“Mahabir Pun leaned back, knitted his eyebrows, and smiled wanly at the visitor sitting across the table piled high with all manners of papers. The diminutive dynamo thought awhile before answering the visitor’s question which was “How did you singlehandedly bring the Internet to this isolated remote mountain region of Nepal? What drove you to do this? Why of all places Nangi?” He was proud of what he has achieved which was no less than bringing in the outside world to the remote mountain villages in the shadow of the towering peaks of the Himalayas.”

Apa yang Anda bayangkan ketika membaca paragraf di atas? Potongan sebuah novel, cerita pendek, atau fitur di koran? Jika jawaban Anda adalah salah satu dari ketiga alternatif tersebut, Anda salah.  Paragraf tersebut adalah potongan dari artikel (Sein et al., 2012) dari konferensi paling bergengsi di bidang sistem informasi, International Conference of Information Systems (ICIS) yang baru saja diselenggarakan di Orlanda, Florida, Amerika Serikat, pada petengahan Desember 2012. Artikel tersebut adalah kasus pembelajaran (teaching case) dan dipilih sebagai artikel terbaik pada ICIS 2012. Kebetulan saya kenal personal dengan ketiga penulis tersebut: guru, mantan teman sekantor ketika menjadi research fellow, dan mantan teman sekelompok ketika mengambil program master. 🙂 Read More

Iklan

Artikel editorial dalam edisi terbaru (vol. 55) The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries (EJISDC) yang hanya sepanjang 2,5 halaman menurut saya cukup menarik (Harris & Davison, 2012). Dua orang ini sudah terbukti dedikasinya dalam mengawal EJISDC mulai dari awal sampai dengan berreputasi tinggi di kalangan peneliti sistem informasi untuk konteks negara berkembang. Saya kebetulan pernah bertemu mereka berdua dalam kesempatan yang berbeda. Saya bertemu dengan Harris tahun 2007 di Makati City, Filipina pada sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh University of Philippines. Harris pada waktu banyak bercerita tentang proyeknya (eBario) di Bario, Serawak. Yang menarik, ketika saya memperkenalkan diri, dia langsung berkomentar, “Kamu banyak publikasi ya”. 🙂 Ternyata dia membaca beberapa artikel saya tentang warung Internet di Indonesia yang saya publikasikan mulai tahun 2003. Saya ketemu Davison di Kathmandu, Nepal pada tahun 2011, ketika dia memberikan ceramah tentang publikasi internasional dalam sebuah konferensi yang dihelat oleh IFIP WG 9.5.

Kembali ke artikel. Kata orang, untuk menjadi lebih baik ada dua cara: melihat praktik yang baik dan yang jelek sekaligus. Ikuti, tiru, dan tingkatkan yang baik; serta tinggalkan dan jangan ulangi yang jelek. Nah. artikel ini terkait dengan yang kedua. Read More

Terus terang, saya kesulitan mencari judul yang lebih enak dibaca untuk entri ini. Dalam bahasa Inggris, entri ini mendiskusikan dengan singkat ‘clear writing‘. Mengapa mendadak saya menulis entri ini. Dalam sepekan terakhir saya berjuang membuat tulisan dengan logika yang jelas dan argumen yang meyakinkan sepanjang tiga halaman. Sampai hari ini saya masih tidak puas dengan kualitas tulisan tersebut. Beberapa paragraf harus saya tulis ulang beberapa kali. Banyak kalimat yang saya bongkar dan formulasikan ulang. Banyak kata yang saya ganti. Mengapa? Karena menulis yang jelas bukanlah pekerjaan mudah. Padahal untuk menulis entri ini hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit. 🙂 Read More

Pada entri sebelumnya, kita diskusikan kelebihan dan kekurangan outlet publikasi, baik jurnal maupun konferensi. Entri ini akan memberikan gambaran, bagaimana memilih jurnal atau konferensi yang menjadi tujuan publikasi.

Tentukan ekspektasi! Apakah kita akan mengirimkan artikel ke jurnal atau konferensi kelas satu (first tier) atau yang lain? Penentuan ekspektasi ini mempunyai konsekuensi, mulai dari peluang diterimanya artikel (termasuk tingkat kekritisan review) sampai waktu tunggu untuk review dan terbit. Konsekuensi pertama berlaku baik untuk jurnal maupun konferensi, sedang yang kedua khusus untuk jurnal. Read More

Seperti biasa, saya ingin mengawali entri ini dengan tiga cerita. Pertama, pada akhir 2008, istri saya dan pembimbing S3-nya mengikuti konferensi di Bali. Mereka mempunyai artikel bersama yang dipresentasikan. Di sela-sela konferensi, si pembimbing mengatakan ke istri saya, “Saya belum melihat ada yang menggunakan teori dalam studinya”. Padahal dalam presentasi banyak dipaparkan penelitian sebelumnya.

Cerita kedua tentang presentasi saya di Electronic Govenment conference awal September 2012. Hasil literature review saya menunjukkan bahwa hanya sekitar 14% (dari 108) artikel tentang eGovernment di negara berkembang yang menggunakan teori. Review saya lakukan pada publikasi mulai 2005 sampai 2011. Temuan sebelumnya pada tahun 2006 (Heeks and Bailur, 2007) bahkan lebih ‘menyedihkan’. Hanya satu dari 84 artikel yang menggunakan teori. Angka 14% yang saya sampaikan pun masih dikomentari oleh salah satu peserta: ‘cukup bagus itu’. Dia mensinyalir di ranah penelitian lain, bahkan persentasenya lebih rendah.
Read More

Ketika menulis entri blog ini, saya teringat dua kejadian masa lampau. Pertama, ketika mengikuti kelas metode penelitian kualitatif bersama dengan Ann Langley di Norwegian School of Economics and Business Administration (NHH) di Bergen pada Februari 2011. Di salah satu sesi tentang melakukan observasi kita diminta untuk menonton sebuah film yang dibuat pada tahun 1957. Judulnya adalah ‘12 Angry Men‘, dua belas orang marah. Film yang sangat menarik untuk dijadikan materi pembelajaran sesi observasi. Dalam kelompok berempat, kami diminta untuk melakukan analisis terhadap beragam aspek. Tentu tidak dari sisi sinematografi, tetapi dari aspek yang terkait dengan cerita di fim tersebut, misalnya terkait dengan negosiasi dan komunikasi antaraktor sepanjang film. Setting sebagian besar film hanya di sebuah ruangan yang melibatkan 12 juri pengadilan untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak. Saya tidak akan bercerita lebih banyak tentang film ini, di mana Henry Fonda bermain sangat brilian.

Kejadian kedua pada akhir September 2012, ketika saya juga mengikuti seminar terbatas (mereka menyebutnya conversation series) di Copenhagen Business School (CBS) yang bertajuk ‘Future of organization studies: The role of images (verbal and visual) in organization research‘. Salah satu  hal menarik yang dibahas dalam seminar itu adalah contoh pengumpulan data yang melibatkan kamera video untuk merekam informan ketika menjawab pertanyaan dalam wawancara. Gerakan atau gesture informan dapat memberikan banyak informasi tambahan dalam analisis, dibandingkan ketika misalnya hanya direkam suaranya atau bahkan ‘hanya’ dicatat, meskipun secara ekstensif. Read More

Beberapa hari yang lalu saya membaca, atau lebih tepatnya memindai dengan cepat, sebuah artikel yang diterima di sebuah konferensi internasional. Terus terang saya ‘geleng-geleng kepala’ ketika membacanya. Bukan karena topiknya tidak menarik, tetapi kualitas penulisannya yang menurut saya masih perlu diperbaiki, terutama pada bagian metodologi. Yang saya baca di sana adalah parade definisi tanpa argumen mengapa sebuah metode atau teknik dipilih. Bahkan definisi apa itu wawancara dituliskan. Kalau saya reveiwernya, artikel ini kemungkinan besar saya mintakan untuk revisi besar dan kalau banyak artikel lain yang lebih bagus, ditolak. Halah, nggaya. 🙂

Walsham (2006: 327) memberikan komentar yang menarik untuk bagian metodologi ini: “You won’t get a paper published in a good journal just because you have a well-written methodology section. However, you might get a paper rejected by a good journal because your methodology section is weak.”

Saya tidak akan membahas apakah istilah yang benar, untuk bagian ini, metodologi atau metode. Saya temukan keduanya digunakan dalam artikel jurnal, dan saya tidak ingin terjebak pada diskusi istilah. Lha, biasanya yang hobinya ‘ngeyel’  dalam mendiskusikan istilah ini juga jarang melakukan publikasi. 🙂 Read More