Mengembangkan argumen dalam artikel

Anda pernah membaca artikel, dan ketika membaca berkomentar atau mempertanyakan: yang benar, apa iya, kok meragukan ya, kok bisa, alasanya apa, buktinya apa, ah tenane, dan sejenisnya? Bisa jadi pembaca juga berkomentar atau mempertanyakan hal yang sama pada artikel kita.

Apa yang kurang dalam artikel tersebut? Salah satunya karena argumen yang dikembangkan tidak kuat untuk meyakinkan pembaca. Untuk itu kita bisa menggunakan retorika. Retorika adalah penggunaan bahasa secara efektif untuk meyakinkan/mempersuasi (persuade), menginformasikan (inform), mengedukasi (educate), atau menghibur (entertain) (Purdue Online Writing Lab, 2012).

Tujuan menulis artikel ilmiah, menurut pendapat Van Maanen (1989) adalah untuk meyakinkan orang lain. Baginya, dalam menulis, “We try to persuade others by ‘presenting a coherent point of view told with grace, wit, and felicity’”. Lihat penjelasan kutipan ini di sini.

Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan mengembangan argumen dalam artikel alias membuat tulisan yang argumentatif. Kalau Anda pernah belajar logika (termasuk logika matematika), Anda akan terbantu sekali. Atau di sini Anda merasakan manfaat belajar seperti silogisme, modus ponens, modus tollens di sini (Weston, 2008). Oh, ini tho manfaatnya!🙂 Meski perlu dicatat juga bahwa silogisme untuk pengambilan kesimpulan induktif yang dikembangkan oleh Hume, filsuf besar dari Skotlandia, juga mendapatkan kritik (lihat misalnya Lee dan Baskerville, 2003).

Terlepas dari kritik tersebut, fenomena ini seperti salah satu konsep yang oleh Almarhum Steve Jobs, pendiri Apple, dalam pidatonya di University of Stanford pada tahun 2005, yaitu ‘connecting the dots’, menghubungkan antartitik. Titik-titik (yang mewakili hasil penelitian atau pengetahuan Anda) pada saat pertama mungkin terlihat tidak terhubung, tetapi dalam konteks tertentu, maka titik-titik tersebut mulai memperlihatkan maknanya. Bagi Steve Jobs, “you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards.” Nah lho! Jangan pernah mengambil kesimpulan serta merta belajar sesuatu yang tidak bermanfaat!

Kembali ke pengembangan argumen. Selain memahami model umum pengambilan kesimpulan, ada baiknya juga mempelajari kecohan-kecohan (fallacies) yang sering dijumpai dalam pengambilan kesimpulan. JIka Anda tertarik, silakan kunjungi tautan ini.

Selain itu, ada baiknya selalu mempertanyaan kepada diri sendiri ketika sedang menulis: mengapa? why? Sebagai contoh, dalam bagian pendahuluan artikel, sudah seharusnya ditanyakan kepada diri sendiri: mengapa topik penelitian atau artikel ini penting dan relevan? Berikan jawabannya di sana. Dalam menentukan teori, sekali lagi tanyakan mengapa teori A atau B yang digunakan? Berikan argumentasi kita. Jika dalam teori ada banyak konsep dan kita hanya menggunakan beberapa di antaranya, sekali lagi berikan alasannya.

Mengapa memilih metode penelitian X atau Y? Mengapa kasus P atau Q yang dipilih? Mengapa responden atau informannya mereka? Mengapa menggunakan lebih dari satu sumber data? Mengapa memilih metode analisis data A atau B? Berikan jawaban kita dalam artikel. Kita bisa merujuk penelitian sebelumnya untuk memberi bukti atau argumen, sehingga kita perlu mengembangkan argumen dari awal. Tetapi untuk bagian diskusi dalam artikel, nampaknya rumus lain harus digunakan; salah satunya yaitu berdasar data yang kita dapat, jika kita menulis artikel empiris. Memang tidak selalu mudah menemukan argumen dan bukti yang kuat.

Selanjutnya, bagaimana kita mengambil kesimpulan? Ini bagian kritikal dalam artikel. Tidak jarang kita terjebak dalam kecohan-kecohan dalam mengambul kesimpulan seperti bisa kita lihat dalam tautan yang diberikan di atas. Selalu ingat untuk memberikan argumen dan atau bukti ketika sebuah kesimpulan diambil. Ini tidak mudah. Dalam beberapa bulan ini saya mereview ratusan artikel tentang eGovernment di negara berkembang dan saya temukan banyak artikel yang ‘asal klaim’ alias membuat kesimpulan tanpa bukti, seakan-akan yang penulis pikirkan adalah kenyataan di lapangan. Tidak ada bukti yang diberikan. Argumen yang ada pun ala kadarnya.

Simak cerita berikut ini:

“Dua orang ditemukan tewas di dalam sumur ketika sedang menggali karena keracunan. Ketika penggali pertama keracunan di dalam sumur karena gas CO2, penggali yang lain ingin menolong, tetapi ikut menjadi korban karena keterbatasan peralatan. Jasad kedua penggali tersebut ditemukan pagi harinya ketika pihak keluarga mulai curiga dan mencarinya.”

Cerita semacam ini sering kita temui di surat kabar. Apa komentar Anda? Anda percaya dengan cerita di atas? Maaf, saya tidak. Pertanyaannya sederhana: siapa yang menceritakan ketika kedua penggali sumur tersebut meninggal. Kesimpulan yang diambil tanpa data, tetapi berdasar asumsi. Anda mungkin temukan logika ngawur yang mirip dalam artikel yang Anda baca.🙂

Jika kita tidak bisa meyakinkan diri kita sendiri, jangan harap kita dapat meyakinkan orang lain.

Ketika saya melakukan ‘procrastination’ dengan menulis entri ini, saya pun sedang dalam tahap meyakinkan diri sendiri bahwa alur cerita artikel yang sedang buat menarik. Ini alur cerita yang ketiga yang harus saya kembangkan, setelah saya gagal meyakinkan diri sendiri. Komentar kolega saya ketika saya ceritakan, “You won’t convince your supervisor, if you cannot convince yourself.”🙂

Referensi

Lee, A. S., dan Baskerville, R. L. (2003). Generalizing generalizability in information systems research. Information Systems Research, 14(3), 221–243.

Purdue Online Writing Lab (2012). Academic Writing. Tersedia daring di http://owl.english.purdue.edu/owl/section/1/2/

Van Maanen, J. (1989). Some notes on the importance of writing in organization studies. Dalam J.I. Cash and P.R. Lawrence (eds.) The Information System Research Challenge: Qualitative Research Methods. Boston: Harvard Business School Press, 27-35.

Weston, A. (2008). A Rulebook for Arguments. Indianapolis: Hackett Pub Co.

12 comments
  1. Assallamualaikum pak Fathul,.berbicara mengenai argumen saya cukup tertarik, kira2 sah ngg pak kalau setiap orang memiliki argumen yang berbeda satu dengan lainnya dalam memandang sebuah perihal.?ada tidak sebuah standart parameter dalam melihat sebuah argumen itu sudah baik/kuat atau belum. kemudian, bagaimana caranya kita berhadapan dengan orang yang berusaha kuat mempertahankan argumennya padahal dia salah, hal ini acap kali terjadi dalam sebuah forum, baik itu diskusi biasa di sebuah burjo ataupun sampei ke ruang sidang untuk pendadaran tugas akhir sekalipun? karena tidak sedikit orang yang mempertahankan egonya demi statusnya dalam sebuah instansi atau mungkin gelar akademiknya sendiri yang pada saat itu mungkin dia salah tapi tidak ingin mengakuinya. Thanks.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Aan. Berbeda pendapat itu wajar, dan tidak selamanya harus disatukan. Itulah gunakan argumen. Dalam tradisi ilmiah ada banyak ‘madzhab’: mulai dari paradigma penelitian, metode, teori, dan seterusnya.

      Dalam kasus yang njenengan sampaikan, nampaknya memang perlu beberapa trik.🙂 Salah satunya runutkan logika berpikir dan berikan contoh. Menggunakan analogi kadang juga membantu. Tidak setuju dengan pendapat orang sangat wajar, tetapi bisa kita sampaikan dengan santun dan baik.

      Buku yang saya ulas singkat di sini: http://fathulwahid.wordpress.com/2011/12/19/menjadi-pribadi-yang-menyenangkan/ mungkin bisa membantu.🙂

  2. Aslm. Begini pak, background pendidikan saya adalah kesehatan (farmasi). Salah satu kepentingan penulisan artikel di dunia farmasi adalah dalam rangka sosialisasi munculnya obat baru atau bahan alam yang potensial dijadikan sebagai obat baru. Salah satu landasan kenapa bahan alam tersebut layak ‘dimunculkan’ sebagai obat baru adalah karena di masyarakat telah banyak praktik penggunaan tanaman tersebut untuk pengobatan tertentu. Alasan seperti itukan pada hemat saya tidak begitu ilmiah. Bagaimana pak caranya mensiasati hal tersebut agar argumen kita kuat dan ilmiah?

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Tri. Kalau saya yang latarbelakang pendidikannya bukan farmasi, akan berharap mendapatkan gambaran latar belakang seperti:
      1. Kecenderungan masyarakat modern kembali ke alam dan ke obat-obatan yang kecil efek sampingnya
      2. Pemanfaatan alam (termasuk tanaman obat) dengan lebih baik
      3. Potensi ‘ekonomi’ tanaman yang bisa dijadikan obat
      4. Perlu bukti ilmiah manfaat obat tradisional yang sudah banyak dikonsumsi

      Mungkin bisa ditambahkan yang lain Mas. Nampaknya kalau itu dirangkai bisa memperkuat argumen. Ada baiknya juga, melihat contoh artikel artikel internasional serupa yang sudah terbit untuk mengetahui bagaimana argumen dikembangkan di sana. Mudah-mudahan membantu Mas.

  3. suharno said:

    Selamat siang pak , sy pnya teman membaca sebuah artikel yg ditulis motivator sangat menarik skl dan membuat pembaca tertarik shg sipembaca mengambil ksmpln untuk menerapkan dalm kehidupanya, akan tetapi justru stlh di terapkan dlm kehdpnya membuat si pembaca tadi terpuruk dalam kehdpnya, apa ada kslhn penerapan atau memang argument yg di tulis td tdk ilmiah atau blm teruji?
    Kemudian apakah kita dalam memilih salah satu metoda, kita mesti meneliti atau menjalani keseluruh metode metoda tersebut kemudian baru kita simpulkan dan kita tuangkan ?
    Boleh request pak, dibuatnya tulisan lanjutan “Mengembangkan argument dalam artikel ” yang membahas terkait struktur cara pembuatan argument pada tulisan .

    • Fathul Wahid said:

      Selamat siang Pak Suharno. Terkait dengan kasus teman yang terpuruk, saya punya satu penjelasan. Semua ‘resep’ kehidupan yang diberikan oleh siapapun motivatornya tidak selalu menjamin kesuksesan. Mengapa? Karena hidup tidak linier. Tidak ada rumus ‘setelah A pasti B, dan setelah B pasti C’ dalam hidup. Yang perlu kita lakukan hanya melakukan yang terbaik, dan berharap menghasilkan yang terbaik sesuai harapan.

      Pemahanan ini sebetulnya sama dengan filosofi dasar penelitian interpretif yang didasari oleh ontologi constructivism: bahwa semua fenomena yang ada merupakan hasil kontruksi pemikiran manusia. Berhasil atau terpuruk misalnya adalah fenomena, dan semuanya didefinisikan oleh manusia. Pendefinisian kita pun sebaliknya dipengaruhi fenomena lain yang pernah kita saksikan. Terkait dengan pertanyaan diskusi yang njenengan sampaikan, jawaban saya: tidak ada satupun metode yang dapat ‘menjamin 100%’ yang dijanjikan.

      Untuk request, kalau tertarik, sementara Pak Suharno bisa mengunjungi salah satu tautan yang diberikan di atas: http://owl.english.purdue.edu/owl/section/1/2/

      Semoga bermanfaat Pak! Dalam konteks ini, saya pun tidak bisa menjamin bahwa yang saya inginkan bermanfaat, benar-benar bermanfaat untuk orang lain.🙂

  4. suharno said:

    terimaksih pak semoga bermanfaat bagi kita semua salam hormat kami tuk keluarga

  5. Assalamualaikum pak, terkait dengan argumen dalam artikel , kiranya ada topik yang menarik untuk kami simak , yaitu plagiarisme, MUngkin bapak berkenan mengangkat tema ini sebagai sebuah tulisan🙂 , karena banyak kiranya dunia akademik sendiri tersangkut masalah ini.

  6. Sedang untuk penelitian atau tesis bagaimana pak , contoh kasus pernah merancang ERP, nah apakah boleh kita mengajukan tesis dengan kasus tersebut

    • Fathul Wahid said:

      Masalah apa Mas Dien? Kenapa harus merancang yang baru kalau sudah ada? Ini contoh pertanyaan yang perlu dijawab sebelum saya bisa menjawab layak atau tidak.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: