Arsip

Menulis

Nampaknya sudah sangat lama saya tidak menambah entri blog ini. Aha, ternyata, entri terakhir saya tulis lebih dari tiga tahun lalu, tepatnya 11 Januari 2014. Ini mengindikasikan banyak hal: (a) menjaga semangat tidaklah mudah; (b) ide yang bermakna pun tidak datang setiap saat, dan (c) melepaskan diri dari rutinitas juga pekerjaan yang menantang.

Terlepas dari itu, entri ini terkait dengan menyikapi temuan penelitian yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau kontraintuitif (counterintuitive).

Pertama, topik penelitian sendiri seharusnya memang kontraintuitif. Kalau sebuah fenomena sudah intuitif, dan diterima dengan mudah tanpa debat, mengapa harus diteliti. Ini sama halnya mencari jawab atas pertanyaan yang semua orang sudah tahu jawabnya. Karenanya, ide penelitian selain berasal dari kesenjangan pengetahuan (gap spotting), juga dapat berasal dari problematisasi (problematization) (Alvesson & Sandberg, 2011). Problematisasi adalah menantang pemahaman yang dianggap sudah mapan. Ini jelas kontraintuitif. Read More

Iklan

Ada beberapa isu menarik, paling tidak menurut saya, yang banyak didiskusikan oleh komunitas akademik Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Salah satunya terkait dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara no. 17/2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Dengan dekimian, peraturan serupa no. 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tidak berlaku. Ada beberapa perubahan yang cukup mendasar dalam peraturan ini, salah satunya bahwa salah satu syarat menduduki jabatan fungsional profesor adalah memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi (pasal 26 ayat 4). Syarat ini tidak ditemui dalam peraturan sebelumnya.

Kemarin (15/05/2013), dalam sebuah seminar di Universitas Negeri Semarang, Prof. Supriadi Rustad (Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemdikbud) menyampaikan informasi yang menurut saya cukup spektakuler. Katanya, profesor yang tidak menghasilkan karya dalam jurnal internasional bereputasi (bukan yang abal-abal), tunjangan jabatannya terancam dicabut. Katanya juga, Ditjen Dikti sedang menggodog aturannya.  Read More

Saya ingin mengawali entri ini dengan beberapa fragmen cerita berikut:

Pertama. Seorang kawan yang mengambil program doktoral di salah satu negara Eropa kaget ketika pembimbingnya mengomentari pilihan kata yang digunakannya dalam tesis. Di institusi dia mengambil program master, di negara lain yang berjarak lebih dari separoh jagad dari Eropa, tidak demikian. Pembimbing masternya tidak sampai sedetil itu. Karena pengalaman ini, bahkan kawan tersebut menilai bahwa pembimbing doktoralnya tersebut ‘resek’.

Kedua. Di salah satu universitas di Indonesia, ketika seorang kolega dengan cermat membaca tesis  selama proses bimbingan kadang diterima lain oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa tidak mendapatkan perlakukan sama dari pembimbing lainnya. Hal yang mirip saya dapatkan ketika seorang kolega mengomentari tesis salah satu bimbingan saya yang diujinya, “Ini pasti pembimbingnya cerewet soal penulisan”. Kolega saya mendapatkan kualitas penulisan yang lebih baik dibandingkan dengan tesis yang pernah dia uji. Read More

Apa kontribusi teoretis penelitian ini? Pertanyaan ini adalah salah satu favorit, tetapi sekaligus yang paling ‘mematikan’, bagi saya ketika melakukan penelitian. Setiap penelitian atau artikel publikasi yang ditulis seharusnya menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini. Secara lugas, Mintzberg (2005:361) menyatakan, “If there is no generalizing beyond the data, no theory. No theory, no insight. And if no insight, why do research?”. Nah lho, benar-benar ‘mematikan’ kan? Tentu saja, perlu dicatat di depan, tidak semua disiplin mempunyai tradisi seperti ini. Selain itu, perlu juga dicermati konsep generalisasi dalam beragam tradisi penelitian, seperti antara positivis dan interpretif, yang mempunyai pendekatan berbeda. Read More

“Mahabir Pun leaned back, knitted his eyebrows, and smiled wanly at the visitor sitting across the table piled high with all manners of papers. The diminutive dynamo thought awhile before answering the visitor’s question which was “How did you singlehandedly bring the Internet to this isolated remote mountain region of Nepal? What drove you to do this? Why of all places Nangi?” He was proud of what he has achieved which was no less than bringing in the outside world to the remote mountain villages in the shadow of the towering peaks of the Himalayas.”

Apa yang Anda bayangkan ketika membaca paragraf di atas? Potongan sebuah novel, cerita pendek, atau fitur di koran? Jika jawaban Anda adalah salah satu dari ketiga alternatif tersebut, Anda salah.  Paragraf tersebut adalah potongan dari artikel (Sein et al., 2012) dari konferensi paling bergengsi di bidang sistem informasi, International Conference of Information Systems (ICIS) yang baru saja diselenggarakan di Orlanda, Florida, Amerika Serikat, pada petengahan Desember 2012. Artikel tersebut adalah kasus pembelajaran (teaching case) dan dipilih sebagai artikel terbaik pada ICIS 2012. Kebetulan saya kenal personal dengan ketiga penulis tersebut: guru, mantan teman sekantor ketika menjadi research fellow, dan mantan teman sekelompok ketika mengambil program master. 🙂 Read More

Artikel editorial dalam edisi terbaru (vol. 55) The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries (EJISDC) yang hanya sepanjang 2,5 halaman menurut saya cukup menarik (Harris & Davison, 2012). Dua orang ini sudah terbukti dedikasinya dalam mengawal EJISDC mulai dari awal sampai dengan berreputasi tinggi di kalangan peneliti sistem informasi untuk konteks negara berkembang. Saya kebetulan pernah bertemu mereka berdua dalam kesempatan yang berbeda. Saya bertemu dengan Harris tahun 2007 di Makati City, Filipina pada sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh University of Philippines. Harris pada waktu banyak bercerita tentang proyeknya (eBario) di Bario, Serawak. Yang menarik, ketika saya memperkenalkan diri, dia langsung berkomentar, “Kamu banyak publikasi ya”. 🙂 Ternyata dia membaca beberapa artikel saya tentang warung Internet di Indonesia yang saya publikasikan mulai tahun 2003. Saya ketemu Davison di Kathmandu, Nepal pada tahun 2011, ketika dia memberikan ceramah tentang publikasi internasional dalam sebuah konferensi yang dihelat oleh IFIP WG 9.5.

Kembali ke artikel. Kata orang, untuk menjadi lebih baik ada dua cara: melihat praktik yang baik dan yang jelek sekaligus. Ikuti, tiru, dan tingkatkan yang baik; serta tinggalkan dan jangan ulangi yang jelek. Nah. artikel ini terkait dengan yang kedua. Read More

Terus terang, saya kesulitan mencari judul yang lebih enak dibaca untuk entri ini. Dalam bahasa Inggris, entri ini mendiskusikan dengan singkat ‘clear writing‘. Mengapa mendadak saya menulis entri ini. Dalam sepekan terakhir saya berjuang membuat tulisan dengan logika yang jelas dan argumen yang meyakinkan sepanjang tiga halaman. Sampai hari ini saya masih tidak puas dengan kualitas tulisan tersebut. Beberapa paragraf harus saya tulis ulang beberapa kali. Banyak kalimat yang saya bongkar dan formulasikan ulang. Banyak kata yang saya ganti. Mengapa? Karena menulis yang jelas bukanlah pekerjaan mudah. Padahal untuk menulis entri ini hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit. 🙂 Read More