Kesalahan fatal dan besar dalam menulis artikel

Beberapa pekan yang lalu, Association for Information Systems mengadakan webinar (seminar tetapi bisa diikuti secara online sinkron alias beda tempat satu waktu). Dua orang penting dalam bidang sistem informasi yang diakui oleh komunitas akademik dunia dengan berbagai penghargaan, berbagi pengalaman dalam publikasi. Mereka adalah Kalle Lyytinen dan Carol Saunders. Pencarian saya di Scholar Google dengan nama mereka menghasilkan 1.960 dan 646 entri. Beberapa artikel Lyytinen sudah dikutip lebih dari 500 kali sejak terbit. Salah satu artikel Saunders sudah dikutip lebih dari 700 kali.

Dalam sesi tersebut, mereka memberikan daftar kesalahan fatal dan besar dalam publikasi (Lyytinen dan Saunders, 2012). Rasanya kok sayang kalau informasi seperti ini tidak saya bagi. Seperti biasa, ilustrasi atau contoh saya tambahkan untuk memperkaya narasi.

Apa saja kesalahan fatal dalam publikasi?

Pertama, masalah atau fenomena yang dilaporkan dalam artikel bersifat trivial (biasa saja) dan tidak penting. Mungkin memang kita temukan ada ‘gap’ dalam teori atau praktik. Namun mengidentifikasi ‘gap’ terkadang tidaklah cukup, tetapi harus dijelaskan mengapa mengisi ‘gap’ ini penting dan menarik (Grant and Pollock, 2011).

Kedua, masalah yang dilaporkan sudah diteliti sebelumnya. Ini yang nampaknya sering menjadi kendala di Indonesia, karena terbatasnya akses ke basisdata penelitian dalam bentuk jurnal, prosiding, dan sejenisnya. Sebelum meneliti, akan sangat baik, kalau kita mengetahui versi mutakhir level of the playing field atau state of the art bidang terkait. Dengan demikian, kita tidak lagi berusahan ‘menemukan kembali roda’ yang sudah ditemukan orang ratusan tahun lalu.

Ketiga, kesalahan dalam pengumpulan data, baik karena ‘terkorupsi’ atau memunculkan keraguan terkait dengan data penelitian. Maaf, masalah ini juga nampaknya sering saya temui ketika membaca artikel di Indonesia. Metode penelitian harus dituliskan dengan jelas dan setransparan mungkin. Setipa penalaran yang menuju kesimpulan harus didasari dengan data. Bisa jadi, masalahnya bukan karena dalam penelitian tidak ada metode jelas yang digunakan, namun metode tersebut tidak dituliskan dalam artikel dan diberikan argumentasi yang memadai.

Keempat, kesalahan dalam logika argumentasi, tidak konsisten, dan logika yang melompat-lompat. Seringkali kita temui, alur penalaran yang digunakan ‘dipaksakan’ untuk menuju kesimpulan yang seakan-akan sudah disiapkan sebelumnya. Atau, seakan-akan yang dipikirkan oleh peneliti adalah kenyataan di lapangan.

Kelima, temuan penelitian meski signifikan menjelaskan variasi yang sangat kecil atau sampel penelitian sangat kecil sehingga hasil penelitian tidak berguna. Nampaknya masalah ini terkait penelitian positivist yang menggunakan metode analisis statistik. Untuk penelitian interpretif, kesalahan ini tidak relevan.

Keenam, adanya ‘theory-data gap‘; data tidak sejalan dengan teori, dan teori yang dikembangkan tidak didasarkan pada data. Hal ini bisa terjadi karena banyak sebab. Salah satunya karena ‘keterpakuan’ pada sebuah teori tertentu, padahal data yang ditemukan di lapangan tidak pas dengan teori tersebut. Untuk itu, diperlukan teori baru untuk menjelaskan. Menggunakan teori baru bukanlah ‘dosa’ dalam penelitian, dan dalam banyak kasus diharuskan (Walsham, 2006). Saran terakhir ini nampaknya relevan untuk penelitian interpretif dan bukan positivist.

Dari pengalaman saya yang masih sedikit, saya bahkan kadang menggunakan teori yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya ketika akan melakukan pengumpulan data. Dalam proses analisis data, baru saya temukan teori yang lebih pas daripada teori yang sudah saya pikirkan sebelumnya.

Lalu, apa saja kesalahan besar dalam publikasi? Lyytinen dan Saunders (2012) merangkumnya dalam tujuh poin:
1. Review dan sintesis literatur yang mentah, tidak konsisten, dan mekanistik.
2. Motivasi yang tidak meyakinkan.
3. Penggunaan teori yang lemah.
4. Kesimpulan dan implikasi yang terlalu ‘percaya diri’ dan tidak konsisten.
5. Tidak ada diskusi yang hati-hati terkait dengan keterbatasan dan generalisasi penelitian.
6. Penggunaan istilah yang tidak konsisten, tiadanya konseptualisasi istilah yang memadai.
7. Penulisan yang buruk dan tidak komprehensif.

Untuk mendapatkan tilikan terkait dengan kesahalan nomor 2 silakan lirik entri blog sebelumnya di sini dan di sini. Penjelasan terkait dengan kesalahan nomor 3 sila lihat di sini dan di sini. Terkait dengan kesalahan nomor 4 sila tengok entri blog sebelumnya di sini.

Kapan-kapan, kalau tidak lupa, kesalahan besar nomor 1 akan saya elaborasi lebih detil!🙂

Referensi

Grant, A. M., dan Pollock, T. G. (2011). From the editors: Publishing in AMJ – Part 3: Setting the hook. Academy of Management Journal, 54(5), 873-879.

Lyytinen, K., dan Saunders, C. (2012). Improving Your Publication Strategy. Tersedia daring di http://tinyurl.com/6q7nlcb

Walsham, G. (2006). Doing interpretive research. European Journal of Information Systems, 15(3), 320-330.

12 comments
  1. Pak Wahid, sesuai dengan yang dirangkum oleh Lyytinen dan Saunders (2012) pada point nomor 7. “Penulisan yang buruk dan tidak komprehensif”.
    saya pribadi ketika menulis baik menulis paper tugas kuliah ataupun tulisan lepas seperti tulisan diblog dsb, sering menggunakan bahasa yang bisa dibilang “amburadul” & “rakaruan” sepertihalnya memakai bahasa sehari-hari ataupun bahasa SMS, bahasa chatingan, kata-kata yang di singkat-singkat dsb..
    nah, barangkali bapak bisa menambahkan tips dan trik / solusi untuk menghilangkan keburukan/kelemahan saya dalam menulis yang seperti itu…

    • Fathul Wahid said:

      Mas Said, terima kasih untuk idenya. Saya sudah respon tuh di http://wp.me/p2cbw5-3R. Belum menjawab semua ‘kegalauan’, tetapi nampaknya lumayan untuk memulai pencarian lebih lanjut. Semoga!🙂

      • Pak Wahid, kadang saya ko’ kurang percaya diri ya pak dalam menulis menulis paper tugas kuliah, apa karena bacaan saya saja yang kurang (apa cuman perasaan saya saja ya)

        menurut Lyytinen dan Saunders (1-7) sepertinya juga saya alami saat ini pak.. trimakasih blog pak wahid sangat membantu..😀

        • Fathul Wahid said:

          Mas Alfian, kata orang ‘practice makes perfect’. Jangan berhenti menulis. Coba buat artikel, kirim ke kawan untuk mendapatkan komentar. Kata orang juga, setiap artikel mempunyai kelemahan. Artikel yang tidak mempunyai kelemahan tidak pernah terbit.🙂

  2. Bimaji said:

    Selamat malam Pak Fathul, info yang sangat membuka mata saya, khususnya tentang ilmu publikasi. Begini Pak, saya ada sedikit contoh kasus : Karena data dan fakta yang ditemukan di lapangan tidak berkesesuaian dengan teori awal yang digunakan, akhirnya ditemukan sebuah teori-teori baru yang lebih cocok untuk diterapkan untuk case tersebut. Namun penggunaan teori baru tersebut ternyata memunculkan keraguan terkait dengan data penelitian, karena teori yang digunakan merupakan penemuan baru dan tidak didasarkan pada teori-teori yang sudah diakui sebelumnya. Bagaimana sebaiknya dan bagaimana seharusnya apabila menemukan case seperti ini, agar tetap istikomah dengan teori baru yang ditemukan tadi ?

    Terima kasih,
    Regards

    • Fathul Wahid said:

      Selamat siang Mas Bimaji. Terima kasih sudah mampir.

      Jawaban saya, jangan paksakan jika teori dan data tidak klop. Saran saya, coba cari teori lain yang lebih ‘meyakinkan’, dan kalau tidak ada mungkin ada baiknya mempertimbangkan penggabungan lebih dari satu teori. Sebagian diskusi ini saya singgung pada entri yang lain terkait dengan peran teori dalam penelitian.

      Semoga jawaban singkat ini membuka diskusi lanjutan Mas.

      • Bimaji said:

        Terima kasih atas tanggapannya Pak.
        Seperti yang Bapak janjikan di akhir artikel, mungkin topik kesalahan di poin nomor 1 bisa lebih diberikan penjelasan detail dengan menggunakan pandangan dan pemahaman dari Bapak. Begitu juga dengan poin-poin 5, 6 , dan 7. Karena sangat menarik menyimak link-link bahasan yang Bapak kasih.

        Terima kasih.

  3. vpn said:

    This allows the user to have the capability to look for a video file, music file, application file or every one of the above.
    For example: open with your browser and check for anything (Twilight
    for instance). s the aim of anything you do if your nose is indeed close to
    the grindstone which you don.

  4. Terimakasih atas ilmunya Pak,
    saya ingin tanya Pak, pada poin 4 “Kesimpulan dan implikasi yang terlalu ‘percaya diri’ dan tidak konsisten.”

    terlalu percaya diri merupakan salah satu kesalahan besar, namun di poin sebelumnya sebuah kesalahan dalam publikasi juga bisa terhadap “Motivasi yang tidak meyakinkan.”

    Menurut saya, memiliki motivasi yang kuat dan meyakinkan akan berpengaruh terhadap kesimpulan yang berkesan ‘percaya diri’. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut Pak? Bagaimana membuat sebuah kesimpulan yang tepat dan seimbang antara motivasi dan penulisan kesimpulan agar tidak terkesan terlalu ‘percaya diri’.

    Terimakasih,
    Semoga sukses selalu Pak.

    • Fathul Wahid said:

      Dua di antara caranya:
      1. Sertakan bukti untuk setiap klaim yang kita buat.
      2. Jangan membuat kesimpulan yang melampaui data yang kita punya.

      Mudah-mudahan membantu.

  5. HERU WS said:

    Alhamdulilah dapat ilmu baru nih….

    hmmm……..

    Dalam penuliasan artikel atau karya ilmiah memang kita sering tidak mempertajam dalam poin nomer 7.” Penulisan yang buruk dan tidak komprehensif.”

    dalam hal ini mungkin penulis sering tidak menyadari dalam hal cara menulis yang baik.

    sebenrnya penulisan yang baik dan komperhensif itu seperti apa pak? (mengacu kemana?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: