Arsip

Monthly Archives: Maret 2012

Seperti halnya judul, abstrak meskipun berada di bagian awal artikel, biasanya juga ‘ditulis lengkap’ ketika artikel sudah diselesaikan. Hal ini bukan berarti harus menunggu tulisan selesai baru menulis abstrak. ‘Memulai’ menulis abstrak di awal penulisan akan sangat bermanfaat, untuk meyakinkan diri kita bahwa kita mengetahui dengan pasti apa yang kita akan tuliskan dalam artikel (Walsham, 2006). Dalam praktik, abstrak sangat mungkin mengalami penyesuaian di ‘sana-sini’ setelah seluruh artikel diselesaikan. Read More

Iklan

Mungkin bagi sebagian orang, ini istilah penelitian interpretif (interpretive research) adalah baru. Tetapi mungkin tidak untuk peneliti dari ilmu sosial dan humaniora. Ini adalah salah satu paradigma penelitian, selain positivis (positivist) dan kritikal (critical). Seperti biasa, karena saya ingin membuat tulisan yang selesai dibaca dalam ‘satu tarikan nafas’, saya akan fokus pada yang penelitian interpretif, itu pun hanya sebagian ‘kuuuecil’. Tulisan ini terkait dengan tulisan sebelumnya yang membahas peran teori dalam penelitian secara umum.

Saya ingin mengawali dengan sebuah cerita. Seorang kawan harus berjuang dengan penelitian S3-nya karena mempunyai lima pembimbing (supervisor). Sebentar. Tepatnya, sekarang dia mempunyai pembimbing yang kelima, dan empat mantan pembimbing. Saya secara pribadi harus mengacungkan jempol untuknya karena semangat dan ‘kebandelannya’. Jika saya adalah dia, saya mungkin sudah tidak bertahan. Let’s cross our fingers and toes for her! 🙂 Read More

There is nothing more practical than a good theory.” – Kurt Lewin (1945)

Belasan tahun lalu ketika masih di bangku S1, beberapa kali saya berdiskusi, atau tepatnya ‘berdebat kusir’, tentang mengapa kalau membaca tulisan ilmiah banyak kutipan di sana-sini. Beragam argumen saat itu muncul. Pencarian saya terhadap jawaban yang lebih baik pun akhirnya terjawab ketika pada sekitar tahun 1996 saya mengikuti pelatihan Taruna Melati Utama di Mua’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Salah satu pembicara pelatihan tersebut adalah Prof. Abdul Munir Mulkhan, seorang tokoh Muhammadiyah yang juga guru besar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Read More