​Memahami peran teori dalam penelitian interpretif

Mungkin bagi sebagian orang, ini istilah penelitian interpretif (interpretive research) adalah baru. Tetapi mungkin tidak untuk peneliti dari ilmu sosial dan humaniora. Ini adalah salah satu paradigma penelitian, selain positivis (positivist) dan kritikal (critical). Seperti biasa, karena saya ingin membuat tulisan yang selesai dibaca dalam ‘satu tarikan nafas’, saya akan fokus pada yang penelitian interpretif, itu pun hanya sebagian ‘kuuuecil’. Tulisan ini terkait dengan tulisan sebelumnya yang membahas peran teori dalam penelitian secara umum.

Saya ingin mengawali dengan sebuah cerita. Seorang kawan harus berjuang dengan penelitian S3-nya karena mempunyai lima pembimbing (supervisor). Sebentar. Tepatnya, sekarang dia mempunyai pembimbing yang kelima, dan empat mantan pembimbing. Saya secara pribadi harus mengacungkan jempol untuknya karena semangat dan ‘kebandelannya’. Jika saya adalah dia, saya mungkin sudah tidak bertahan. Let’s cross our fingers and toes for her! :-)

Apa masalahnya, ternyata dia harus berganti lima pembimbing, lima (?) teori, dan harus mengulang pengumpulan data dari awal, setelah dia dalam program selama dua tahun lebih. Benar-benar dari awal. Lah apa hubungannya dengan judul tulisan ini. Sabar. :-)

Hari ini saya mengikuti seminar satu hari penuh tentang wawancara dan analisis data penelitian interpretif. Salah satu komentar yang saya sampaikan di seminar adalah kisah kawan saya tadi. Anonim tentunya: tanpa nama orang dan institusi. Mengapa dia harus mengumpulkan data dari awal? Karena dalam pemahaman saya, kita tetap bisa gunakan data tersebut. Biarkan data yang berbicara, dan gunakan teori (atau beberapa teori) yang tepat untuk membedahnya. Pembimbing saya yang sudah malang melintang menyetujui pendapat saya. Dia katakan, ‘Kalau saya pembimbingnya, saya tidak akan suruh dia ke lapangan dan mengumpulkan data lagi! Mungkin juga dia’. Pembimbing saya sambil menunjuk salah satu fasilitator yang lain dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Bagi banyak peneliti di bidang sistem informasi, nama kedua profesor ini tidak asing lagi.

Dalam penelitian interpretif, teori yang akan digunakan untuk memahami data sangat mungkin berubah. Waktu ke lapangan, bisa jadi kita mempunyai teori yang kita bayangkan akan kita gunakan dalam analisis. Tetapi, sangat mungkin ketika di lapangan, data yang dapat dikumpulkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Arah penelitian kita bisa berubah, dan ini tidak masalah dalam penelitian interpretif. Interview guide hanya sebuah panduan. Kita bisa (kalau menurut saya, bahkan harus) berimprovisasi di lapangan untuk memahami sebuah fenomena dengan lebih baik. Biarkan wawancara berjalan dengan cair. sangat mungkin, ada banyak informasi yang menurut kacamata awal kita (karena dibatasi teori) tidak relevan. Tetapi di sinilah seninya. Ketika sampai dalam tahap analisis data, seringkali ‘muncul’ alur cerita yang lebih menarik yang tidak pernah kita bayangkan, dan data yang tadinya kita anggap tidak relevan menjadi sangat bermanfaat. Teori pun kadang tidak serta merta menyediakan kosa kata untuk menjelaskan fenomena ini. Kita perlu mengusung teori baru, atau bahkan beberapa teori baru yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Mengapa demikian? Karena dalam penelitian interpretif, semua fenomena dianggap sebagai hasil sebuah konstruksi sosial. banyak hal dan pihak yang terlibat di sana. Sebagai contoh, ketika saya meneliti Pelayanan Satu Atap/Pintu di beberapa pemda, mereka menerapkannya dengan beragam cara. Sebagian menerapkannya dengan sangat cepat, sebagian lain masih tertatih-tatih dalam mencari format yang tepat. Teori apa yang bisa menjelaskan ini? Salah satunya, misalnya, adalah teori institutional (institutional theory) khususnya terkait dengan translasi ide (idea translation). Konsep translasi ide adalah versi lain teori institutional dengan cita-rasa Skandinavia. Saya tidak pernah membayangkan akan menggunakan konsep ini ketika mengumpulkan data, tetapi dalam analisis saya menemukan bahwa konsep ini sangat tepat untuk menjelaskan fenomena yang saya teliti.

Praktik ini akan lebih menarik lagi kalau dikaitkan dengan grounded research. Artifak wawancara (transkrip, rekaman), termasuk catatan/diari kunjungan lapangan, adalah datanya. Berdasar data ini, kita bisa membuat cerita yang menghubungkan kejadian, konsep, aktor atau apa saja yang ditemukan di sana. Untuk memahami cerita tersebut lebih jauh, kita bisa menggunakan teori yang tepat. Teori ini bahkan kadang tidak pernah kita pelajari dan pikirkan sebelumnya ketika sedang dalam tahap pengumpulan data.

Kesimpulannya, (seharusnya) dalam penelitian interpretif, data yang sudah kita kumpulkan masih relevan dan bermanfaat. Yang diperlukan adalah mencari teori yang tepat untuk menjelaskan fenomena. Dan, kalaupun harus ke lapangan dan mengumpulkan data lagi, itu adalah proses melengkapi data atau sebagai bagian dari proses hermeunetik yanng membutuhkan member-check atau konfirmasi dari informan, supaya peneliti tidak salah menafsirkan maksud informan yang terekam dalam wawancara.

Atau, jika kita harus mengganti teori, seringkali didasari alasan yang lain. Salah satunya: untuk menyenangkan pembimbing. :-) Ini kata pembimbing saya ketika mengkomentari kasus seorang kawan di atas. Alasan ini pun tidak salah.

Bagaimana pendapat Anda?

About these ads
3 comments
  1. rudi said:

    Terimakasih sangat penting untuk membantu penelitian saya.. sukses selalu..

  2. Assalamu’alaikum pak Fathul.
    Bagaimana cara menentukan celah kekurangan dari teori yang telah diuji sebelumnya.misal algoritma collaboration filtering. saya mengusulkan bagaimana jika pada blog ini ditambahkan entrian tips menyusun alur kerangka penelitian jenis method improvement?
    jazakallahu khoiron katsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: