Selingan: Membaca (ulang) artikel/naskah

Saya ingin mengawali entri ini dengan beberapa fragmen cerita berikut:

Pertama. Seorang kawan yang mengambil program doktoral di salah satu negara Eropa kaget ketika pembimbingnya mengomentari pilihan kata yang digunakannya dalam tesis. Di institusi dia mengambil program master, di negara lain yang berjarak lebih dari separoh jagad dari Eropa, tidak demikian. Pembimbing masternya tidak sampai sedetil itu. Karena pengalaman ini, bahkan kawan tersebut menilai bahwa pembimbing doktoralnya tersebut ‘resek’.

Kedua. Di salah satu universitas di Indonesia, ketika seorang kolega dengan cermat membaca tesis  selama proses bimbingan kadang diterima lain oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa tidak mendapatkan perlakukan sama dari pembimbing lainnya. Hal yang mirip saya dapatkan ketika seorang kolega mengomentari tesis salah satu bimbingan saya yang diujinya, “Ini pasti pembimbingnya cerewet soal penulisan”. Kolega saya mendapatkan kualitas penulisan yang lebih baik dibandingkan dengan tesis yang pernah dia uji.

Ketiga. Ketika menulis artikel dengan kolega lain di Norwegia, tidak jarang kami habiskan waktu, minimal sehari, untuk membaca ulang artikel sebelum dikirim ke konferensi. Kadang kami membacanya keras-keras untuk memeriksa kembali bahwa setiap kalimat yang kami tuliskan secara efektif telah menyampaikan pesannya dengan benar. Selain itu, kami juga ingin memastikan bahwa koherensi antarbagian dalam artikel terjaga, mengidentifikasi repetisi yang mungkin terjadi. Tidak jarang, kami mengubah diksi, dan mengatur ulang paragraf dan pembaban.

Keempat. Salah satu komentar saya kepada penulis artikel konferensi yang saya review adalah: kalau penulis malas membaca ulang artikelnya, mengapa orang lain, termasuk reviewer harus membacanya. Mengapa saya tuliskan ini? Saya melihat penulisnya sangat ceroboh, bahkan saya temukan beberapa kesalahan dalam abstrak. Tidak terhitung kesalahan tulis dalam artikel yang saya temukan. Kalau saya menduga, penulis tidak membaca ulang artikel yang ditulisnya, sangatlah beralasan.

Kelima. Pekan lalu, saya menghabiskan waktu tiga hari-tiga malam (bukan judul film lho) untuk membaca ulang setiap kalimat dalam tesis dan merevisinya jika perlu. Beruntung saya dibantu oleh pembimbing yang bersedia diskusi mulai bangun tidur (sekitar jam 6 pagi) sampai tidur lagi (sekitar jam 12 malam, dan bahkan sampai dini hari). Revisi yang saya kirimkan jam 10 malam dikembalikan dengan komentar pagi harinya. Tujuan proses ini adalah untuk menjadikan tulisan lebih runut, renyah, dan mudah diikuti. Tidak jarang, kami mendiskusikan pilihan kata, semacam ‘to unveil’ atau ‘to reveal’ atau ‘to explicate’ atau ‘to expound’, ‘aspect’ atau ‘dimension’ atau ‘issue’, ‘to address’ atau ‘to take into consideration’, ‘to ensure’ atau ‘can help’ dan masih banyak perhatian pada hal detil.

Apa benang merah dari beberapa fragmen cerita di atas? Proses membaca ulang artikel/naskah sangat bermanfaat. Tidak hanya mendeteksi kesalahan tulis, tetapi lebih dari itu, proses ini sekaligus untuk memeriksa bahwa alur cerita yang kita tuangkan dalam artikel runut, dan tidak ada ide penting yang tertinggal. Tidak jarang, proses pembacaan ulang menghadirkan ide-ide baru yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Inilah mengapa dalam wahyu pertama, Nabi Muhammad diminta membaca dua kali – kata iqro’ muncul dalam dua ayat . Ini adalah proses hermeneutik yang sangat bermanfaat.

Membosankan? Bisa jadi, dan ini sangat manusiawi. Tetapi apakah ada proses yang lebih efekif dibandingkan ini. Proses review sebenarnya ada proses membaca ulang secara kritis, hanya saja dilakukan oleh orang lain. Nah, kalau reviewer saja diminta untuk membaca artikel kita, atau kita berharap orang lain akan membaca artikel kita, apakah alasan bosan bisa diterima?

Apa yang bisa dilakukan? Ketika selesai menulis, biasakan membaca ulang apa yang sudah kita tulis. Apakah setiap kalimat telah menyampaikan pesan seperti yang kita inginkan? Apakah kita sudah merasa nyaman dengan alur yang dibuat? Seringkali pembacaan awal seperti ini hanya terpaku di sini, memperbaiki kalimat dan menjaga alur. Tidak jarang beberapa bagian yang kita sendiri tidak ‘sreg’, kita biarkan dulu, karena belum mempunyai ide bagaimana memperbaikinya.

Sudah? Simpan artikel beberapa saat, mungkin beberapa hari, dan cobalah baca kembali. Proses ini biasanya memberikan tilikan-tilikan baru yang tidak kita dapatkan dalam proses pembacaan ulang yang pertama. Tentu membaca ulang di sini jangan diartikan seperti membaca ‘Ini Budi’ tanpa proses berpikir lebih lanjut. “Bacalah antarbarisnya” alias dengan kritis. Oh, kurang ini, kurang itu; ini tidak perlu, itu perlu diatur ulang, dan seterusnya. Beberapa masalah yang masih disimpan dari pembacaan ulang pertama mungkin sudah menemukan jawabannya.

Jika waktunya masih memungkinkan, tidak ada salahnya budaya saling membaca dan mengritisi antarkolega dikembangkan. Carilah kolega yang mau dengan tulus menginvestasikan waktu dan pikirannya untuk Anda. Anda pun sudah seharusnya melakukan sebaliknya, ketika diminta. Proses pembimbingan mahasiswa, seharusnya juga melewati proses serupa.

Selamat membaca ulang!🙂

Yogyakarta, 24 April 2013

Catatan: Entri blog ini sudah saya baca ulang, meski saya yakin ada banyak perbaikan yang masih bisa dilakukan. :-) 

12 comments
  1. terima kasih,meski masih ada tulisan yang tekadang salah ketik atau kurang hurup,

    sy mw tanya pak bagaimana trik mengawali bahasa dalam tulisan, terkadang banyak orang mw mengawai menulis masih bingung kata apa yang harus ditulis untuk mengawali tulisan, termasuk sy juga seperti itu???

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih Mas Kohar untuk kunjungannya. Benar, saya telah baca ulang sekali lagi, dan paling tidak saya perbaiki lima kalimat.🙂

      Setiap menulis, yang perlu dimatangkan adalah ‘apa’ yang kita tulis. Ini seringkali bukan proses sekali jadi dan seketika. Untuk menulis artikel konferensi internasional, misalnya, tidak jarang saya ‘menggodog’ ide berbulan-bulan, sebelum memulai menulis. Ketika ide sudah matang, maka proses menulis, termasuk alur cerita, dan argumentasi lebih mudah dituangkan.

      • makasih pak
        sy jg sadar tulisan tidak bisa sekai jd, tp setidaknya ketika seorang penulis awal/msh belajar sprt sy
        ketika sudah begitu bnyk dan lama dan bahan2 jg sdh tersedia dan topik pun sdah deal untuk di bahas, tp masih sulit untuk menentukan kata awal dari alur cerita penulisan itu, sehingga bisa menarik untk meggugah pembaca untuk membaca lebih dalam tulisan yang kita buat nantinya dengan membaca awal ceritanya itu? terima kasih

        • Fathul Wahid said:

          Mas Abdul Kohar, Menulis kalimat dalam publikasi tidak proses sekali jadi, termasuk dalam memilih kalimat/paragraf/bagian awal yang akan menjadi ‘hook’. Coba njenengan entri tentang membuat pendahuluan atau menulis yang jelas dalam blog ini. Mudah-mudahan ada sesuatu di sana.🙂

    • Fathul Wahid said:

      Jawabannya tidak mudah Mas Kohar. Tidak jarang setiap kalimat atau paragraf ditulis berulang-ulang. Pengalaman akan membuatkan lebih baik, meski tidak selalu lebih mudah.

      Kalau rumus normatifnya, tentukan ide pokok setiap kalimat. Tanpa ide pokok, biasanya paragraf tersebut bisa dibuang tanpa mengganggu alur artikel. Kita bisa ingat-ingat pelajaran bahasa waktu di SD/SMP/SMA tentang menulis paragraf yang baik. Ada kalimat pokok di depan, di belakang, dan sebagainya.🙂

      • terima kasih
        saran bapak sangat membantu saya dalam mengembangkan keilmuan saya khususnya dalam menuis

  2. Zohan N said:

    Sangat Super Pak
    Terima kasih untuk sharing-nya🙂

  3. Dimas said:

    Saya suka dengan quotation : kalau kita sendiri malas membacanya kemudia kenapa orang lain harus membacanya

    • Fathul Wahid said:

      Nuwun Mas Dimas untuk kunjungan dan komentarnya.

  4. nur widiyasono said:

    Memang betul pak, membaca ber-ulang-ulang bisa jadi membosankan tetapi dibalik itu muncul idea baru untuk memperbaiki atau melengkapi redaksi yang kurang pas atau menambahkan sesuatu yang belum dicantumkan dalam tulisan.

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih Mas Nur atas kunjungan dan komentarnya.

  5. aris mei s said:

    Kegiatan membaca merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat reseptif kedua setelah menyimak (listening). Hubungan antara penutur (penulis) dengan penerima (pembaca) bersifat tidak langsung. Berbagai informasi entah itu berita, cerita atau ilmu pengetahuan dan lain-lain sangat efektif diumumkan melalui sarana tulisan,. Dengan demikian aktivitas membaca ulang tulisan yang kita buat tersebut akan sangat membuka dan memperluas dunia dan horizon seseorang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: