita kayak kita menggambarkan diri kita, kita membuat suatu penelitian baru atau mengembangkan suatu penelitian. karena saya termasuk pemula jadi suka bingung untuk memulai suatu penelitian harus dimulai dari mana. kayak seperti membuat suatu peta tentang penelitian itu pak. terima kasih

    • Fathul Wahid said:

      Mas Bagus, saya senang kalau tulisan di blog ada manfaatnya. Seingat saya sudah ada entri tentang menulis kesimpulan.🙂 Njenengan sudah temukan kan? Dalam penelitian, kejujuran adalah hal yang sangat penting. Jangan sampai yang dilaporkan adalah ‘pseudo science’: seakan-akan ilmiah, tetapi ternyata tidak.

  11. Abdul Rohman S. said:

    Assalamu’alaikum
    Salam kenal pak Fathul…
    Dari beberapa artikel bapak yang telah saya baca mengenai publikasi jurnal ilmiah, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pak.
    Pertama, jurnal ilmiah itukan hasil dari penelitian, apa betul pak? apabila memang betul, sepengetahuan saya penelitian itukan bisa dilakukan oleh lebih dari satu orang.Nah…Lanjut pertanyaan
    Kedua, ketika penelitian itu dilakukan oleh dua orang, apakah boleh dari bidang ilmu yang berbeda?
    Ketiga, apabila boleh dilakukan oleh bidang ilmu yang berbeda, nanti ketika dipulbikasi atau dijadikan jurnal, apakah jurnal tersebut masuk kedalam bidang ilmu masing-masing, misal bidang ilmu IT dengan KESEHATAN?
    Keempat, untuk tema atau topik bahkan judul apakah harus sama atau bahkan berbeda ketika dipublikasikan ke masing-masing bidang ilmu, karena setahu saya untuk publikasi jurnal biasanya berbeda-beda, misal jurnal IT berbeda dengan jurnal KESEHATAN.
    Kelima, ketika jurnal tersebut dipublikasi nanti untuk peneliti yang akan dicantumkan peneliti yang mana pak, apakah dua-duanya? dan apakah itu tidak masuk dalam kategori “duplikasi jurnal”?
    Terimakasih pak atas tanggapannya…dan terimakasih atas ilmunya pak, semoga dapat bermanfaat.
    Wassalamu’alaikum…

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Abdul Rohman,

      1. Ya, dan penelitian sangat boleh dilakukan oleh lebih dari satu orang, kecuali ada aturan yang melarangnya.🙂 Tesis misalnya, biasanya disepakati mandiri alias untuk satu orang.

      2. Sangat dianjurkan.

      3. Tergantung fokus tulisan dan perspektif yang digunakan dalam tulisan. Tentu berdasar kesepakatan semua peneliti. Sekarang juga banyak jurnal yang lintas disiplin.

      4. Tergantung jurnal yang disasar.

      5. Lagi-lagi, tergantung kesepatan antarpeneliti. Yang jelas, duplikasi atau satu tulisan dikirim ke dua jrunal yang berbeda, haram hukumnya.🙂

      Mudah-mudahan membantu.

  12. Nurohman said:

    Assalamualaikum.wrb
    Salam kenal Bapak Fathul..
    dari sebuah tesis apakah bisa dikembangkan menjadi sebagi jurnal ilmiah! terima kasih sebelumnya.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Nurohman,

      Jawaban singkat: sangat mungkin!

    • Fathul Wahid said:

      Mas Dedy, tergantung peraturan yang dibuat lembaga tempat njenengan belajar.:-)

  13. Kisti Hakika said:

    Terima kasih pak, artikel ini membuka wawasan saya mengenai publikasi. Akan tetapi ada beberapa yang masih mengganjal saya, yaitu mengenai cara publikasi.

    Usulan dan request dari saya nih pak, tolong bahas mengenai mendapatkan informasi dan cara melakukan publikasi, terutama untuk orang-orang yang belum pernah melakukan publikasi.Karena saya yakin masih banyak mahasiswa yang masih bingung dan belum mengetahui mengenai masalah publikasi. Saya sendiri hanya mengetahui yang ada di UII saja, misalnya SNATI atau SNIMED.

    • Fathul Wahid said:

      Mas Kisti,

      Coba baca semua entri dan komentar saya dalam blog ini, insya Allah ada jawabannya di sana.🙂

      Singkatnya: banyak mencari informasi, membangun jaringan, dan membaca.

  14. Arif Afriansyah said:

    Terima kasih pak atas tulisannya yang sangat membantu sekali.

    Iya pak kalau boleh saya mau tanya tentang cara membuat latar belakang suatu penelitian yang berkualitas pak soalnya banyak sekali penulis yang kurang tepat dalam menyampaikan latar belakang sebuah penelitian, sehingga menimpulkan presepsi yang berbeda bagi pembacanya. Terima kasih….

  15. dana said:

    Ketika suatu paper diterima utk publikasi di sebuah book series (misalnya vol ke-11) yg diterbitkan oleh Emerald, apakah kualitas paper tersebut adalah baik??
    Mohon sharing Anda. Terima lasiih…

    • Fathul Wahid said:

      Insya Allah kualitas Emerald baik. Hanya saja memang kualitas antaroutletnya beragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: