Generalisasi hasil penelitian

“Bagaimana generalisasi hasil penelitian kalau hanya didasarkan pada satu atau beberapa kasus?”. Mungkin Anda pernah, kalau tidak sering, mendengar ungkapan ini, atau bahkan Anda sendiri mungkin termasuk pelakunya. :-) Logika berpikir ini sangat dipengaruhi paradigma positivis dalam penelitian.

Paradigma ini secara epistemologis didasarkan pada prinsip-prinsip ilmu alam di mana hubungan antar variabel dianggap dapat dirumuskan dengan pasti. Penelitian jenis ini juga sering disebut dengan nomotetik (nomotethic) yang tujuannya adalah mencari “hukum” atau “hubungan sebab akibat” yang bisa diaplikasikan secara umum, secara generik. Tradisi keilmuan di Amerika utara, dalam banyak disiplin, cenderung menganut pendekatan ini. Di Indonesia nampaknya pengaruhnya cukup besar.

Salah satu indikasinya adalah dalam konseptualisasi ‘generalisasi’ hasil penelitian. Generalisasi yang jamak dipahami adalah generalisasi sampel ke populasi, atau subjek ke eksperimen. Ini adalah generalisasi yang melibatkan analisis statistik. Oleh Yin (1994), generalisasi jenis ini dimasukkan ke dalam inferensi level 1 (level 1 inference), seperti yang banyak dipahami.

Apakah salah? Tidak. Hanya saja ada jenis generalisasi lain yang jarang dibahas. Yaitu generalisasi dalam tradisi penelitian interpretif atau idiografik (idiographic).

Komentar yang saya dapat ketika mengirimkan sebuah artikel untuk konferensi berikut dapat memberi ilustrasi:

“However, I think the paper could be further improved, as the study could not be generalized based on single case study. It also limit the contribution of the study.”

Konferensi ini dilaksanakan di wilayah Asia Pasifik di mana, menurut saya, paradigma positivis dianut sangat kuat. Dan, eng ing eng, artikel saya ditolak dengan lasan tersebut. Artikel serupa dengan kasus berbeda yang saya kirimkan pada sebuah konferensi di wilayah Eropa, sebaliknya, mendapatkan apreasi yang bagus, dan bahkan mendapatkan penghargaan best paper dan fast-tracked ke sebuah jurnal yang bagus. Secara umum, tradisi keilmuan di Eropa banyak menganut madzhab interpretif (Bengtsson et al. 1997; Lyytinen et al., 2007).

Saya dengan mudah menebak bahwa reviewer artikel saya adalah penganut madzhab positivis, yang menaruh apresiasi rendah terhadap penelitian interpretif. Ini terlihat jelas dalam saran berikutnya:

The paper could be more relevant to the developing countries perspectives if the author is willing to do the following: (1) Further conducting a quantitative approach, through questionnaire survey; (2) More case studies for comparison with existing findings.

Yin (1994), yang cenderung positivis ini, memperkenalkan, inferensi level 2 (level 2 inference), yaitu generalisadi dari berdasar karakteristik populasi, temuan studi kasus, dan hasil eksperimen ke teori atau teori rival. Dengan kata lain, generalisasi dilakukan terhadap teori. Dengan asumsi ini, karenanya kita bisa mengkritisi teori atau memberikan kontribusi kepada teori, meski hanya berdasar sebuah studi kasus yang mendalam.

Secara lebih spesifik, Lee dan Baskerville (2003) menggelompokkan empat tipe generalisasi dalam penelitian. Pertama, generalisasi dari data ke deskripsi. Secara umum hal ini dilakukan dengan menggeneralisasi data ke pengukuran, observasi, atau deskripsi lain. Kedua, generalisasi dari deskripsi ke theori yang melibatkan generalisasi pengukuran, observasi, dan deskripsi lain ke dalam sebuah teori. Ketiga, generalisasi dari teori ke deskripsi. Tipe ini melibatkan generalisasi sebuah teori yang terbukti di sebuah konteks ke deskripsi konteks lainnya. Keempat, generalisasi dari konsep ke teori. Generalisasi tipe ini melibatkan variabel, konstru, dan konsep lain ke dalam sebuah teori.

Karena tujuan entri ini tidak bermaksud menjelaskan generalisasi dengan detil, untuk yang tertarik silakan baca masterpiece dari Lee dan Baskerville (2003). Tujuan entri blog ini lebih untuk menunjukkan “ada lho, tipe generalisasi selain yang jamak dipahami selama ini”. :-)

Referensi

Bengtsson, L., Elg, U., dan Lind, J-I. (1997). Bridging the transatlantic publishing gap: How North American reviewers evaluate European idiographic research. Scandinavian Journal of Management, 13(4), 473–492.

Lee, A., dan Baskerville, R. (2003). Generalizing generalizability in information systems research. Information Systems Research, 14(3), 221-243.

Lyytinen, K., Baskerville, R., Iivari, J. and Te’Eni, D. (2007). Why the old world cannot publish? Overcoming challenges in publishing high-impact IS research. European Journal ofInformation Systems, 16(4), 317–26.

Yin, R. (1984). Case Study Research: Design and Methods. Beverly Hills, CA:  Sage Publications.

About these ads
5 comments
  1. dimas said:

    saya pernah mengirimkan studi kasus yang sangat sempit ruang lingkupnya dan bukan generalisasi mas, dan itu diterima di daerah Eropa. Kalau di Indonesia memang cenderungnya masih yang Generalisasi mas. Jadi saya biasanya akan mengcustom sesuai konferensi yang saya tuju mas. Anyway, nice writing mas

    • Fathul Wahid said:

      nuwun mas, sudah mampir. ya kita perlu memilih outlet sesuai dengan paper kita. tidak bisa hantam kromo. :-)

  2. Beberapa kali saya membaca temuan hasil penelitian yg dipublikasikan.
    Beberapa diantara hasil penelitian tersebut dijadikan acuan untuk meng”upgrade” perusahaan / developer, tapi beberapa diantaranya tidak.

    Bagaimana proses yang harus dilakukan agar hasil penelitian itu dapat benar-benar digunakan+dipakai oleh developer (software house)? Jadi sebuah penelitian itu tidak hanya bagus dan bisa dipublikasikan saja, tetapi juga benar-benar “bermanfaat”.

    Dasar bidang saya adalah ilmu komputer.
    Sesuai dengan kata pepatah “Manusia yg paling mulya adalah manusia yg paling bermanfaat untuk sesama”

    • Mas Umar, seharusnya setiap meneliti dilandasi keyakinan bahwa yang kita lakukan bermanfaat, sekecil apapun. Salah satu cara meningkatkan potensi manfaat adalah melalui perumusan masalah yang tepat. Namun apapun, di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang kita anggap atau inginkan bermanfaat, selalu dianggap bermanfaat oleh lain. Jangankan kita, Nabi saja yang jelas orang baik, banyak yang tidak suka dan menganggapnya tidak bermanfaat kok. :-)

      Merespons ‘dalil’ njenengan, ada ‘dalil’ lain: ‘bukankah tugas kita hanya menyampaikan?’ :-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 74 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: