Melakukan ‘literature review’

Tahapan ini seharusnya selalu dilakukan ketika akan memulai penelitian. Review dilakukan untuk memberikan fondasi yang solid dalam mengembangkan pengetahuan. Selain itu, menurut Webster dan Watson (2002; h. xiii), “It facilitates theory development, closes areas where a plethora of research exists, and uncovers areas where research is needed.”

Dalam praktik, hasil literature review bisa menjadi sebuah bab dalam tesis atau disertasi (dalam bentuk monograf), atau dalam bentuk artikel. Pada tahap penyusunan proposal penelitian pun, seharusnya review ini dilakukan.

Seringkali artikel yang diklaim sebagai literature review, sebetulnya belum kredibel disebut demikian. Betul, artikel didasarkan pada penelitian-penelitian sebelumnya, tetapi proses review tidak dilakukan secara sistematis. Heeks dan Bailur (2007) menyebutnya dengan metode ‘hunt and peck‘, ‘berburu’ artikel seketemunya dan kemudian ‘dipatuk’. Justru metode inilah yang banyak kita temukan. Dalam konteks Indonesia, akses basisdata artikel yang terbatas, seringkali menjadi biangnya. Namun, perkembangan terakhir nampaknya cukup menggemberikan karena semakin banyak universitas yang melanggani layanan portal jurnal, semacam ProQuest, ScienceDirect, Ebsco, atau yang lainnya; baik secara mandiri maupun melalui Kopertis dan Ditjen Dikti Depdikbud. Untuk basisdata artikel terbitan Indonesia, Portal Garuda yang dikelola oleh Ditjen Dikti semakin berkembang, dan bisa dijadikan rujukan literature review.

Bagaimana seharusnya review dilakukan? Artikel Webster dan Watson (2002) memberikan panduan yang sangat praktis.

Pertama, secara umum, proses diawali dengan melakukan identifikasi literatur yang relevan. Kita bisa gunakan kata kunci atau kombinasi kata kunci untuk mengumpulkan artikel. Misalnya, ketika saya akan melakukan artikel tentang eGovernment di negara berkembang, maka saya gunakan kombinasi kata kunci: electronic government dan developing country, eGovernment dan developing country, digital government dan developing country. Beragam portal jurnal saya gunakan. Pencarian dapat diatur pada bagian yang kita inginkan, seperti hanya pada judul, abstrak, kata kunci, atau keseluruhan teks. Variabel waktu juga bisa ditambahkan, misalnya hanya pada artikel yang terbit pada tahun 2005 sampai 2010. begitu juga outlet publikasi, hanya jurnal atau termasuk prosiding. Artikel relevan lain juga bisa dikumpulkan dengan melihat daftar referensi yang digunakan oleh artikel yang sudah kita temukan. Berapa artikel yang dimasukkan? Beragam dan tergantung ketersediaan dan kedalaman review yang dilakukan. Misalnya, Van de Ven dan Poole (1995) melalukan review terhadap 200.000 judul, 2.000 abstrak, dan 200 artikel.

Kedua, yang perlu dilakukan akan mengembangkan rerangka atau framework yang akan kita gunakan untuk mengkategorisasikan artikel. Jika kita bisa mendapatkan artikel sebelumnya yang bisa diacu, akan sangat mudah. Namun tidak selamanya seperti itu. Misalnya, dalam menggelompokkan artikel tentang enterprise resource planning (ERP), kita bisa gunakan tahapan daur-hidup ERP yang dikembangkan oleh Esteves dan Pastor (2001) yang terdiri dari adoption decision, acquisition, implementation, use and maintenance, evolution, dan retirement. Artikel yang kita kumpulkan kita baca satu persatu untuk dimasukkan ke dalam kelompok yang tepat. Jika kita bisa bekerja dengan kolega, maka hasil akan menjadi lebih valid karena ada proses saling memeriksa. Perlu diingat, untuk setiap konsep atau kategori yang kita gunakan, berikan definisi yang jelas.

Jika kita tidak menemukan rerangka yang bisa gunakan secara langsung, alterabtifnya adalah dengan mengembangkan rerangka sendiri. Tentu usaha untuk membangun argumen menjadi lebih berat. Kita bisa mendapatkan ide konsep dari hasil pembacaan terjadap artikel yang ada. Rerangka ini akan direvisi berkali-kali melalui proses coding dan re-coding. Bisa jadi pada tahap awal, kita gunakan kode A, B, C, D, dan E. Ternyata dalam perjalanannya, kode ini bisa bertambah, atau banhkan berkurang karena digabung.

Dalam tahapan ini, review harusnya concept-centric dan bukan author-centric. Yang terakhir ini sering saya temui, dan tidak dapat digunakan untuk melakukan sintesis. Concept-centric dilakukan dengan mengelomppokkan artikel berdasar konsep yang didiskusikan, sedang author centric berdasar pengarangnya. Misalnya, sewaktu saya mereview artikel tentang eGovernment di negara berkembang, salah satu konsep yang saya gunakan adakan ‘adopsi’. Berdasar konsep ini, sejumlah artikel saya temukan. Setelah dilakukan pembacaan, ternyata artikel dapat dikelompokkan lagi ke dalam sub-kategori yang terkait dengan ‘adopsi, yaitu faktor penentu adopsi, proses adopsi, dan hambatan adopsi. Kita pun akhirnya bisa mengelaborasi lebih lanjut, dengan memberikan ilustrasi berdasar penjelasan teoritis, temuan penelitian sebelumnya, atau contoh praktis (Webster dan Watson, 2002). Bisa jadi, ditemukan lagi pola tambahan subsub-kategori. Hanya saja, perlu diperhatikan seberapa detil pengelompokkan dilakukan. Apakah akan memberikan tilikan (insights) baru atau justru mengaburkan konsep utama? Kita bisa timbang-timbang.

Pengelompokkan juga bisa dilakukan berdasar serangkaian konsep, misal selain terkait dengan tema penelitian, juag dilakukan berdasar epistemologi penelitian, metode penelitian, unit analisis, atau yang lainnya.

Hasil tahapan ini bisa disajikan dalam tabel atau tabulasi-silang antar dua kategorisasi (misal antara domain dan unit analisis).

Ketiga, karena tujuan review adalah memetakan masa lalu dan menawarkan agenda ke depan, maka, tahapan selanjutnya adalah mendiskusikan apa yang sudah dilakukan oleh penelitian sebelumnya dan apa yang belum. Identifikasi ini akan memberikan daftar agenda penelitian yang bisa dilakukan pada masa akan datang. Atau membangun teori baru berdasar sintesis yang dilakukan, dengan proposisinya. Tentu proses ini seringkali tidak serta merta. Perlu proses kontemplasi, perenungan, dan mungkin membaca artikel tambahan.

Dalam menulis laporan hasil atau artikel literature review, Webster dan Watson (2002; h. xxi) memberikan ‘resep’ yang bisa diikuti. Artikel literature review seharusnya:

  1. motivates the research topic and explains the review’s contributions
  2. describes the key concepts
  3. delineates the boundaries of the research
  4. reviews relevant prior literature
  5. develops a model to guide future research
  6. justifies propositions by presenting theoretical explanations, past empirical findings, and practical examples
  7. presents concluding implications

Belum cukup jelas? Penjelasan lebih detil bisa diakses di artikelnya Webster dan Watson (2002).

Apa akibatnya jika literature review tidak dilakukan secara memadai? Duplikasi penelitian adalah salah satunya. Ini seperti mendesain kembali roda yang sudah ditemukan orang lain ratusan tahun lalu.

Referensi

Esteves, J., dan Pastor, J. (2001). Enterprise resource planning systems research: An annotated bibliography. Communications of the Association for Information Systems, 7.

Heeks, R., dan Bailur, S. (2007). Analyzing e-government research: Perspectives, philosophies, theories, methods, and practice. Government Information Quarterly, 24, 243-265.

Van de Ven, A. H., dan Poole, M. S. (1995). Explaining development and change in organizations.
Academy of Management Review, 20(3), 510–540.

Webster, J., dan Watson, R. T. (2002). Analyzing the past to prepare for the future: Writing a literature review. MIS Quarterly, 26(2), xiii-xxiii.

46 comments
  1. Dian Maretha said:

    Terimakasih pak Fathul, artikel tentang literature review ini sangat membantu saya dalam mempraktekkannya dalam penelitian2 yang akan saya lakukan, tapi yang jadi pertanyaan saya sekarang apakah basis data penelitian2 yang ada seperti ProQuest, Ebsco dan basisdata artikel yang kompeten lainnya sudah terintegrasi sehingga dapat dipastikan bahwa penelitian yang disimpan di suatu basisdata tidak sama dengan penelitian yang disimpan di basisdata lain(oleh peneliti yang berbeda) ?

    • Fathul Wahid said:

      Mbak Dian, sangat mungkin sebuah tulisan diindeks dan disimpan oleh lebih satu portal. Karenanya, dalam melakukan review, selalu cek kemungkinkan duplikasi. Ini juga yang saya lakukan ketika membuat literature review, dan memang saya temukan beberapa duplikasi.

  2. Terimah Kasih bapak, kalau boleh saya terik kesimpulannya, dengan literatur review memungkinkan identifikasi area-area mana saja yang belum pernah dieksplorasi peneliti lain, atau yang masih menyisakan problem-problem yang bisa kita teliti. sebuah penelitian pasti tidak muncul begitu saja, tetapi dilatarbelakangi oleh usaha untuk mencoba menyelesaikan atau menjawab masalah yang ditinggalkan penelitian sebelumnya. ibarat resep masakan misalnya, Si A punya resep Tumis Kangkung, dan dan si B punya resep banyam, klw tumis kang bigini klw tumis bayam begono, lah kita mau numis apa nich, apakah menggabungkan tumis kangkung plus bayam atau bikin tumis lainnya hehehhe.

    tapi bigini bapak, kalau saya akan membuat penelitian dengan model melakuka review dulu saya cenderung meniru yang sudah ada jadinya se-akan-2 kayak membuat roda yg sudah di bikin oleh orang lain dan saya cenderung tidak punya alternatif lain karena “menthok” gak ada ide lain, kalau kayak begitu itu bagaimana bapak. dan kalau dibuat model “adopsi” itu apakah juga kena hukum plagiat-isme meskipun beda tempat misalnya ….. mohon penjelasannya …

    • Fathul Wahid said:

      Persis analoginya. Untuk yang kedua, mungkin yang dimaksud penelitian replikasi. Di sini kontribusinya hanya beda konteks. Ya tidak apa-apa. Untuk level master, menurut saya kok tidak masalah. Tetapi kalau bisa ditambah ‘bumbunya’ deh, biar rasa tumisnya tidak seperti tetangga sebelah.🙂

      Kalau masalah plagiarisme, nampaknya lebih terkait dengan penulisan Mas. Sila cek di sini: http://menjadidosen.wordpress.com/8-indahnya-menulis/8-3-plagiarisme/Kalau masalah kontribusi, lebih ke ide dan pelaksanaan penelitan.

  3. Ass pak.
    berdasarkan pengalaman pak wahid..dalam melakukan literatur review, apa saja sih yang harus kita lakukan jika paper2 yang sdh kita dapatkan….apakah yang harus kita analisis, apakah abstrak, masalah, atau conclusion dari paper tersebut.. sehingga ditemukan sesuatu yang diinginkan dari paper tersebut..untuk dijadikan pembanding dalam penelitian
    mohon pencerahannya pak
    wassalam

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Syaukani,
      Kalau yang saya lakukan, yang saya review menyangkut tiga hal: domain metode (paradigma dan pendekatan penelitian yang digunakan), domain konseptual (teori yang digunakan), dan domain empiris (tema penelitian – ini yang paling penting). Untuk dapat melakukan itu, seringkali kita harus baca dengan cukup detil setiap artikel. Beberapa artikel memang kadang cukup ‘dipindai’, karena mungkin kualitasnya tidak cukup memuaskan. Tetapi jika kita melakukan critical review, memindai sangat tidak cukup. Kita harus paham ide setiap artikel dan mencoba merangkainya seperti ‘sebuah alur cerita yang melibatkan dialog’.

      Akan sangat membantu, kalau njenengan bisa akses artikel ini: Webster, J., dan Watson, R. T. (2002). Analyzing the past to prepare for the future: Writing a literature review. MIS Quarterly, 26(2), xiii-xxiii.

  4. Muhammad Hari Suharto said:

    Mengenai literatur review ini, apakah juga berlaku ketika kita membangun aplikasi yang kebutuhannya sesuai dengan keinginan dari subject tempat object penelitian? misalnya : rancang bangun sistem informasi di PT XZY ?

    matur nuwun…

    • Fathul Wahid said:

      Maaf baru respon Mas, mudah-mudahan masih berguna.

      Review dilakukan untuk melihat banyak aspek, mulai dari tema penelitian, unit analisis, pendekatan yang dilakukan, metode penelitian, dan sebagainya. Memang ada yang berpendapat, untuk ‘design research, review tidak perlu dilakukan. Tetapi maaf, tidak tidak termasuk madzhab ini.

      Betul memang sistem dibangun berdasar kebutuhan tempat penelitian, tapi pendekatan yang digunakan bisa jadi berbeda. Coba njenengan cari di Google dengan kata kunci ‘design research’ atau ‘action research’, atau yang terbaru ‘action design research’. Mudah-mudahan dapat inspirasi dari sana.

  5. Budi Suhendro said:

    Terima kasih atas kajian mengenai “Melakukan LIteratur Review”. sehingga dalam melakukan penelitian adalah benar-benar hasil karya kita. Tetapi terkadang secara tidak langsung dan tidak disadari, kita diindikasi melakukan plagiat. lantaran tulisan yang kita buat ada yang sama dengan milik hasil penelitian peneliti lain. dari Tulisan-tulisan bapak, sepertinya belum ada yang mengkaji mengenai trik menghindari tindakan plagiasme. Mungkin bapak bisa membuat tulisan mengenai hal ini, sehingga kami sebagai peneliti tidak lagi dibayang-bayangi oleh “Hantu Plagiat”. demikian yang dapat saya usulkan, atas perhatian yang diberikan saya ucapkan terima kasih

      • Budi Suhendro said:

        Terima kasih Pak atas infonya, dan Insya Allah sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman saya sejawat.

  6. Terima kasih atas kajian mengenai “Melakukan LIteratur Review” ini Pak untuk menghindari kita dianggap plagiat. Tapi bagaimana ya pak, kadang hasil penelitian orang itu tidak semua mau untuk diakses orang lain takut dicontoh orang. Usul saya, bagaimana kalo semua hasil penelitian diwajibkan dapat diakses dengan mudah untuk orang lain, sehingga harapannya hasil penelitian itu justru akan cepat berkembang, dan apabila ada orang yang membuat topik penelitian tidak takut dianggap plagiat., demikian yang dapat saya usulkan, atas perhatian yang diberikan saya ucapkan terima kasih

    • Fathul Wahid said:

      Sama-sama Mas Joko.

      Kalau semua bisa diakses akan sangat indah Mas, hanya saja siapa yang bisa mewajibkan. Lagi pula, ‘model bisnis’ untuk industri publikasi juga membatasi ini. Selain lahirnya banyak inisiatif ‘open journal’, banyak penerbit seperti Springer dan Sage yang mempunyai opsi ‘open’ yang menjadikan artikel kita (tentu setelah melewati proses review yang ketat) dapat diakses oleh siapapun, dengan membayar lumayan, mulai sekitar USD 600. Model bisnis ini juga sangat masuk akal karena penerbitan memerlukan biaya perawatan infrastruktur dan menggaji pengelola.

      Tidak banyak penerbit yang murni ‘gratis’ dan ‘open’, kecuali ada penyandang dana yang kuat dan berkomitmen jangka panjang. Salah satunya yang bertahan dan terus berkembang atas dukungan komunitas adalah: http://www.ejisdc.org

      Kalau menghindari plagiarisme, rumuskan sederhana Mas. Jangan ‘aku-aku’ ide atau tulisan orang. Kalau merujuk (bagian tulisan atau ide), selalu tuliskan sumbernya dengan benar. Tuliskan dengan bahasa sendiri. Kalau terpaksa mengutip kata-kata per kata pastikan dalam tanda petik ganda dan disertai nomor halaman.

  7. Terima kasih Pak balasan dan sarannya. Kalo berkenan saya mohon solusinya Pak. Bagaimana merumuskan suatu judul atau proposal tesis yang bisa dianggap layak ? Terima kasih sebelumnya Pak.

  8. Putri Tajuddin said:

    assalamualaikum pak fathul… sangat sangat terkesan dengan tulisan bapak tentang literatur review..
    yang kita tahu bahwa literatur review haruslah yang bersifat relevan, memadai dan mutahir (3 tahun terakhir)
    yang ingin saya tanyakan, bagaimana kalau literatur reviewnya tidak memadai pak? saya juga pernah membaca materi tentang literatur review di jelaskan bahwa
    Dalam literatur review ada 2 komponen utama yaitu kajian yang terkait dengan topik maupun tema penelitian dan theorical framework? bisa minta tolong di jelaskan secara singkat
    2 komponen utama literatur reviewx.. karena saya belum terlalu mengerti pak.. hehehe
    Terima kasih.

    • Wa’alaikumussalam Mbak Putri. Terima kasih sudah mampir. Terkait dengan komponen, menurut saya bisa beragam tergantung tujuannya apa. Kalau tujuan kita memetakan topik dan mengusulkan topik yang belum diteliti maka fokus kita pada topik penelitian sebelumnya (empiral domain). Kalau tujuan kita mengetahui bagaimana teori digunakan dalam penelitian (bidang tertentu), maka fokus kita akan beda lagi (conceptual domain). Kalau tujuannya pada memetakan metode penelitian yang digunakan, maka kita bisa fokus ke sana (methodological domain), dan seterusnya. Ketiga domain ini pun bisa dibuat tabulasi silang.

      Kalau perlu contoh, kirim e-mail ke saya mbak, nanti saya kirim ke e-mail njenengan.🙂

      • Putri Tajuddin said:

        terima kasih banyak pak atas penjelasannya…
        email sy :putrimutu@yahoo.co.id
        sekali lagi maturnuwun pncerahannya pak🙂

        • Fathul Wahid said:

          Contoh artikel sudah saya kirim ke e-mail Mbak. Mudah-mudahan bermanfaat.

  9. Putri Tajuddin said:

    terima kasih pak fathul…

  10. Nur Widiyasono said:

    ass wr wb , Punten Pak Fathul mau tanya ….. apakah Bapak pernah menulis penelitian tentang Data Center T4 , boleh di share pak ? matunuwun 🙂

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam wr wb Mas Nur, Data center topik yang menarik Mas, hanya saja bidang saya tidak di sana. Mungkin Mas Nur bisa temukan di tempat lain, tidak di blog ini. Selamat berburu.🙂

  11. Bagus Muhammad Akbar said:

    Terimakasih pak atas penjelasannya sangat bermanfaat sekali, namun saya ada pertanyaan pak

    1. Apakah kita bisa menggunakan penelitian yang lama sekali dalam literatur review ataukah kita harus selalu mencari yang terbaru?

    Maaf pak, saya juga ada permintaan pak. Mohon Pak Fathul Juga menulis tentang plagiarisme dan batasan-batasannya pak.

    Terima kasih sekali.

    • Fathul Wahid said:

      Tergantung. Ada pendapat/temuan yang lebih baru tidak? Kalau tidak, bagi saya muncul pertanyaan, jangan-jangan tidak ada yang tertarik dengan topik yang kita teliti. Untuk plagiarisme sila dicek di http://menjadidosen.wordpress.com Mas.

  12. Pandu Aji said:

    apakah dalam penulisan landasan teori harus bersumber pada buku teori? menggunakan jurnal-jurnal penelitian sebelumnya sebagai landasan teori apa boleh?

    • Fathul Wahid said:

      Mas Pandu, dua-duanya bisa digunakan. Intinya landasan teori berisi paparan konsep dan keterhubungan antar konsep yang *dipakai* dalam membimbing pengumpulan dan analisis data. Jangan menuliskan konsep yang akan pernah dipakai dalam penelitian. Kedalamannya juga disesuaikan dengan kedalaman analisis yang akan dilakukan.

  13. Assalamualaikum Ms Fathul…artikel yg luar biasa mencerahkan. Sebenarnya pengen ktm langsung, tp berhubung yg empunya tulisan konon sibuknya sekali jd sy bertanya disini saja. Pertama..tentang literature review sendiri, adakah batasan jumlah artikel jurnal dan atau bukunya? Kedua, kaitannya dgn rentang penerbitan kumpulan artikel yg direview. Saya pernah dapat feedback dr reviewernya bahwa artikel yg direview harus 3 tahun terakhir, tp ada juga yg tdk mensyaratkan demikian. Menurut pengalaman panjenengan bagaimana? Maturnuwun atas pencerahannya lho mas🙂

    Wassalamualaikum…

    Mere.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Alam, Senang bisa ketemu di sini. :- Sudah berangkatkah?

      Setahu saya, tidak ada batasan rigid berapa banyak artikel/buku yang dimasukkan dalam literature review. Kata kunci yang tepat mungkin: comprehensiveness. Kira-kira dengan cakupan artikel yang digunakan, review bisa komprehensif tidak? Jadi agak sulit memberikan angka pasti. Demikian juga dengan rentang waktu. Menurut saya tergantung dengan tujuan review yang kita lakukan. Kalau yang kita lakukan, misalnya, memetakan kajian empiris sosiologi sejak zaman Latour, bisa mundur puluhan tahun kan? Tetapi kalau sudah ada yang melakukan sampai dengan tahun 1990an, kita bisa lanjutkan mulai 1990an untuk melihat perubahannya. Atau kalau njenengan melihat sosiologi dalam konteks perubahan yang dibawa Internet, rentangnya bisa sejak Internet lahir.

      Salah satu pertimbangan lain adalah pratikalitas. Kalau review hanya dilakukan sendirian, menangani ribuan artikel tentu tidak praktis. Kalau dalam rentang yang pendek, terlalu banyak artikel, salah satunya, bisa difokuskan ke konteks (misal negera berkembang), atau berdasar sumber (artikel jurnal saja, dan artikel dalam prosiding diabaikan), dan seterusnya.

      Mudah-mudahan ada jawaban yang nyambung Mas. Sukses untuk studinya.

  14. Okey, tusen takk for informasjonen ya Mas Fathul. Sangat inspiratif luar biasa nih masukannyah. Anyway, so far saya masih menunggu panggilan dari DIKTI, ya semoga bisa lancar ke depannya. Mohon doanya ya🙂 Salam untuk Bu Nurul ya.🙂

    • Fathul Wahid said:

      Sama-sama Mas Alam. Senang kalau coretan ada manfaatnya.

      Mudah-mudahan beasiswanya sukses Mas, dan bisa berangkat secepatnya.

      Insya Allah salam disampaikan.

  15. rahmad zainul said:

    asssalamu’alailkum pak
    terimakasih atas pengetahuan literatur review-nya. namun saya masih bingung cara membuat literatur review artikel/penelitian yang berkaitan dg membuat aplikasi (contoh: aplikas sistem inventori pada PT. Shadana). sementara yang saya tahu salah satu isi literatur review harus mencantumkan letak posisi penelitian yang bisa membedakan dengan penelitian orang lain. sedangkan membuat aplikasi itu sudah banyak dan sifatnya mirip2. Mohon penjelasannya. terima kasih.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikussalam Mas Rahmad,

      Literature review bisa difokuskan pada satu atau banyak hal, misal dari sisi tematik, metodologi, ataupun teori yang digunakan. Untuk contoh yang njenengan berikat itu sangat spesifik, dan saya curiga yang seperti ini bukan penelitian desain (design research) tetapi routine design, alias bukan penelitian dan pemecahan masalah saja. Tidak ada tilikan baru yang ditawarkan. Coba njenengan lirik ini: https://publikasiinternasional.wordpress.com/2013/03/17/penelitian-desain/

  16. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Terima kasih atas artikelnya, Pak. Menambah pengetahuan…
    Mohon tips dan triknya dalam berburu/googling jurnal internasional dong, Pak. Karena, sepengalaman saya seumpama ada judul yang cocok, paling cuma bisa di-download abstraknya saja, selebihnya harus register, bayar, atau apalah gitu.. Hehehe.. Apalagi yang berbahasa Indonesia, masih kurang banyak untuk banyak pokok bahasan tertentu..

    Terima kasih sebelumnya, Pak..

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Fahmi,

      Memang itu masalah di Indonesia Mas. Coba cek, universitas njenengan langganan portal jurnal, seperti ScienceDirect, EBSCO, atau Proquest. Jika ya, itu harta karun yang dapat dimanfaatkan.

      Cara lain, cari data tulisannya, kirimkan ke kawan yang mempunyai akses (misal yang sekolah di luar negeri) dan baik hati untuk membantu.🙂

  17. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Terima kasih atas artikelnya, Pak.
    Kalau boleh usus pak, bagaimana jika tiap postingan yang berhubungan dengan teknis peneliatian, format dan file contoh juga disertakan pak… biar makin paham dan juga pengunjung blog panjenengan bisa makin tambah banyak🙂
    Sebagai contoh, mengenai “literatur review” bagaimana jika jika file format dan contoh literatur review juga disertakan untuk didownload.🙂

  18. Adam Prayogo Kuncoro said:

    Assalamu’alaikum…
    Terima kasih atas “wadah ilmu” ini Pak.
    Saya beberapa kali menanyakan perihal inti dari Literature Review ke senior saya.
    “Penulisan literature review berisikan hampir keseluruhan atau hanya garis besar dari penelitian tersebut?”
    Ada yg menjawab keseluruhan, ada pula yg menjawab sebagian Pak.
    Kalau menurut Bapak bagaimana? Mohon pencerahan Pak.
    Terima kasih.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Adam,

      Tingkat detil sangat tergantung dari tujuan literature review. Review kritis misalnya, tidak mungkin dilakukan tanpa memahami keseluruhan tulisan dengan detil. Tetapi yang didokumentasikan, ya tidak keseluruhan, tetapi bagian-bagian penting.

      Ini contoh review yang tidak sangat detil: http://origin-www.computer.org/csdl/proceedings/hicss/2013/4892/00/4892b743.pdf

  19. Nurohman said:

    Assalamualaikum.wrb
    Setelah saya membuka blog bapak, banyak sekali ilmu yang saya ketahuidan pahami Tapi sebagai peneliti yang pemula seperti saya, bagaimana sih bapak untuk kiat dan sukses supaya menjadi peniliti yang sukses..!! terima kasih banyak

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Nurohman,

      Kiatnya: teruslah merasa bodoh dan belajar.🙂

  20. Andri Sulistiyanto said:

    Assalamu’alaikum wr.wb…
    terimakasih atas artikel tentang literatur review ini.
    saya mau menanyakan, bagaimana mencari sumber-sumber literatur review ? apakah sumber dari tulisan dalam blog boleh digunakan ?

    Kalau bapak berkenan, saya mengusulkan topik tentang plagiarisme untuk dijadikan entri baru, karena terkadang secara tidak disadari, kita telah melakukan plagiat dalam penulisan.
    Terima kasih

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Andri,

      Salah termasuk benci dengan mahasiswa bimbingan saya yang mengacu blog sebagai sumber. Ada banyak masalah validitas di sana. Salah satunya,entri blog tidak melalui proses review, dan bisa jadi sampah lolos di sana. Review seharusnya dilakukan pada sumber yang sudah divalidasi, seperti tulisan di jurnal, prosiding, dan buku.

      Untuk plagiarisme, monggo lirik ulasan singkat saya di sini: http://menjadidosen.wordpress.com/8-indahnya-menulis/8-3-plagiarisme/

      Mudah-mudahan bermanfaat.

  21. Edy SKP said:

    Salam kenal pak.
    Klo baca topik ini rasanya ada geliat mau ikut2an untuk memulai literature review, namun untuk peneliti pemula biasanya berapa batasan untuk jumlah literature review yya pak yg digunakan untuk menyusun tesis. Kemudian ada istilah summary yg katanya merupakan bagian dalam literatur review pak, mohon penjelasannya juga mengenai summary itu pak. Lalu apakah ada teknik untuk “membaca cepat” saat melakukan literatur review pak?
    Terima kasih pak Fathul.

    • Fathul Wahid said:

      Salam kenal Mas Edy,

      Kalau batasan pasti setahu saya tidak ada Mas. Namun batasan bisa dibuat dengan kriteria tertentu sesuai dengan kebutuhan, tetapi tetap disertai argumen. Misal, dibatasi waktu, fokus pada penelitian yang diterbitkan pada tahun x sampai y. Alasannya, misalnya, sudah ada review serupa untuk tahun sebelum x, dan yang Anda lakukan untuk melengkapi potret terkini.

      Saya tidak paham yang Anda maksud dengan summary sebagai bagian review: apakah per tulisan atau bagaimana? Yang saya tahu, literature review tidak mungkin dapat dilakukan kalau kita tidak memahami tulisannya. Salah satu cara memahaminya adalah dengan membuat summary.🙂

      Untuk membaca cepat, tentukan dulu fokus literature reviewnya: bagaimana pengkodean akan dibuat. Dalam membaca, fokuskan ke kode-kode tersebut. Misal, karena fokus pada teori, ya perhatikan dulu bagian teori. Kalau fokus ke metode penelitian, perhatian bagian ini, dan seterusnya. Untuk semuanya, mulailah dengan membaca abstrak, pendahuluan, dan kesimpulan.🙂

      Mudah-mudahan membantu Mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: