Sepuluh jurus menulis artikel ilmiah yang membosankan (bagian 1)

CATATAN: Kata kunci entri ini adalah ‘membosankan’. Untuk menghindari salah paham, lakukan SEBALIKNYA dari apa yang dianjurkan oleh 10 jurus ini untuk membuat artikel yang ‘TIDAK membosankan’.Β 

Sepuluh jurus berikut bukan ide saya, karena saya belum mempunyai legitimasi dan kredibilitas untuk menulis artikel tentang ini. Jurus berikut saya ambil, atau lebih tepatnya sadur, dari Sand-Jensen (2007), sebuah artikel yang menurut saya sangat menarik, dan penuh dengan ironi.πŸ™‚ Tentu dalam entri blog ini, saya berikan sedikit ‘kontribusi’ dengan memberikan ilustrasi segar (paling tidak menurut saya) atau catatan tambahan dan dengan mempertajam ironi yang disampaikan.

Saya percaya bahwa tidak semua orang sepakat dengan jurus ini. Bahkan, saya yakin banyak peneliti atau akademisi yang menggeleng-gelengkan kepala sambil mengernyitkan dahi tanda tidak setuju. Apakah Anda setuju? Tentu sulit menentukan pendapat karena 10 jurus tersebut belum dijelaskan.πŸ™‚

“Congratulations, you are now capable of writing technical, impersonal and boring papers like myself and the other gentlemen – welcome to Academia”. Sumber: Sand-Jensen (2007; h. 724)

Inilah 10 jurus menulis artikel ilmiah yang membosankan.

Jurus 1: Hindari fokus
Awali artikel dengan beragam pertanyaan, ide, dan kemungkinan hubungan antar banyak hal (variabel?), dan hindari formulasi rumusan masalah yang jelas. Jurus ini akan membuat pembaca sulit menebak arah artikel dikembangkan. Keuntungan lain adalah bahwa cara penulisan seperti ini akan membantu menyembunyikan fakta bahwa Anda tidak mempunyai ide yang orisinal.Β  Kaburkan dalam artikel, mana bagian yang penting dan yang tidak penting. Dalam bagian teori, kutip sebanyak mungkn teori tanpa melakukan sintesis. Dengan jurus seperti ini, Anda berhak mengharapkan bahwa pembaca akan terhiptonis karena artikel seperti mempunyai efek seperti pil untuk mereka yang sulit tidur.

Ilustrasi 1: Ketika menulis sebuah artikel dengan pembimbing saya satu bulan setelah masuk program, saya terlihat sangat bersemangat. Minimal menurut saya, karena menulis artikel pada bulan kedua dalam program adalah sebuah ironi.πŸ™‚ Saya masukkan banyak ide dalam artikel. Karena yang sedang dikembangkan adalah konsep intermediari dalam ICT4D, saya identifikasi terdapat hampir sepuluh aktor. Anda tahu berapa aktor yang akhirnya masuk dalam artikel? Hanya satu, dan pilihan ini ternyata memberikan artikel menjadi menarik, dengan alur cerita dan kontribusi yang jelas. Setelah kita elaborasi menjadi sekitar 10 halaman, seorang reviewer dalam komentarnya masih mengatakan, “Penulis menyajikan terlalu banyak informasi dalam satu artikel”. Nah lho.

Jurus 2: Hindari orisinalitas dan personalitas
Terus terang ‘personalitas’ agak sulit dijelaskan dalam bahasa Indonesia dalam konteks ini. Namun menurut Sand-Jensen (2007), ini terkait dengan ketiadaan refleksi terhadap hasil penelitian. Tidak sulit nampaknya menemukan artikel yang berisi angka hasil analisis statistik, misalnya, tetapi tidak ada refleksi atau analisis yang memadai. Tetapi, kalau memang tujuannya menjadikan artikel menjadi membosankan, Anda sudah dalam jalur yang benar.πŸ™‚

Bagaimana dengan orisinalitas? Sama saja. Tidak sulit membuat pembaca bahkan tidak tertarik melanjutkan membaca artikel setelah membaca judul. Ulang penelitian yang sudah dilakukan orang lain ratusan kali, dengan model atau metode yang sama. Artikel tidak memberikan tilikan (insight) yang menarik. Bahkan menurut Sand-Jensen (2007), artikel seperti ini sudah melewati batas membosankan; artikel seperti ini sangat menyedihkan.

Ilustrasi 2: Sebuah praktik yang baik adalah selalu menanyakan kepada diri sendiri ketika akan menulis sebuah artikel. Apa kontribusi artikel ini? Kalau pembaca sudah mengetahui hasil yang dilaporkan artikel ini, ‘so what‘? Usahakan mendaftar jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini sebelum menulis. Kecuali, memang Anda ingin menulis artikel yang membosankan.

Jurus 3: Tulis artikel yang sangat p a n j a n g
Nampaknya dalam tradisi akademik di Indonesia, tebal tipisnya tulisan masih menjadi ukuran ‘kualitas’. Masih ingat ketika MURI mencatat rekor skripsi tertebal dengan sekitar 3.003 halaman. Bayangkan kertas HVS enam rim.

Intinya sebetulnya bukan masalah panjang atau pendek, tetapi kalau bisa dibuat pendek mengapa harus panjang? Membuat artikel yang panjang seringkali juga tidak terhindari, karena memang tuntutan topik yang didiskusikan. Seingat saya, artikel jurnal terpanjang yang pernah saya cetak (baca? nampaknya tidak detil :-)) panjangnya lebih dari 80 halaman. Hanya saja, artikel tersebut sudah tidak bisa saya lacak lagi.😦 Dua hari lalu saya membaca (kali ini benar membaca), sebuah artikel jurnal yang cukup panjang: 44 halaman (Battilana et. al, 2009), tetapi artikel ini sangat menarik dan tidak membosankan. Luar biasa bukan?

Jika Anda bisa membuat artikel tersebut pendek, tetapi Anda membuatnya menjadi sangat panjang, Anda telah berhasil menulis artikel yang membosankan! Percayalah!πŸ™‚

Ilustrasi 3: Tentu dalam kasus tertentu menulis artikel yang panjang tidak dapat dihindari. Dan, memendekkan artikel juga perkara mudah. Panjang artikel jurnal biasanya antara 7000-8000 kata, atau sekitar 20-25 halaman A4 dengan spasi tunggal dengan besar huruf normal (12 poin). Artikel konferensi sangat beragam, ada yang berbatas jumlah halaman dengan format tertentu, ada yang berbatas jumlah kata.

Jurus 4: Hilangkan semua implikasi dan spekulasi
Laporkan hasil penelitian dalam artikel dengan deskriptif, tanpa elaborasi yang cukup terkait dengan implikasinya. Dengan ‘membatin’ semua implikasi yang mungkin dari hasil penelitian akan menjadikan adopsi hasil penelitian (baik dalam penelitian selanjutnya maupun dalam praktik) menjadi lambat. Jika penelitian ini bisa direplikasi, tidak jarang yang mendapat ‘kredit’ atau pujian bukan artikel yang pertama, karena telah ditulis dalam gaya yang membosankan.πŸ™‚

Ilustrasi 4: Banyak jurnal yang meminta secara eksplisit kepada penulis untuk menjelaskan implikasi hasil penelitian, baik dalam praktik (termasuk pengambilan kebijakan), maupun dari sisi teoretis. Tidak jarang dalam bagian diskusi, kita berikan penjelasan yang bersifat spekuliatif terhadap beragam temuan yang membutuhkan penjelas. Spekulasi ini adalah celah penelitian lanjutan untuk memverifikasinya.

Jurus 5: Hilangkan semua ilustrasi yang bagus
Masih ingat ungkapan yang mengatakan, ‘Satu gambar lebih menjelaskan daripada ribuan kata-kata’?. Jika Anda bisa gunakan gambar atau tabel bagus untuk menjelaskan ide atau hasil penelitian, dan memilih tidak melakukannya, Anda di jalur yang benar untuk membuat artikel menjadi membosankan.

Ilustrasi 5: Usahakan membuat gambar atau tabel (tentu yang relevan) dalam artikel yang kita tulis. Hal tersebut akan membantu kita memahami ide yang kita sampaikan dan bahwa memvisualisasi kontribusi yang kita berikan. Sebuah ‘panah’ atau ‘bulantan’ tambahan, bisa jadi menjadi kontribusi yang menarik. Bisa jadi yang dicari pembaca sebelum membaca artikel kita adalah tabel atau gambar. Tabel atau gambar yang kita buat dalam artikel seharusnya ‘menjelaskan dirinya sendiri’ (self-explaining). Menurut pengalaman saya, membuat ilustrasi yang bagus bukan proses sekali jadi.

Berikut adalah contoh ilustrasi dalam artikel yang saya buat setelah melalui tiga proses revisi.

… bersambung (supaya entri blog ini juga tidak membosankan!).

Referensi

Battilana, J., Leca , B., dan Boxenbaum, E. (2009). How actors change institutions: Towards a theory of institutional entrepreneurship, The Academy of Management Annals, 3(1), 65-107.

Sand-Jensen, K. (2007). How to write consistently boring scientific literature. Oikos, 116, 723-727.

11 comments
  1. Nurul Bahiyah said:

    pak fathul, jurus 1 (hindari fokus dan hindari formulasi rumusan masalah yang jelas) sering saya lakukan dalam membuat tulisan (terutama tugas)πŸ™‚
    dah hasilnya ternyata membuat tulisan semakin tidak fokus dan tidak terarah (lebih tepatnya ngalor ngidul :))

    mohon berbagi tipsnya pak…

    • Fathul Wahid said:

      Mbak Nurul, ini jurus justru harus *dihindari*. Mungkin banyak yang salah memahami judul (“… YANG MEMBOSANKAN”) entri blog ini.πŸ™‚ Kalau jurus ini dilakukan, hasilnya yang seperti yang Mbak Nurul sampaikan.

      Nah, kalau mau menjadikan tulisan menarik. Tulisan harus fokus, masalah harus jelas. Sebagai contoh, ketika membahas topik A, saya yakin banyak perspektif atau banyak sub-tema yang akan dipilih. Kita harus memilih fokus tulisan kita. Kalau banyak yang dimasukkan, artinya tidak fokus. Metafor berikut mungkin membantu. Anggap menulis seperti menanam pohon jati. Pohon jati yang mahal konon hanya yang lurus. Padahal pasti dalam pertumbuhan, banyak cabang yang berkembang. Nah, cabang-cabang ini harus dipangkas, karena bisa menurunkan nilai pohon.

      Dalam menulis, setiap ingin memasukkan sebuah materi; pikirkan apakah materi itu akan memperkuat argumentasi? Atau bahkan membelokkannya? Kalau membelokkan, jangan-jangan belokan itu lebih menarik? Jika, ya, bisa jadi alur cerita sebelumnya diganti dengan belokan itu. Menulis bukan proses sekali jadi. Coba lihat entri yang lain terkait dengan membuat alur cerita, dan merangkai bahasa dalam publikasi ilmiah.

      Selamat berlatih Mbak. Sukses!

  2. nurul bahiyah said:

    betul pak, ternyata saya juga kurang fokus dalam membaca judul,,, πŸ™‚

  3. membaca tulisan mengenai “jurus menulis artikel ilmiah membosankan”, cukup sangat menarik bagi saya pak, saya mencoba memahami dan menganalisis ke 10 jurus tersebut satu demi satu bahkan tulisan ini saya print dan sy baca 2x, ada salah satu point yang membingungkan saya yakni pada point hindari orisinilitas, sy mencoba membaca kata demi kata untuk memahami maksudnya. karena selama ini yang sy pelajari dalam beberapa kali ikut pelatihan penuisan ilmiah selalu ditekankan didalam suatu penelitian adanya orisinalitas sedangkan tulisan ini malah sebaliknya. sehingga menimbulkan rasa penasaran dalam diri sy peribadi..apa sih maksud dari tulisan ini? knp sih sipenulis membua tip dan langkah seperti itu? dalam benak sy mencoba berpikir positif dari tulisan ini…karena dari setiap tulisan pasti ada maksud tertentu, sy coba analisis, bahwa tulisan ini memberikan gambaran bahwa jika kita menulis dengan 10 jurus tersebut adalah tulisan yang membosankan pembaca, sehingga jangan kita melakukan hal tersebut.
    Mohon tanggapannya pak, terima kasih…telah memberikan tulisan yang memberikan pencerahan bagi kami.

    • Fathul Wahid said:

      Mas Syaukani, ini jurus harus dihindari. Cara membacanya harus dibalik, kecuali njenengan memang mau menulis artikel yang *membosankan*. Wah, bisa bahaya ini kalau banyak yang salah paham.πŸ™‚

      Penulis artikel ini menggunakan gaya satiris untuk menyindir praktik penulisan artikel yang ada. Ingat, penulis ini dari Eropa. Di Eropa, gaya puitis lebih disukai dibandingkan dengan prosa. Beda halnya di Amerika yang lebih menyukai gaya prosa dan cenderung ‘garing’ dan ‘membosankan’.

      Mau pilih yang mana?

  4. CITRA ARFANUDIN said:

    mohon maaf sebelumnya pak. sekedar pendapat dan inputan saja pak.
    mungkin seandainya ada tulisan yang menceritakan pengalaman bapak pas meneliti sesuatu yang paling bapak anggap penelitian yang paling berkesan,
    secara runut. dari awal proses perizinan, hal hal menarik yang menurut bapak berkesan pas penelitian.
    hehehe semacam best research u ever doneπŸ˜€

    thanks pak sharing ilmu. menunggu bukunya terbit pak

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih untuk masukannya Mbak Citra. Hanya saja, cerita saya tidak cukup menarik untuk orang lain nampaknya.πŸ™‚ Lagian potongan-potongan ceritanya sudah saya sisipkan di banyak entri blog ini.

      Untuk buku, sebetulnya saat ini saya masih berpikir, kira-kira ada yang tertarik membeli tidak ya, dan ada penerbit yang mau tidak ya, kalau versi onlinenya masih ada.πŸ™‚

      • CITRA ARFANUDIN said:

        hehehe, sayangnya saya mas pak,πŸ˜€

        saya rasa ada pasti pak penerbit yang mau, kayaknya juga jarang ada buku2 seperti ini pak, ( sepengetahuan saya pak )πŸ˜€

        • Fathul Wahid said:

          Wih, maaf. Kirain nama belakangnya, nama keluargaπŸ™‚

  5. bagus nih tulisannya,
    disaat presiden kita sendiri cuma banyak bikin lagu yg ga nambah ilmuπŸ™‚
    ude gitu pas lagunya dinyanyiin sama anak kecil pas upacara 17an di istana, dikomentarin anak kecilnya..

    maju terus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: