Melakukan wawancara

Wawancara adalah salah satu metode pengumpulan data dalam penelitian. Tulisan ini mendiskusikan wawancara kualitatif yang bisa kita bedakan dengan wawancara ‘kuantitatif’ dalam pengisian kuesioner dalam sebuah survei.

Tidak jarang saya temui kolega yang menganggap sepele proses wawancara dalam penelitian. Seakan-akan wawancara yang baik bisa dilakukan secara intuitif. Bisa jadi benar adanya, tetapi saya yakin tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Saya nampaknya tidak termasuk di dalamnya.

Wawancara sering dianggap sebagai metode utama dalam penelitian interpretif. Dari aspek caranya, wawancara dapat dilakukan secara terstruktur (structured), tidak atau semi-tersetruktur (unstructured/semi-strcutured), atau dalam kelompok (group interview) (Myers dan Newman, 2007). Yang pertama menggunakan menggunakan panduan yang lengkap dan sering digunakan dalam survei. Wawancara jenis kedua melibatkan improvisasi di lapangan, meskipun ada panduan tetapi tidak lengkap. Wawancara kelompok dilakukan terhadap lebih datu orang pada saat yang sama.

Wawancara juga dapat dibedakan dalam perspektif yang lain. Schultze dan Avital (2011) merangkumnya menjadi tiga. Pertama, wawancara dianggap sebagai instrumen (interview as an instrument). Pendapat seperti ini biasanya digunakan oleh peneliti positivist. Kedua, wawancara dianggap sebagai percakapan (interview as an conversation). Wawancara adalah interaksi sosial dan linguistik yang kompleks antara peneliti dan informan yang melibatkan proses mendengarkan dan berbicara, meskipun dalam porsi yang berbeda. Ketiga, wawancara dianggap sebagai jendela realitas sosial (interview as a window on social reality). Paham kedua dan ketiga ini dianut oleh peneliti interpretif. Dalam penelitian seperti ini, fenomena yang diteliti merupakan hasil konstruksi sosial. Sebagai hasil seperti konstruksi sosial, realitas yang ada dapat dipahami melalui pendapat atau cerita dari aktor-aktor yang terlibat.

Biasanya dalam penelitian, data dari wawancata ditambah dengan data dari sumber lain, seperti observasi (dengan beragam tingkat keterlibatan) dan analisis dokumen. Teknik ini sering disebut dengan triangulasi data.

Nah, apa sulitnya melakukan wawancara? Kesulitan dalam wawancara bisa diterangkan dengan beragam potensi masalah yang muncul. Myers dan Newman (2007) merangkumnya sebagai berikut:

  1. Kepura-puraan dalam wawancara (artificiality of the interview). Wawancara mirip dengan interogasi dengan orang asing, dan mungkin bisa terjadi kepura-puraan di dalamnya.
  2. Kekurangan kepercayaan (lack of trust). Karena peneliti adalah orang asing, maka kepercayaan menjadi isu yang perlu diperhatikan. Tanpa kepercayaan, nampaknya informan akan sulit memberikan informasi yang dianggap sensitif dan penting untuk penelitian.
  3. Kekurangan waktu (lack of time). Waktu penelitian biasanya terbatas. Waktu informan terlebih lagi. Waktu yang terbatas dapat menjadikan data yang didapat tidak lengkap.
  4. Tingkat masuk (level of entry). Jika kita akan melakukan wawancara di sebuah organisasi, informan pertama yang kita wawancarai bisa menentukan wawancara lanjutan. Informan pertama dapat berperan menjadi ‘penjaga gawang informasi’ yang bisa merujuk ke informan sesuai dengan kepentingan dia. Masuk melalui informan dengan posisi terlalu rendah, juga menyulitkan mengakses informan pada tingkat yang lebih tinggi.
  5. Bias elit (elite bias). Melakukan wawancara hanya dengan informan yang dianggap ‘bintang’ bisa memunculkan bias. Wawancara perlu dilakukan pada beragam tingkat untuk menangkap beragam opini dan persepsi.
  6. Howthorne effect. Efek ini terjadi karena informan merasa diobervasi, sehingga mengubah prilakunya atau ‘mengarang’ cerita.
  7. Mengkonstruksi pengetahuan (constructing knowledge). Dalam melakukan wawancara, seringkali tahapan pengumpulan data dan analisis data tidak terpisahkan. Peneliti selama wawancara juga mengkonstruksi pengetahuan atas sebuah fenomena yang sedang diteliti dengan mencari alur cerita yang logis dan konsisten.
  8. Ambiguitas bahasa (ambiguity of language). Bahasa yang digunakan peneliti seharusnya sesederhana mungkin dan hindari istilah teknis yang mungkin didapat dari teori. Gunakan bahasa sehari-hari sehingga informan dapat memahaminya dengan baik.
  9. Wawancara dalam bermasalah (interviews can go wrong). Masalah yang mungkin terjadi beragam, termasuk informan yang ‘mutung’ atau marah karena peneliti tidak sensitif. Wawancara akhirnya dapat dibatalkan.

Salah satu hal penting dalam wawancara adalah bagaimana menyusun pertanyaan, baik yang tertulis dalam panduan wawancara (interview guide) maupun selama improvisasi dalam proses wawancara.

Pertama, pertanyaan seperti apa yang ingin kita sampaikan ke informan: terbuka atau tertutup. Contoh pertanyaan terbuka adalah: Bagaimana …? Apa saja …? Jelaskan kepada saya …? Contoh pertanyaan tertutup adalah: Berapa banyak …? Apakah Anda …? Sejauh mana …?

Kedua, hindari jenis pertanyaan berikut: (a) pertanyaan dikotomi (dichotomous question) dengan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’; (b) pertanyaan yang mengandung jawaban (leading question) yang menimbulkan bias jawaban; seperti: Saya kira mengerjakan hal itu sangat sulit?; (c) pertanyaan yang mempunyai banyak anak pertanyaan (multiple question) yang bisa pecah menjadi beberapa pertanyaan; dan (d) pertanyaan yang tidak jelas (unclear question) yang biasanya menggunakan istilah teknis atau jargon.

Bagaimana pertanyaan yang baik? Pertanyaan yang baik intinya adalah yang dapat menghasilkan jawaban yang kaya dari informan. Sebagai contoh: Bagaimana pendapat Anda terkait dengan …? Masalah apa saja yang Anda temui selama …? Mengapa masalah tersebut bisa muncul …? Berikan contoh …? (biasanya digunakan untuk ‘probing’, memperjelas jawaban informan).

Dalam praktik seringkali peneliti merasa bahwa jawaban informan tidak terkait dengan penelitian yang dilakukan. Eit, sebentar. Pendapat seperti ini dapat menutup peneliti dari data potensial yang bisa menjadi menarik dan diperlukan setelah banyak wawancaa atau selama proses analisis data dilakukan. Karenanya, merekam dan mentranskrip secara verbatim (kata per kata) semua wawancara menjadi penting, apalagi jika penelitian dilakukan oleh lebih dari satu peneliti. Teknologi saat ini menawarkan beragam pilihan alat rekam yang dapat sesedikit mungkin menganggu wawancara, seperti ponsel atau iPod. Pastikan kita meminta ijin dulu kepada informan sebelum merekam. Bagaiman kalau informan tidak mau? Lakukan pencacatan yang detil sebagai gantinya.

Catatan: Entri blog ini hanya mendiskusikan garis besar wawancara. Sila cari referensi detil lain jika diperlukan.

Referensi

Myers, M. D., dan Newman, M. (2007). The qualitative interview in IS research: Examining the craft. Information and Organization, 17(1), 2-26.

Schultze, U., dan Avital, M. (2011). Designing interviews to generate rich data for information systems research. Information and Organization, 21, 1-16.

About these ads
22 comments
  1. adi said:

    Pak, kira-kira ada tips dan trik nya dalam melakukan appointment dengan informan agar informan tidak menghindar, biasanya kalo di minta wawancara orang-orang yang penting agak sulit. Terima kasih sebelumnya.

    • Fathul Wahid said:

      Mas Adi, dalam wawancara yang paling penting adalah menumbuhkan rasa percaya. Bagaimana membuat mereka percaya dengan Anda. Tanpa itu, tidak mungkin ada wawancara. Kalau mereka menghindar, cari tahu alasannya apa. Kalau masalah jadwal, ya kita yang harus mengalah. Kalau tidak enak sama atasannya. Masuk lewat atasannya. Kalau ada alasan lain? Solusinya akan berbeda.

      Untuk cerita saja. Saya pernah sudah di depan informan dengan jarak 5 meter, akhirnya tidak jadi kok, dengan alasan yang tidak jelas. Tetap coba Mas, itu bagian dari tantangan melakukan wawancara.

  2. Dian Maretha said:

    Kebanyakan penelitian memang menjadikan wawancara sebagai senjata utama untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang diteliti. Termasuk penelitian yang akan saya kerjakan untuk tesis saya pak, terimakasih banyak pak Fathul atas semua informasi yang bapak bagi dalam blog bapak ini. Menjadi jalan terang bagi kami para pemula ^_^

    • Fathul Wahid said:

      Senang kalau ada manfaatnya Mbak. Sukses untuk penelitiannya.

  3. pak, dalam mewawancarai narasumber, tidak semua narasumber menjawab dengan bahasa formal, tetapi ada pula yang menjawab dengan bahasa tidak formal (bahasa daerah, bahasa gaul, dan sejenisnya). jika hal ini terjadi, apakah dalam penyajian dalam tulisan kita nantinya harus berupa bahasa yang ada pada saat wawancara tersebut, atau bisa dibuat menjadi bahasa yang formal/dibuat menjadi bahasa indonesia tanpa mengurangi inti/maksud asli dari narasumber tersebut dan apakah kita harus memberitahu terlebih dahulu kepada narasumber bahwa hasil dari wawancara ini akan dilakukan penyesuaian bahasa dengan tidak mengurangi maksud asli dari narasumber tersebut?

    makasih pak :D :D

    • Fathul Wahid said:

      Mas Ahmad, kalau saya memilih opsi njenengan yang terakhir. Bisa dibayangkan, kalau misalkan harus diterjemahkan ke dalam bahasa lain, Inggris misalnya. Tanpa penyesuaian yang diperlukan, seringkali bahasa Indonesia sehari-hari pun ‘tidak bunyi’.

      Lagi pula sebetulnya dalam penelitian interpretif yang melibatkan informan seperti ini ada tahapan lain yang sering tidak dilakukan, yaitu ‘member check’ ke informan (bisa dengan mengkonfirmasi seara personal, memberikan ringkasan kasus, atau menyelenggarakan workshop) untuk validasi bahwa yang kita tangkap/pahami, sama dengan yang informan maksud. Tetapi bukan berarti kesimpulan kita manut dengan keinginan informan lho. :-)

  4. kadang juga kalau kita ingin melakukan wawancara kita sendiri yang mungkin kurang percaya diri dan kurangnya bahan dalam mewawancarai narasumber. adakah persiapan yang penting yang harus kita siapkan agar lebih siap dalam menghadapi narasumber pak.. makasih

    • Fathul Wahid said:

      Mas Imam, berdasar pengalaman saya yang masih sedikir, beberapa cara meningkatkan kepercayaan diri adalah (a) kita paham apa yang akan kita teliti (arah penelitian kita), (b) kenali medan (kunjungi websitenya, baca penelitian sebelumnya di tempat yang sama, cari beritanya di media massa, ngobrol dengan yang sudah kontak sebelumnya, dll), dan (c) be prepared for the unexpected (siapkan diri untuk hal-hal yang tidak terduga), baik positif maupun negatif.

      Mudah-mudahan jawaban ini membantu.

  5. Slamet Sugiarto said:

    1. Apakah data dari hasil sebuah wawancara bisa dianggap valid ? sementara kita tidak tahu informasi yang disampaikan oleh narasumber tersebut benar atau rekayasa, bagaimana trik untuk memastikan keabsahan informasi tersebut jika tanpa didukung oleh data. Trimakasih untuk petunjuknya

    • Fathul Wahid said:

      Wawancara adalah proses menggali pandangan seseorang terhadap fenomema. Sangat mungkin untuk sebuah fenomena diceritakan dengan berbeda oleh informan yang berbeda, baik karena lupa atau memang mempunyai pendapat yang berbeda. Karenanya perlu ada validasi, bisa dengan data triangulation (membandingkannya dengan data lain seperti observasi dan dokumen tertulis), atau dengan melakukan ‘member check’ (misal dengan mengadakan workshop di mana peneliti menceritakan temuannya dengan mengundang kembali informan untuk konfirmasi).

      Tapi prinsip mempercayai informan harus tetap nomor satu Mas. Lah, ngapain mengadakan wawancara kalau kita tidak percaya. :-)

  6. syauqie muhammad marier said:

    bagaimana saran bapak terkait “Kekurangan waktu (lack of time). Waktu penelitian biasanya terbatas. Waktu informan terlebih lagi. Waktu yang terbatas dapat menjadikan data yang didapat tidak lengkap.”
    untuk kita2 yang selain kuliah juga ada kerjaan lain,
    jaga2 tugas2 yang memerlukan wawancara :D

    • Fathul Wahid said:

      Fokus Mas. Siapkan interview guide dengan baik, fokus ke materi wawancara, mulai dari yang pokok-pokok dulu sebelum elaborasi lebih detill. Kadang yang sederhana ini sulit, karena banyak faktor salah satunya budaya. Ya kan kadang ngobrol sana-sini dulu, sebelum memulai. :-) Cuma supaya ciamik, jangan pernah bilang, “Waktu saya terbatas”. Ini namanya ‘nggaya’. :-) Ganti misalnya, “Saya yakin bapak banyak pekerjaan, kita langsung wawancara saja ya pak”. Hehe. Ada ide lain Mas Syauqie?

  7. CITRA ARFANUDIN said:

    berkaitan dengan (artificiality of the interview) pak. saya rasa hal itu timbul karena Kekurangan kepercayaan (lack of trust) terhadap peneliti atau memang ada yang masalah yang ingin instansi tersebut sembunyikan.

    terus bagaimana cara bapak membangun kepercayaan orang di instansi yang akan kita teliti agak kita mendapatkan hasil yang valid dilapangan ?
    dan semisal kita menemukan suatu masalah ( yang disembunyijan) dari instansi tersebut, haruskah kita terus menggali ? atau menyesuaikan dengan data tidak yang (mungkin) tidak valid

    • Fathul Wahid said:

      Wah, kalau resep jadi dan siap pakai nampaknya sulit Mbak. Saya jujur diuntungkan karena kenal dengan beberapa ‘orang kunci’ sebelum melakukan penelitian dan ini memudahkan saya mendapatkan akses.

      Kalau dipaksa memberikan resep, beberapa mungkin ini: pastikan izin penelitian diurus dengan baik, lakukan kontak dengan profesional (termasuk penggunaan bahasa), berpakaian yang sesuai ketika bertemu, siapkan alat dan dokumen pendukung, pelajari konteks sebelum wawancara dari informasi yang tersedia (seperti website), jelaskan maksud wawancara dengan baik, bagaimana identitas informan akan ditampilkan (anonim atau tidak), bagaimana hasil wawancara akan digunakan, dll.

      Tidak kalah penting adalah jika dirasa informasi cukup sensitif, juga disepakati bahwa informasi dan bahkan institusi akan dibuat anonim. Di beberapa universitas asing bahwa ada sistem embargo, di mana hasil penelitian dalam bentuk tesis tidak bisa diakses dalam beberapa tahun setelahnya.

      Mudah-mudahan membantu Mbak.

  8. Pak, kl boleh mengusulkan topik tentang tips dan trik membuat kuesioner penelitian yang baik pak

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih sarannya Mbak. Nampaknya di Internet banyak sumber untuk itu. Jadi perlu ditulis gak ya? :-)

  9. Assalamualaikum wr wb. Pak Fathul

    Sesuai dengan topik ini, bagaimana cara wawancara dengan baik, benar dan Efektif.

    Bagaimana cara melakukan kegiatan wawancara dengan baik dan benar serta aspek apa saja yang perlu di perhatikan saat melakukan proses wawancara, itu semua masih di lakukan dengan kesalahan. mohon pak fathul memberi masukan.

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Usman,

      Jawabannya ada di entri blog ini kan ya? Kalau tertarik lebih jauh, coba njenengan baca buku yang mengupas wawancara secara detil.

  10. adityawan chandra said:

    selamat pagi pak.

    diatas dituliskan :
    “Kepura-puraan dalam wawancara (artificiality of the interview)”

    bisa minta tolong di jelaskan lebih rinci?
    setiap data yang kita dapat dari narasumber biasanya sedikit beda dengan bukti(kenyataan di lapangan)
    apa ini termasuk dengan kepura puraan wawancara?

    diatas dituliskan :
    “interogasi dengan orang asing, dan mungkin bisa terjadi kepura-puraan di dalamnya.”
    setiap narasumber yang kita temukan pasti orang asing atau orang yang baru kita kenal.
    mohon bantuannya pak.saya bimbang akan hal ini
    terima kasih

    • Fathul Wahid said:

      Orang kadang jaim Mas. Itu bisa menjadi dasar pura-pura. Informasi yang diberikan sudah disaring. Sebagai contoh, Anda ingin mengetahui masalah yang dialami, tetapi informasi yang diberikan seolah-olah tidak ada masalah.

      Solusinya: wawancara lebih dari satu informan. Kalau semuanya pura-pura, pindah tempat penelitian. :-)

  11. Assalamu’alikum pak. Bagian ‘potensi kesulitan yang muncul saat wawaancara’ membantu sekali bagi mahsiswa psca seperti saya untuk memahami konten wawancara yg bisa dipersiapkan seandainya kelak saya hrusmelakukan wawancara untuk keperluan penelitian tesis. Jika boleh mengusulkan pak, sekiranya bapak juga dapta mengulas topik tips dan trik dalam membuat quuesioner wawancara yang baik. Terima kasih

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mbak Sukma, Sebagian sudah saya tulis kan Mbak. Kalau mau detil, monggo dicari referensi yang saya tuliskan atau buku relevan lainnya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: