Sepuluh jurus menulis artikel ilmiah yang membosankan (bagian 2)

CATATAN: Kata kunci entri ini adalah ‘membosankan’. Untuk menghindari salah paham, lakukan SEBALIKNYA dari apa yang dianjurkan oleh 10 jurus ini untuk membuat artikel yang ‘TIDAK membosankan’. 

Entri ini adalah lanjutan dari entri sebelumnya yang dapat ditemukan di sini.

Jurus 6: Abaikan tahapan dalam penalaran
Hindari menuliskan tahapan, logika, dan argumen dalam artikel. Langsung saja melompat pada klaim dan kesimpulan. Jangan berikan bukti untuk setiap penalaran yang dituliskan. Kalau diperlukan, tambahkan logika yang tidak konsisten. Dengan melakukan jurus ini, artikel Anda dijamin akan membosankan.

Ilustrasi 6: Lyytinen dan Saunder (2011) menganggap kesalahan dalam penalaran sebagai ‘fatal flaw‘, kelemahan fatal dalam menulis artikel. Namun tidak jarang, kita temua artikel yang seperti ini lolos dan proses review yang mungkin tidak ketat. Penulis melakukan banyak klaim tanpa panalaran dan bukti yang memadai.

Jurus 7: Gunakan banyak singkatan dan istilah
Ingin terkesan canggih? Gunakan banyak singkatan dan istilah dalam artikel Anda. Hilangkan juga penjelasan untuk setiap singkatan dan istilah tersebut. Jika ini Anda lakukan, jaminan artikel yang membosankan sudah Anda dapatkan.

Ilustrasi 7: Tidak diperlukan.🙂

Jurus 8: Hilangkan humor dan gaya bahasa
Hilangkan semua humor dan gaya bahasa dalam artikel Anda. Buatkan kalimat yang mekaniskan dan dengan pola yang seragam.

Ilustrasi 8: Tentu humor di sini bukan dalam artian yang tidak berhubungan dengan topik artikel, dan tidak dalam artian yang ‘pasaran’. Humor dan gaya bahasa bisa menyatu. Perhatikan kutipan berikut (Thapa et al., 2012):

Yet, even his critics concede that the capability approach (CA) is a powerful lens to study human development. It is termed as suitable, but insufficient (Ibrahim, 2006) and incomplete, but a good foundation to build upon (Zheng, 2009). We agree. Following Evans (2002), we propose that Sen’s CA can be complemented by incorporating theoretical and conceptual premises that emphasize the collective and the society.

Atau bagian berikut dari sumber yang sama:

“How does this happen? Findings in experimental economics, especially the work of Elinor Ostrom, another Nobel Laureate, provide several pointers. Here, we list a few aspects that are germane to our arguments.”

Bagaimana pendapat Anda? Bahasa yang digunakan terasa ringan, mengalir, dan santai untuk menyampaikan sesuai yang serius.

Jurus 9: Simplikasikan semuanya dengan angka
Hilangkan semua deskripsi dan sampaikan hanya dengan angka. Jangan interpretasikan. Dengan demikian, niscaya:-) artikel Anda akan sangat membosankan.

Ilustrasi 9: Banyak artikel yang tidak memberikan interpretasi yang memadai untuk angka-angka yang disajikan dalam artikel. Sebabnya bisa beragam. Salah satunya bisa jadi karena penulis juga kebingungan terhadap interpretasi angka-angka yang ada.

Jurus 10: Kutip banyak artikel untuk pernyataan trivial
Sekali lagi, mau terlihat canggih? Kutip banyak artikel yang pernyataan yang semua orang sudah sepakat dengannya. Dengan melakukan ini, Anda telah berhasil ‘menyesatkan’ pembaca dalam ‘hutan’ kutipan, dan dijamin artikel Anda akan terasa membosankan.

Ilustrasi 10: ‘Rule of thumb’ memberikan arahan, untuk pernyataan yang bersifat umum atau trivial, tanpa kutipan pun tidak masalah, dan kalaupun Anda memaksa menggunakan kutipan, usahakan maksimal tiga. Kutipan yang banyak bisa jadi dibutuhkan untuk kasus-kasus tertentu, misalnya ketika Anda sedang melakukan ‘critical literature review’.

Referensi

Lyytinen, K., dan Saunders, C. (2011). Improving Your Publication Strategy. Tersedia daring di http://tinyurl.com/6q7nlcb

Sand-Jensen, K. (2007). How to write consistently boring scientific literature. Oikos, 116, 723-727.

Thapa, D., Sein, M. K.,  dan Sæbø, Ø. (2012). Building collective capabilities through ICT in a mountain region of Nepal: Where social capital leads to collective action. Information Technology for Development, 18(1), 5-22.

3 comments
  1. Setelah saya membaca beberapa tulisan bapak tentang publikasi internasional ini, saya cuma bisa komentar—

    WAOW KERENN…..
    Tidak semua orang bisa seperti bapak… Perlu usaha keras yg pantang menyerah untuk bisa melakukan hal ini semua…

    Dengan adanya arena “ngeblog” ini pasti akan banyak orang yg lebih paham tentang masalah larangan yang harus dihindari dalam menulis, diantaranya semoga adalah saya.

    Saya ingin suatu hari nanti meneladani apa yg bapak lakukan, walau saat ini saya masih “hijau”…

  2. Eko Harianto said:

    Terima kasih Pak Fathul atas sharing ilmunya, sangat bermanfaat sekali bagi saya yg br belajar menulis ilmiah. Terkait dengan poin yg ketujuh,batasan penggunaan singkatan atau istilah dalam artikel ilmiah masih wajar seperti apa ya Pak? Dan bagaimana jika kita dihadapkan untuk harus menggunakan istilah asing? Karena mungkin ada anggapan dengan menggunakan istilah (terutama asing),suatu tulisan bisa lebih terlihat ilmiah🙂 Terima kasih..

    • Fathul Wahid said:

      Mas Eko, kasus njenengan relevan untuk menulis dalam bahasa Indonesia. Kalau ini, njenengan bisa rujuk Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI). Bisa dicari di Internet. Rumus singkatnya, kalau sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, gunakan itu. Kalau belum ada, buat baru. Kalau tidak yakin, tuliskan istilah asingnya dalam kurung setelah padanan bahasa Indonesia pada kemunculan pertamanya, dan setelah itu gunakan padanannya dalam bahasa Indonesia.

      Saya tidak tahu kalau supaya terlihat ilmiah harus banyak istilah asing. Mbok, nulis untuk jurnal internasional sekalian, supaya semuanya dalam dalam bahasa asing.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: