Menulis penelitian kualitatif

Sudah dua bulan lebih, saya tidak menulis entri untuk blog ini. Untuk menjaganya tetap hangat, tulisan berikut, mudah-mudahan bermanfaat. Kali ini tentang menulis penelitian kualitatif. Inspirasi utama tulisan ini adalah artikel ‘From the Editors’ dari Academy of Management Journal (Pratt, 2009). Tentu, informasi dari sumber lain akan memperkaya diskusi.

Menulis artikel dari penelitian kualitatif untuk banyak orang lebih menantang, meskipun beberapa orang mungkin akan mencibir ketika mendengar ‘penelitian kualitatif’. “Data kok kualitatif”, demikian salah satu komentar yang sering saya sedang kelompok pencibir ini. Kalau dia ‘penggemar angka’, dan pernah belajar sedikit tentang logika fuzzy yang diperkenalkan pertama kali oleh Prof. Lotfi Zadeh pada tahun 1960an (Zadeh, 1965), mungkin tidak akan mencibir. Bagi Zadeh (1996), logika fuzzy (yang kadang diterjemahkan dengan logika kabur) adalah komputasi dengan kata-kata. Analisis data kualitatif mirip dengan ini. Benar gak ya?🙂

Seringkali penelitian kualitatif disepelekan, baik dalam proses perencanaan, pengumpulan data, analisis data, sampai dengan penulisan. Mereka yang tidak pernah melakukannya sendiri dengan serius, mungkin akan mempunyai perspektif seperti ini. Namun dalam kenyataannya, untuk menghasilkan artikel dari penelitian kualitatif yang bermutu tidaklah semudah yang dibayangkan. Kerenanya, jika tidak ditulis dengan baik, artikel seperti ini tidak jarang akan ditolak, baik dari konferensi atau jurnal. Artikel Pratt (2009) memberikan tilikan (insight) yang dapat dijadikan panduan, baik oleh penulis maupun mereka yang berbaik hati meluangkan waktu dan energi terlibat dalam proses review konferensi atau jurnal.

Menurut Pratt (2009) terdapat dua kesalahan yang sering dilakukan dalam menulis artikel dari penelitian kualitatif, yang terkait dengan (1) ketiadaan keseimbangan antara data dan teori, dan (2) menjadikan penelitian kualitatif terlihat kuantitatif. Lebih lanjut, kedua masalah ini dielaborasi.

Terkait dengan masalah pertama, indikator pertama, tidak jarang penulis ‘menceritakan data, dan tidak menunjukkannya’. Penulis hanya memberikan interpretasi atas data, tetapi tidak menunjukkan data mentahnya. Karenanya, sulit untuk melacak bagaimana interpretasi atau kesimpulan diambil. Salah satu cara menampilkan data mentah adalah dengan menuliskannya di tabel atau gambar. Tetapi jangan sampai terjebak, data yang dimunculkan dalam tabel terpisah dari narasi dalam artikel. Sebagian data (sepertu kutipan wawancara) tetap harus dimunculkan dalam tubuh artikel. Tanpanya, tulisan akan menjadi sulit diikuti dan kering.

Masih terkait dengan masalah pertama, indikator kedua, ‘terlalu banyak menunjukkan data, tanpa interpretasi’. Data harus diinterpretasikan. Inilah ruh dari penelitian kualitatif. Jika ini yang dilakukan, kontribusi teoretis artikel biasanya sangat minimal. Ini terkait dengan proses sensemaking atau menemukan cerita yang berarti (makna) dalam data. Beragam strategi dalam sensemaking yang dengan apik dituliskan oleh Langley (1999) dapat dijadikan acuan.

Masalah kedua terlihat dari beberapa indikator berikut. Indikator pertama adalah kesalahan dalam menerapkan pendekatan inferensi. Penelitian kualitatif (dalam hal ini yang bersifat interpretif) seharusnya menggunakan pendekatan induktif dan bukan deduktif (seperti dengan pembuktian hipotesis). Perlu dicatat juga, penelitian kualitatif dapat juga menggunakan paradigma positivistik (lihat misalnya Eisenhardt [1989]) atau case study yang diperkenalkan oleh Yin [1984]).

Indikator kedua adalah adanya kecenderungan mengkuantifikasi data kualitatif. Pada penelitian kualitatif dengan paradigma positivistik, hal ini sering dilakukan (lihat kembali Eisenhardt [1989]). Namun, untuk paradigma interpretiv, mengkuantifikasi data kualitatif dapat menjebak kepada logika deduktif dan dapat membimbing kepada kesimpulan yang tidak tepat.

Indikator ketiga adalah ketika penulis mencoba menggabungkan logika deduktif dan induktif tetapi dengan tidak tepat. Sebagai contoh, dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak bisa menggunakan random sampling dalam memilih sampel/kasus, tetapi sampel dipilih berdasar konsideran teori (theoretical sampling, misalnya: kasus ekstrim).

Pratt (2009), lebih lanjut, memberikan beberapa strategi untuk meningkatkan kualitas artikel penelitian kualitatif. Pertama, pastikan bahwa dalam bagian metode kita tuliskan ‘hal-hal mendasar’, seperti mendiskusikan mengapa yang kita lakukan diperlukan, menjelaskan tujuan penelitian (membangun teori baru atau mengelaborasi teori yang sudah ada), menjelaskan mengapa kita memilih konteks dan unit analisis tertentu, menggambarkan bagaimana temuan penelitian terhubung dengan data.

Kedua, tunjukkan data dalam cara yang cerdas. Menurut saya, ini adalah salah satu tantangan terbesar dalam menulis artikel yang ringkas dan berkualitas. Penduan yang diberikan oleh Miles dan Huberman (1994) dapat kita jadiakn acuan. Menurut mereka, analisis data kualitatif dapat dilakukan dengan tahap: (a) mereduksi data (seperti dengan menyederhanakan data yang kompleks, dengan mengektrak tema yang berulang dengan pengkodean), (b) menampilkan data (seperti dalam matriks, diagram, atau grafik), dan (c) menarik kesimpulan (menjelaskan temuan). Proses ini tentu tidak lepas dari proses sensemaking, mencari makna dari data yang dipunyai.  Gambar berikut adalah sebuah contoh visualisasi data kualitatif, menggunakan strategi temporal bracketing (Langley, 1999).

eProcurement trajectory 5

(Klik untuk memperbesar gambar)

Ketiga, pikirkan untuk menggunakan gambar yang dapat diaturulang. Ini terkait dengan proses menjernihkan alur pikir dan menemukan makna dalam data. ‘Bermain-mainlah’ dengan gambar atau diagram. Tidak jarang, gambar yang muncul dalam artikel adalah revisi kesekian kalinya. Kita bisa tempelkan elemen-elemen penting data pada papan atau tembok. Kita bisa gunakan kertas post-it untuk itu. Dengan mudah, cerita bisa diaturulang berkali-kali, untuk mencari alur yang paling masuk akal. Saya pribadi, menempel semua tabel dan gambar yang pernah diekstrak dari data pada tempok secara berjajar, sehingga saya bisa melihatnya semuanya setiap saat sambil merenung.🙂 Tidak jarang, waktu berjam-jam atau bahkan berminggu-minggu saya gunakan untuk ‘memplototi’ tabel dan gambar tersebut, sebelum alur cerita terakhir dapat dimunculkan.

Keempat, tidak ada salahnya, ambil salah satu artikel penelitian kualitatif yang kita kagumi dan sukai. Coba tiru bagaimana penulis tersebut menampilkan data, menginterpretasikannya, mengembangkan argumen dalam memunculkan kontribusi teoretis, dan menarik kesimpulan. Tapi, untuk yang terakhir ini jangan sampai terjebak pada praktik plagiarisme.

Yogyakarta, 28 Juli 2013

Referensi

Eisenhardt, K. M. (1989). Making fast strategic decisions in high-velocity environments. Academy of Management journal, 32(3), 543-576.

Langley, A. (1999). Strategies for theorizing from process data. Academy of Management review, 24(4), 691-710.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Thousand Oaks, CA: Sage.

Pratt, M. G. (2009). From the editors: For the lack of a boilerplate: Tips on writing up (and reviewing) qualitative research. Academy of Management Journal, 52(5), 856-862.

Yin, R. (1984). Case Study Research: Design and Methods. Beverly Hills, CA:  Sage.

Zadeh, L. A. (1965). Fuzzy sets. Information and control, 8(3), 338-353.

Zadeh, L. A. (1996). Fuzzy logic= computing with words. Fuzzy Systems, IEEE Transactions on, 4(2), 103-111.

34 comments
  1. Pan W said:

    Terima kasih Mas sangat membantu saya dalam pemahaman dan bekal menulis riset kualitatif.

  2. Siti Mu'arofah said:

    Matursuwun pak membantu mempermudah saya memahami penelitian kualitatif

  3. Fitayani Intan P. said:

    Ass. terima kasih pak, artikelnya sangat membantu.
    Saya mau tanya, apakah penelitian kualitatif dan kuantitatif bisa dijadikan satu?
    Kalau boleh usul pak, kenapa bapak tidak menulis artikel tentang penelitian kualitatif dan kuantitatif yang disatukan itu?
    hehehe…😀

    Terima kasih pak sebelumnya…

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Fitayani, Sangat mungkin menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Yang akan sulit adalah menggabungkan penelitian interpretif dan positivis karena keduanya berangkat dari asumsi filosoif yang berbeda. Namun ada juga pendapat yang mendukung penggabungannya, meskipun menurut saya sulit.

      Mudah-mudahan menemukan waktu menulis entri itu Mbak. Terima kasih sarannya.

  4. Assalamu’alaikum Pak Fathul, salam kenal.
    Saya tertarik dengan tulisan Bapak. Begini Pak, terkadang dalam penelitian kualitatif masalah yang akan diselesaikan masih tergolong dalam “ketidakpastian” (kompleks dan dinamis). Bagaimana untuk mengatasi hal yang seperti ini Pak? Apakah masalah dalam penelitian perlu diubah tau mengganti judul jika setelah penelitian selesai dilakukan, sementara terkadang institusi belum tentu mau menyesuaikan dengan perubahan ini. Terimakasih atas perhatiannya.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Makkie, Rencana dapat berubah di jalan, tetapi ini bukan alasan untuk tidak membuat rencana. Penelitian juga sama. Selama kita punya argumen kuat, mengapa tidak boleh? Kalau terkait dengan kebijakan institusi, itu isu lain yang perlu didiskusikan.

  5. rahmad zainul said:

    Assalamu’alaikum Pak
    terimakasih atas info penelitian kualitatif. Boleh minta tolong pak! dipostingkan artikel tentang penelitan kuantitatif. biar saya bisa membedakan dg jelas kualitatif – kuantitatif. apalagi sampai mengkualitatifkan penelitian kuantitatif.
    terima kasih atas pengetahuannya.

  6. didikwd said:

    Assalamu’alaikum Pak Fathul, mohon penjelasan dan info nya pak,, dan maaf apabila pertanyaannya agak melenceng dari topik,, begini pak pertanyaan saya,, “Mengapa kebenaran yang diperoleh tidak melalui penelitian tidak dapat dikategorikan pada kebenaran ilmiah”,, apakah karena tidak sistematis,, tidak logis,, tidak obyektif,, padahal manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat,, mohon penjelasannya,, apabila perlu dijadikan topik pak,, hehe,, nuwun

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Didik,

      Ya karena definisi kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang didapatkan dari proses yang runut dan dapat direplikasi alias melalui penelitian. Apakah yang tidak melalui penelitian pasti salah? Nampaknya tidak, cuma kalau mau dikomunikasikan lintas komunitas ilmiah menjadi sulit, karena kita tidak bisa menggunakan argumen ‘pokoknya’.🙂 Mudah-mudahan memberikan sedikit perspektif.

  7. Lia Rosmalia said:

    Assalamu’alaikum Pak, ada hal yang menarik berkaitan dengan artikel bapak ini yaitu mengenai perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dari yang pernah saya baca dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori” maksudnya bagaimana ya pak saya masih kurang jelas, dan contohnya seperti apa? trimakasih banyak pak untuk penjelasannya🙂

  8. Membaca isi blog panjenengan kalo boleh menyimpulkan berarti penelitian adalah suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati terhadap suatu masalah.. benarkah seperti itu pak?

    • Fathul Wahid said:

      Betul Mas, kurang lebih seperti itu.🙂 Ada metode ilmiah (bukan ngilmiah atau sok ilmiah) yang digunakan.

  9. Dari tulisan Bapak, menulis penelitian kualitatif itu berarti lebih butuh banyak pengalaman dan pengetahuan ya daripada penelitian kuantitatif. Benar ga pak??? Kemudian, apakah antara penelitian kualitatif dan kuantitatif itu sama dalam proses penelitiannya dan apa sajakah proses-prosesnya itu? Maaf kalo ada kesalahan mohon dikoreksi karena Saya baru mulai belajar. Terimakasih Pak.

    • Fathul Wahid said:

      Meskipun tidak bisa diukur dengan pasti, nampaknya jawabannya ‘ya’.🙂

      Proses umumnya sama: cari/rumuskan masalah, kembangkan landasan teori/konsep/model, kumpulan data, analisis data, diskusikan temuan, dan seterusnya.

      Kalau detilnya pasti berbeda, bahkan mulai dari filosofinya juga berbeda. Cara pengumpulan dan analisis datanya juga berbeda. Untuk mengetahui lebih detil, coba njenengan baca buku yang relevan.

  10. Ro Ma said:

    Assalamualaikum pak fathul…
    Di artikel ini saya menemukan pekikan ‘ooww..’ dimana saya jadi semakin ingin tahu perbedaan gaya penulisan (bukan format) pada penulisan untuk publikasi internasional, publikasi tingkat nasional, jurnal, tesis, maupun skripsi. Apakah dapat disampaikan dengan gaya yang sama atau berbeda ya pak? kalau berbeda bagaimana perbedaanya pak?

    Artikel bapak sangat membantu memberikan wawasan kepada kami dalam bayak hal, baik penulisan, konten, dll dimana hal tsb saya rasa dapat saya terapkan juga pada penulisan di luar publikasi internasional, dimana secara pribadi saya baru ingin memulai belajar menulis sekalipun belum sampai kepada publikasi internasional.
    Kalau boleh usul sedikit di luar tema pak, saya request diulaskan tentang perbedaan penulisan publikasi internasional dengan jenis penulisan yang lain itu seperti apa pak…
    hehe..🙂

    Matur nuwun pak
    Wassalamualaikum wr.wb

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Ro Ma,

      Kalau bahasa yang digunakan nampaknya sama. Ikuti kaidah bahasa. Kaidah bahasa Indonesia dengan Inggris (versi Amerika) misalnya beda. Sebagai contoh, dalam tradisi di Indonesia, kita diminta menghindari penggunaan kata ganti orang, seperti saya dan kita. Bahkan gaya Eropa dan Amerika juga berbeda. Jurnal Eropa lebih suka gaya puitis, sedang jurnal Amerika lebih suka gaya prosa, singkat, meski kering.🙂

      Selain itu, berbedaan lain ada dalam tingkat detil informasi. Kalau dalam prosiding konferensi dengan halaman yang tebatas, kita harus memilih informasi yang ditampilkan. Dalam jurnal agak lebih leluasa meski tetap atas batasan halaman. Dalam tesis lebih leluasa lagi. Menulis pendek untuk masalah yang cukup besar dan kompleks tidak mudah.🙂

      Mudah-mudahan membantu Mbak.

  11. Assalamualaikum pak Taufiq, sebelumnya terima kasih karena entri2 bapak telah membuka wawasan saya tentang penulisan jurnal maupun artikel ilmiah.

    Selama ini akal saya sering “tergelitik” tentang suatu hal: kenapa sih orang2 kok menulis jurnal ilmiah? Ngapain sih repot-repot nulis suatu hal yang ribet kayak gitu, toh kalo nemu sebuah penemuan baru tinggal diaplikasiin dah selesai. Gak harus capek-capek mondar-mandir ngurusin tulisan kayak gini, toh belom tentu juga lolos jurnal punyamu. Emang mau terkenal apa lewat penulisan jurnal? Emang, kalo dah terpublish dan penemuan itu hasil dari punyamu, terus gak boleh apa orang2 menggunakan penemuan mu secara bebas?

    Saya pernah mendengar, dan mungkin ini sudah bukan rahasia umum lagi bahwa penulisan jurnal akan “disuntikkan” dana yang cukup oleh suatu institusi ataupun negara. Apabila alasannya hanya untuk mendapatkan “suntikan” itu, berarti esensi dari penulisan jurnal merupakan “lapangan kerja” kesekian untuk sebagian orang.

    Mungkin komentar saya ini bisa dijadikan entri baru bapak yang berjudul “alasan penulisan jurnal / publikasi”.

    Sebelumnya, saya memohon maaf sebesar-besarnya karena perkataan saya yang terlalu pedas atau tidak berkenan.😀

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikussalam Mas Setyoso, Setiap orang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Yang kita yakini, belum tentu diyakini oleh orang lain. Ini masalah pilihan personal dan niat. Persis kalau kita kerja tujuannya hanya rupiah, yang didapatkan juga hanya itu. Tidak lebih. Persis mahasiswa yang kuliah ingin mendapatkan nilai. Nilai dapat, pengetahuan belum tentu.

      Tetapi kalau diniatkan menafkahi keluarga yang menjadi tanggungjawab dunia akhirat, lembaran uang yang didapat sama, tetapi ada dimensi lain di sana. Melakukan penelitian dan menulis artikel juga sama.

      Ini pengantar entri baru itu.🙂 Mudah-mudahan ada energi untuk itu Mas. Terima kasih sarannya.

      Beda pendapat boleh, marah jangan.🙂

  12. Ike Yunia Pasa said:

    Assalamualaikum ww salam kenal pak fathul. Setelah membaca artikel bapak yg berjudul menulis penelitian kualitatif, Mohon penjelasan dan Saran dari bapak,utk dosen pemula yang hendak melakukan penelitian, manakah yang sebaiknya diambil lebih dulu, penelitian kualitatif atau kah penelitian kuantitatif?Terimakasih sebelumnya atas jawabannya.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Ike, Semua tergantung masalah yang dirumuskan/diteliti. Jenis penelitian disesuaikan.

      Mudah-mudahan membantu.

  13. Setiyowati said:

    Assalamualaikum, salam kenal Bapak, sebaiknya penelitian yang seperti apa menurut bapak, karena saya masih pemula. terimakasih.

  14. Arif Afriansyah said:

    Assalamu’alaikum Pak
    Tulisannya membuka wawasan penelitian pak.

    Dalam penelitian kualitatif jg pasti banyak kendala,, kira-kira apa saja si pak kendala yang sering muncul,, baik dalam pengambilan informasi maupun proses pengerjaannya,, makasih..

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Arif,

      Setiap penelitian ada kendalanya. Untuk yang kualitatif, juga tergantung konteksnya. Beberapa kendala yang mungkin, terkait dengan:
      1. Akses terhadap data. Seringkali tidak mudah mengumpulkan data dari informan.
      2. Validitas data. Data yang dikumpulkan seringkali tidak konsisten dan memerlukan proses validasi.
      3. Analisis data. Analisis data kualitatif yang banyak memerlukan strategi sensemaking yang tepat. Ini juga menantang.

      Mudah-mudahan memberikan gambaran awal.

  15. Sri Harjanto said:

    Mohon diberikan contoh penelitian kualitatif. Jika data yang kita teliti cukup besar apakah perlu diklasifikasikan?

  16. Prillia Tiara said:

    assalamualaikum wr. wb
    bapak saya pemula untuk penelitian kualitatif, saya ingin bertanya dan berharap bapak berkenan memberikan pencerahan ke saya pak🙂
    1. pak kenapa ya dalam penelitian kualitatif begitu banyak cara pengumpulan data dibanding kuantitatif? tujuannya apa ya pak?
    2. bagaimana cara membedakan suatu rumusan masalah itu termasuk kualitatif atau kuantitatif?
    terima kasih banyak atas jawaban yang nantinya bapak berikan
    wassalamualaikum wr wb

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbaks Prillia,
      1. Selain untuk mengumpulkan data selengkap mungkin, beragam sumber data juga sebagai upaya untuk meningkatkan validitas data.
      2. Kalau pertanyaannya bagaimana atau mengapa, nampaknya akan sulit dijawab dengan pendekatan kuantitatif. Kalau pertanyaannya apa atau siapa, nampaknya sebaliknya.

      Mudah-mudahan membantu Mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: