Kesalahan yang tidak disukai editor

Artikel editorial dalam edisi terbaru (vol. 55) The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries (EJISDC) yang hanya sepanjang 2,5 halaman menurut saya cukup menarik (Harris & Davison, 2012). Dua orang ini sudah terbukti dedikasinya dalam mengawal EJISDC mulai dari awal sampai dengan berreputasi tinggi di kalangan peneliti sistem informasi untuk konteks negara berkembang. Saya kebetulan pernah bertemu mereka berdua dalam kesempatan yang berbeda. Saya bertemu dengan Harris tahun 2007 di Makati City, Filipina pada sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh University of Philippines. Harris pada waktu banyak bercerita tentang proyeknya (eBario) di Bario, Serawak. Yang menarik, ketika saya memperkenalkan diri, dia langsung berkomentar, “Kamu banyak publikasi ya”.🙂 Ternyata dia membaca beberapa artikel saya tentang warung Internet di Indonesia yang saya publikasikan mulai tahun 2003. Saya ketemu Davison di Kathmandu, Nepal pada tahun 2011, ketika dia memberikan ceramah tentang publikasi internasional dalam sebuah konferensi yang dihelat oleh IFIP WG 9.5.

Kembali ke artikel. Kata orang, untuk menjadi lebih baik ada dua cara: melihat praktik yang baik dan yang jelek sekaligus. Ikuti, tiru, dan tingkatkan yang baik; serta tinggalkan dan jangan ulangi yang jelek. Nah. artikel ini terkait dengan yang kedua.

Berikut saya kutipkan kesalahan-kesalahan (Harris & Davison, 2012) dalam penulisan artikel untuk jurnal internasional (tentu berlaku untuk jurnal nasional) disertai dengan ilustrasi tambahan.

  1. Judul terlalu panjang. Harris & Davison (2012) memberikan ‘ancer-ancer’ (rule of thumb) lebih dari 10 kata. Meskipun ini bukan aturan pasti, semakin singkat judul semakin baik. Day (1975, h. 33) membuat rumus: ‘the title should be the fewest possible words that adequately describe the content of the paper.’ Diskusi tentang memilh judul artikel dapat dilirik di sini.
  2. Abstrak yang tidak merangkum artikel secara ‘lengkap’. Penting untuk selalu diingat bahwa abstrak, seperti artinya, adalah rangkuman, dan bukan pendahuluan. Diskusi tentang menulis abstrak dapat dilihat di sini.
  3. Pernyataan tujuan penelitian yang berulang kali dimunculkan. Pengalaman saya ketika melakukan review menunjukkan bahwa artikel yang demikian seringkali merupakan transformasi dari laporan yang lebih panjang (termasuk tesis) yang tidak mendapatkan cukup energi dari penulisnya ketika ditulis ulang.
  4. Pendahuluan dengan literature review yang ‘nggerambyang’ (maaf tidak menemukan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang cukup mewakili untuk kata ‘rumbling‘) atau tidak sistematis, tidak jelas dan sangat panjang. Pendahuluan harusnya singkat. Tidak ada aturan baku memang, tetapi untuk artikel yang cukup pendek (sekitar 10 halaman), pendahuluan lebih dari satu halaman sudah cukup panjang. Diskusi tentang bagaimana menulis pendahuluan dapat dibaca di sini.
  5. Literature review yang tidak mengutip artikel relevan dalam jurnal yang relevan. Pastikan kita tidak lupa mengutip artikel penting yang relevan untuk topik penelitian kita. Beberapa jurnal bahkan ‘mengharuskan’ mengutip artikel relevan yang pernah terbit dalam jurnal tersebut. Kualitas jurnal yang dikutip pun perlu diperhatikan. Meski belum tentu semua orang setuju, salah satu cara mengetahui kualitas artikel yang akan kita kutip adalah dengan melihat banyak kutipan untuk artikel tersebut sebelumnya. Kita bisa periksa menggunakan Google Scholar misalnya. Diskusi cara melakukan literature review dapat dilihat di sini.  Literature review biasanya bukan penelitian ‘stand-alone‘ meski dapat dilaporkan dalam artikel khusus, tetapi merupakan bagian dari penelitian yang lebih besar.
  6. Tidak adanya masalah yang dipecahkan oleh penelitian yang dilaporkan, atau penelitian memecahkan masalah yang tidak ada. Merumuskan masalah dengan baik akan sangat membantu dalam melakukan penelitian. Diskusi tentang ini dapat disimak di sini.
  7. Justifikasi metode penelitian yang dipilih yang tidak kuat. Rumus umumnya sebetulnya sederhana: berikan justifikasi dengan argumen yang kuat untuk semua yang bisa kita pilih dalam penelitian, termasuk metode penelitian. Diskusi tentang mengembangkan argumen dapat dilirik di sini.
  8. Prosedur atau langkah detil metodologi yang lemah sehingga tidak memungkinkan melacak ulang bagiamana temuan penelitian dihasilkan. Diskusi tentang menulis bagian metode penelitian dapat dibaca di sini.
  9. Pelaporan temuan atau hasil penelitian yang tidak lengkap. Diskusi tentang melaporkan temuan penelitian dapat disimak di sini.
  10. Diskusi yang terlalu spekulatif yang tidak didukung oleh temuan penelitian. Pastikan setiap klaim yang kita buat dalam artikel didukung dengan data yang didapatkan dalam penelitian tersebut. Diskusi masalah ini sila lirik di sini.
  11. Kesimpulan yang tidak ada hubungannya dengan temuan penelitian dan tidak berhubungan dengan rumusan masalah. Sila kunjungi entri ini untuk diskusi bagaimana menulis bagian kesimpulan.
  12. Referensi yang tidak lengkap dan konsisten. Pastikan semua referensi yang dikutip dalam artikel dituliskan dalam daftar referensi dengan lengkap (misalnya, termasuk volume, nomor, dan nomor halaman untuk artikel jurnal); dan sebaliknya, pastikan semua yang ditulis dalam daftar referensi pernah dikutip dalam artikel.
  13. Artikel yang terlalu panjang atau terlalu pendek. Pastikan petunjuk yang diberikan sebelum mengirimkan artikel ke jurnal. Beberapa jurnal menginginkan artikel yang cukup pendek (sekitar 3000-4000 kata), beberapa yang lain mentoleransi artikel yang cukup panjang (terutama jurnal teoretis), dan sebagian besar biasanya sekitar 8000-10000 kata.
  14. Tidak disertakannya lampiran yang diperlukan, seperti daftar kuesioner dan daftar pentanyaan wawancara (interview guide). Beberapa jurnal menginginkan, beberapa yang lain tidak meminta.

Empat belas kesalahan di atas, mudah-mudahan menjadi ‘daftar periksa’ untuk tidak diulangi. Selamat menulis!

Referensi
Day, R. (1975). How to write a scientific paper. IEEE Transaction on Professional Communication, 41(7), 486-494.

Harris, R. W. & Davison, R. M. (2012). Editorial: A note to contributors. The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries, Vol. 55, 1-3.

5 comments
  1. Pan W said:

    Mantap mas thanks infonya

    • Fathul Wahid said:

      Nuwun Mas Dimas. Bagaimana kabar Polandia?

      • Pan W said:

        Di sini lumayan dingin mas, berusaha untuk tetap produktif menulis paper Mas,

  2. nur widiyasono said:

    Mantabs Pak pembekalannya …. terima kasih🙂

    • Fathul Wahid said:

      Sama-sama Mas Nur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: