Memilih ‘outlet’ publikasi

Every art and every inquiry, and similarly every action and choice, is thought to aim at some good; and for this reason the good has rightly been declared to be that at which all things aim.” – Aristoteles

Mana yang lebih baik untuk publikasi? Apakah artikel jurnal selalu lebih baik dibandingkan dengan artikel konferensi? Jawabannya: tergantung.

Jika kita menggunakan ukuran nilai yang diberikan dalam kenaikan jabatan akademik di Indonesia, artikel jurnal internasional diberi nilai 40 (maksimal), sedang artikel konferensi internasional 15 (maksimal). Namun, kenyataan di lapangan dapat memberikan cerita yang berbeda. Tidak jarang artikel konferensi lebih berkualitas dibandingkan dengan artikel jurnal, karena dalam praktik terdapat konferensi yang dijalankan dengan sangat berkualitas dengan acceptance rate yang sangat ketat (dapat mencapai 20% untuk konferensi yang bergengsi). Artinya, jika ada 100 manuskrip masuk, hanya 20 yang diterima untuk dipresentasikan. Sebaliknya, acceptance rate beberapa jurnal bahkan sangat longgar.

Fakta ini nampaknya juga sudah dijadikan perhatian para penilai angka kredit dalam rangka kenaikan jabatan akademik, untuk menilai artikel satu per satu, dan tidak hanya didasarkan pada bentuk publikasi.

Terlepas dari besaran nilai yang berbeda, dua bentuk publikasi ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Konteks komunitas keilmuan juga mempunyai andil di sini.

Ernst (2006) memberikan kelebihan setiap bentuk publikasi ini dengan dengan sangat baik. Namun perlu dicatat, bahwa tradisi setiap disiplin ilmu bisa jadi sangat berbeda. Latar belakang keilmuan Ernst adalah ilmu komputer. Bagi yang memilih melakukan publikasi di konferensi, dibandingkan dengan jurnal: (1) konferensi mempunyai reputasi lebih baik; (2) konferensi memberikan visibilitas yang lebih baik dan dampak yang lebih tinggi; (3) konferensi mempunyai kualitas yang lebih tinggi; (4) konferensi lebih aktual; dan (5) konferensi mempunyai standar kebaruan kontribusi yang lebih tinggi.

Sebaliknya, jurnal menjadi tujuan publikasi karena: (1) jurnal mengakomodasi artikel yang panjang; (2) review jurnal lebih detil; (3) jurnal memberi kesempatan untuk melakukan revisi artikel dan mengirimkannya ulang; (4) jurnal memiliki acceptance rate yang tinggi; dan (5) banyak universitas yang melakukan evaluasi dosen berdasar publikasi di jurnal.

Saya yakin ketika Anda membaca kelebihan setiap ‘outlet’ ini, kadang menyatakan setuju, dan kadang menggelengkan kepala tanda tak setuju. Termasuk saya.

Dalam tradisi disiplin sistem informasi yang saya geluti, khususnya yang terkait dengan eGovernment dan information and communication technology for development (ICT4D), beberapa kelebihan yang disebut oleh Ernst (2006) tidak berlaku. Sebagai contoh, dalam komunitas sistem informasi, jurnal menginginkan kualitas artikel yang lebih tinggi dibandingan dengan konferensi. Tidak jarang, konferensi dijadikan forum untuk mendapatkan masukan untuk meningkatkan kualitas artikel.

Namun demikian, beberapa konferensi, seperti International Conference on Information Systems (ICIS), dianggap memiliki kualitas review setingkat jurnal. Untuk bidang eGovernment, EGOV conference mempunyai acceptance rate yang cukup rendah (atau keketatan seleksi yang cukup tinggi), sekitar 20-30%.

Banyak artikel jurnal yang sebelumnya sudah dipresentasikan dalam konferensi. Beberapa jurnal mensyaratkan artikel konferensi yang diterbitkan di jurnal harus berbeda minimal 20%. Beberapa jurnal lain bahkan tidak menerima artikel yang telah dipresentasikan di konferensi.

Bagaimana dengan komunitas disiplin Anda?

Referensi

Ernst, M. (2006). Choosing a venue: conference or journal? Diakses pada 5 Februari 2012 dari  http://www.cs.washington.edu/homes/mernst/advice/conferences-vs-journals.html

8 comments
  1. Semoga Peraturan baru membawa sisi positipnya ya pak, syukur 2x di pertimbangkan lagi tidak hanya jurnal yg di lihat tapi masuk konferensi juga bisa di anggap

  2. 3wdd said:

    meskipun sama-sama konferensi atau jurnal international, besarnya nilai dan tingkat gengsi masing-masing jurnal atau konferensi apakah tidak tergantung pada ranking pak ?, kira-kira ada tidak perankingan dari suatu lembaga international pada jurnal-jurnal dan konferensi international, sehingga ada daftar jurnal international manakah yang terbaik, paling ketat dan paling tinggi kualitasnya atau konferensi manakah yang paling ketat acceptance rate-nya, paling berpengaruh pada pengembangan dalam bidang ilmu terkait, dan paling berkualitas ?
    sehingga ranking jurnal atau konferensi tersebut akan menjadi standar penilaian, baik dalam kenaikan jabatan akademik maupun lainya, mohon pencerahanya pak. terimakasih

    • Fathul Wahid said:

      Ranking juga jadi pertimbangan Mas. Penulis juga seharusnya menimbang-nimbang kualitas tulisan sebelum memilih outlet. Kalau nekad dikirim ke jurnal bergensi, dengan tulisan yang tidak ‘jounalable’ ya kemungkinan besar ditolak.

      Acceptance rate dan sejenisnya juga bisa dijadikan indikator kualitas. Kalau jurnal secara lebih spesifik ada impact factor. Cuma, sampai saat ini, saya belum pernah dengar kalau isu ini diperhatikan dalam kenaikan jabatan akademik.

      Ini sebatas yang saya tahu lho Mas.

      • sore pak fathul,..
        sebenarnya saya penasaran aja, temen-temen yang sering bikin artikel buat dipublikasikan baik di jurnal nasional atau di jurnal yang lebih gede “gengsi”nya itu rata-rata punya tujuan apa ya?
        apakah hanya demi “gengsi” / angka kredit untuk naik jabatan saja?

        lalu misal mungkin saja beberapa diantara mereka punya temuan yang bisa dipatenkan.
        Apa saja yang mesti kita pertimbangkan, apakah kita mesti patenkan temuan kita itu dengan harapan temuan itu dapat terus dikembangkan dengan dana dari hasil paten tersebut.
        ataukah dipublikasikan saja? takutnya malah menyesal kemudian..

        • Fathul Wahid said:

          Sore Mas Yoga. Nah, itu lebih tepatnya ditanyakan ke teman njenengan Mas. Saya tidak tahu. Jawabannya bisa macam-macam, dan tidak ada seorang pun yang bisa memaksakan satu macam.

          Terus terang saya tidak pendukung hak paten Mas, yang menurut saya sangat kapitalis.🙂 Dan, njenengan tidak harus setuju dengan saya. Coba bayangkan kalau ini dijadikan ukuran untuk kawan-kawan yang menggeluti filsafat misalnya. Apa kemudian kita akan katakan, belajar filsafat tidak berguna, dan kawan-kawan yang menggeluti juga sama? Saya tidak tahu pendapat njenengan.

          Kalau saya ditanya motivasi saya, bisa bermacam-macam. Idealisnya, saya ingin bermanfaat untuk orang banyak. Ini harapan saya dan saya merasa bahagia, meski saya tidak bisa menjamin orang lain benar-benar mendapatkan manfaat. Motivasi yang baik apapun hasilnya tidak akan membuat orang menyesal. Ini menurut saya sih.🙂

          Motivasi sangat personal Mas. Saya diskusikan dengan singkat di sini: https://publikasiinternasional.wordpress.com/2012/02/05/mencari-motivasi/

          Apa motivasi Mas Yoga?🙂

  3. ria devina endsuy araneztevyo J.A.D said:

    Assalamualaikum pak……….
    Terus teraaang setelah saya membaca tulisaan anda mengenai pemilihan outlet untuk publikasi sudah mendapat beberapa pencerahan untuk memilih mana ♈ǝлƍ lbh tepat untuk pemublikasian tulisan tentunya disesuaikan dgn kbutuhan tujuan mempublikasikan tulisan kita ke otlet publikasi ♈ǝлƍ dipilih.

    Pertanyaan saya,pada klebihan publikasi d konfrensi tertulis bahwa konfrensi mempunyai reputasi ♈ǝлƍ lbh baik dan memberikan visibilitas tinggi serta dampak ♈ǝлƍ lebih tinggi……”Reputasi yang seperti apakah ♈ǝлƍ d maksud? Dan dampak ♈ǝлƍ seperti apa pula contohnya?

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Ria. Di atas saya tulis, saya mungkin tidak termasuk yang sependapat dengan ini. Hanya saja reputasi konferensi yang menentukan komunitas dan tentu saja terkait dengan kualitas konferensi. Di bidang saya misalnya (sistem informasi), ICIS, ECIS, atau HICSS mempunyai reputasi yang sangat baik. Artikel yang lolos konferensi-konferensi ini hanya sekitar 20%.

      Dampak di sini bisa diartikan bermacam. Salah satunya terhadap penelitian lanjutan, diskusi lanjutan, dan lain-lain. Saya pernah diskusikan masalah ini di sini: http://menjadidosen.wordpress.com/6-indahnya-meneliti/6-3-relevansi-penelitian/

      Mudah-mudahan bermanfaat Mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: