Memahami peran teori dalam penelitian

There is nothing more practical than a good theory.” – Kurt Lewin (1945)

Belasan tahun lalu ketika masih di bangku S1, beberapa kali saya berdiskusi, atau tepatnya ‘berdebat kusir’, tentang mengapa kalau membaca tulisan ilmiah banyak kutipan di sana-sini. Beragam argumen saat itu muncul. Pencarian saya terhadap jawaban yang lebih baik pun akhirnya terjawab ketika pada sekitar tahun 1996 saya mengikuti pelatihan Taruna Melati Utama di Mua’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Salah satu pembicara pelatihan tersebut adalah Prof. Abdul Munir Mulkhan, seorang tokoh Muhammadiyah yang juga guru besar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Saya masih ingat betul argumen beliau ucapkan sampai saat ini, setelah 16 tahun berlalu. “Supaya kita tidak mengulang yang sudah dilakukan orang,” katanya pada waktu itu. Jawaban yang lebih dari cukup pada saat itu untuk tidak lagi mengajukan pertanyaan serupa. Pengembaraan akademik saya selama belasan tahun memperkaya jawaban tersebut.

Sebelum saya lanjutkan, dalam beberapa disiplin peran teori ini mungkin tidak sangat sentral, tetapi dalam disiplin yang lain, teori diberikan posisi terhormat. Karenanya, kalau kerangka artikel yang kita diskusikan sebelumnya, salah satunya, tidak memasukkan teori ke dalam salah satu bagian dalam artikel.

Menurut Sahay dan Walsham (1995), teori minimal mempunyai empat peran dalam penelitian. Pertama, teori dapat dijadikan sarana komunikasi antara peneliti dan praktisi. Kedua, teori dapat juga dijadikan sarana komunikasi antarpeneliti. Teori bisanya mempunyai kosa kota yang terpilih untuk mendeskripsikan dan memahami sebuah fenomena. Kosa kata ini akan sangat membantu dalam komunikasi, baik antara peneliti dan praktisi maupun antarpeneliti.

Ketiga, teori berguna sebagai sarana akumulasi pengetahuan. Tidak jarang ketika penelitian selesai dilakukan, maka pertanyaan ‘mematikan’ yang diajukan adalah: ‘so what?‘ – njur ngopo? apa kontribusi penelitian? Paling tidak terdapat dua bidang kontribusi yang dilekatkan dengan penelitian: kontribusi teoretikal dan praktis. Nah, kontribusi teoretikal inilah yang menjadikan ilmu pengetahuan berkembang karena akumulasi dari banyak penelitian yang saling mendukung, saling melengkapi, atau bahkan yang bertolak belakang.

Keempat, teori juga sebagai sarana untuk mendapatkan legitimasi dan perhatian dari disiplin lain. Ilmu pengetahuan tidak berkembang secara linier, tapi dapat muncul banyak disipil baru sepanjang perjalannnya. Sistem informasi, misalnya, adalah sebuah disiplin baru yang pada awalnya menempati posisi terakhir dalam ‘rantai makanan’ akademik. Disiplin ini pada awalnya lebih banyak meminjam teori dari beragam disiplin, mulai dari teknik, studi organisasi, sosiologi, ilmu politik, sampai dengan matematika. Namun perkembangan terakhir menunjukkan bahwa disiplin ini pun sudah membangun hubungan resiprokal dengan banyak disiplin lain. Penelitian dalam disiplin mulai diperhatikan dan dikutip oleh disiplin lain. Ini hanya sebuah ilustrasi. Ke depan bisa jadi disiplin itu pun ‘beranak-pinak’ menjadi lebih spesifik, seperti lahirnya bidang kajian sistem informasi geografis, informatika medis, eGovernment, information and communication technology for development (ICT4D).

Dari perspektif yang lain, Walsham (2006) mengatakan bahwa teori dapat membimbing pengumpulan dan analisis data. Berdasar sebuah teori, misalnya, kita bisa terbantu dalam membuah daftar pertanyaan untuk wawancara, membuat kuesioner, atau mendesain sebuah perangkat lunak. Berdasar teori yang sama, kita pun dapat menggunakan kosa-kata yang diberikan untuk meenganalisis data yang terkumpul dan melalukan inferensi atas data tersebut.

Karenanya, banyak yang berpendapat bahwa kualitas penelitian dapat ditingkatkan jika dibimbing teori. Tidak cukup dengan satu teori, kita bisa menggunakan teori lain untuk melengkapi, karena setiap teori pasti mempunyai keterbatasan.

Apa sih teori itu? Secara garis besar, teori dapat dipandang sebagai ‘statements that say how something should be done in practice (prescriptions)‘, atau ‘statements providing a lens for viewing or explaining the world’, atau ‘statements of relationships among constructs that can be tested (testable propositions)‘. Jangan-jangan, selama ini yang kita pahami sebagai teori bukan merupakan teori dalam pengertian akademik. Atau, karena teori tidak praktikal, jangan-jangan yang sering yang kita dengar adalah teori yang buruk.

Teori pun dapat dikelompokkan dalam berbagai kategori. Gregor (2006) mengelompokkan menjadi teori untuk menganalisis (theory for analyzing – menjawab pertanyaan ‘what is‘, contoh: skema klasifikasi, rerangka [framework], taksonomi), teori untuk menjelaskan (theory for explaining – ‘what is, how, why, when, and where‘, contoh: structuration  theory, actor network theory), teori untuk memprediksi (theory for predicting – ‘what is and what will be‘, contoh: hukum Moore, model kreasi nilai TI), teori untuk menjelaskan dan memprediksi (theory for explaining and predicting – ‘what is, how, why, when, where, and what will be‘, contoh: Technology Acceptance Model dan model kesuksesan sistem informasi), dan teori untuk desain dan aksi (theory for design and action – ‘how to do something‘, contoh: design science, design theory). Teori juga bisa dikelompokkan berdasar cakupannya, mulai dari meta-theory, grand theory, sampai dengan mid-range theory.

Harap dibedakan antara menghadirkan teori dengan melakukan review terhadap penelitian sebelumnya. Kedua hal ini seringkali disalah-pahami. Jika kita hanya mereview penelitian sejenis sebelumnya, maka sebetulnya kita belum memasukkan teori dalam penelitian.

Sebagai akademisi, harusnya kita tidak lagi mencibir peran teori dalam penelitian. Sehingga potongan dialog dalam sebuah iklan yang sangat terkenal belasan tahun lalu, “Ah, teori?”, sudah seharusnya dilupakan saja.🙂

Referensi
Gregor, S. (2006). The nature of theory in information systems. MIS Quarterly, 30(3), 611-642.

Sahay, S., & Walsham, G. (1995). Information technology in developing countries: A need for theory building. Information Technology for Development, 6(3/4), 111-124.

Walsham, G. (2006). Doing interpretive research. European Journal of Information Systems, 15, 320-330.

Catatan: Tulisan terkait lainnya dapat dilirik di https://publikasiinternasional.wordpress.com

4 comments
  1. Asallamualaikum pak Fathul, sangat membuka wawasan pak, jadi kesimpulannya dalam melakukan sebuah penelitian, teori memiliki peran tersendiri yang berbeda dari riview terhadap penelitian sebelumnya ya pak.?
    terima kasih pak atas ilmunya.🙂

  2. Ridho Muktiadi said:

    Assalamualaikum pak Fathul, terima kasih atas tulisannya benar-benar sangat membantu, sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Ridho Muktiadi. saya ingin bertanya pak, ketika saya membuat sebuah penelitian dan penelitian tersebut merupakan pengembangan dari sebuah penelitian yang sudah ada, apakah hasil dari penelitian tersebut termasuk sebuah teori? dan kalau pun bukan hasil penelitian tersebut akan sebagai apa pada penelitian yang saya buat. Trima kasih.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: