Membuat kerangka artikel

Plans do not always match what happens, so the paper normally evolves during the writing. However, this is not an argument to have no plan.” – Walsham (2006)

Perbanyaklah membaca. Jangan terkungkung dengan tradisi ilmiah dalam disiplinnya sendiri. Mengapa? Karena di luar sana ada tradisi ilmiah lain yang harus diketahui dan dihormati.

Mengapa saya membuka tulisan ini dengan kalimat tersebut? Dalam sebuah workshop penulisan yang pernah saya ikuti, seorang pembicara hanya memberikan satu cara dalam menulis, dan menganggap yang lain salah. Ini sangat berbahaya. Bahkan dalam bidang teknologi informasi saja, beragam tradisi bisa ditemukan. Termasuk dalam menulis artikel. Tradisi di bidang ilmu komputer (computer science) dan sistem informasi berbeda. Atau, bandingkan misalnya, jurnal terbitan, ACM, IEEE, dan AIS. Anda akan temukan tradisi yang berbeda. Bahkan sangat mungkin ACM atau IEEE transaction on A berbeda dengan transaction on B.

Kecenderungan lintas-disiplin

Memahami masalah ini menjadi semakin penting kalau kita perhatikan perkembangan terakhir, ketika penelitian lintas disiplin sangat dianjurkan. Kecenderungan ini terjadi di semua disiplin (e.g., Abt, 1981; Hudson, 1996). Dalam disiplin ekonomika, misalnya, pada tahun 1950, hanya 6-8% artikel yang melibatkan lebih dari satu penulis, tetapi pada tahun 1993, angka ini meningkat menjadi 39,6-54,9% (Hudson, 1996). Artikel yang ditulis lebih dari satu orang juga lebih berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan acceptance rate (Smart dan Bayer, 1986). Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa artikel dengan penulis lebih dari satu lebih sering dikutip.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Liu dan kolega (2004) terhadap artikel dalam bidang digital library yang disimpan baik oleh IEEE dan ACM, menemukan bahwa selama 10 tahun (1994-2004), hanya 19,6% artikel yang ditulis oleh penulis tunggal. Sisanya (80,4%) dengan lebih dari satu penulis. Bahkan Foo (2011) dalam penelitiannya yang memasukkan enam jurnal bergensi dalam bidang biomedical engineering dalam 10 tahun penerbitan, menemukan bahwa pada tahun 1999, satu artikel rata-rata ditulis oleh 3,51 penulis, dan pada tahun 2008 meningkat menjai 4,04 penulis.

Namun demikian, etika co-authorship juga harus diperhatikan. Salah satu pedoman yang digunakan adalah Vancouver Convention yang dirumuskan oleh The International Committee of Journal Editors. Dalam dokumen tersebut, penulis yang dicantumkan dalam artikel harus didasarkan pada ide bahwa ‘each author should have participated sufficiently in the work to take public responsibility for the content.‘ Karenanya setiap penulis harus mempunyai kontribusi yang substansial dalam ketiga poin ini: ‘(a) conception and design analysis and interpretation of data; (b) drafting the article or revising it critically for important intellectual content and (c) final approval of the version to be published.‘ (http://www.icmje.org/ethical_1author.html). Karena inilah, kalau Anda melakukan publikasi internasional, seringkali semua penulis diminta untuk menandatangani ‘surat pernyataan’.

Hanya saja, sialnya (atau beruntungnya) di Indonesia, salah satu syarat untuk setiap kenaikan jabatan akademik adalah adanya artikel dengan penulis tunggal. Nah lho? Sebetulnya saya agak kurang faham maksudnya. Atau mungkin maksudnya artikel yang ditulis sendiri. Ya iya lah, artikel memang tidak boleh dituliskan oleh orang lain, dengan membayar penulis hantu alias ‘ghost writer‘. ;-)

Memang masih ditemui artikel dengan penulis tunggal, dan itu tidak haram. Penelitian Vafeas (2010) menjelaskan mengapa mereka memilih menjadi penulis tunggal. Penulis tunggal biasanya untuk tulisan yang bersifat konseptual atau analitis, dan tidak melibatkan data atau analisis empiris, dan ketika energi yang dibutuhkan kecil. Selain itu, penulis tunggal juga ditemui di kalangan yang berasal dari universitas ternama. Yang menarik, artikel dengan penulis tunggal juga cenderung dilakukan oleh peneliti junior.

Kerangka artikel

Kembali ke kerangka artikel. Untuk memberikan ilustrasi, perhatikan dua kerangka artikel di bawah ini:

Kerangka 1:
Title
Abstract
Introduction
Literature review
Methodology
Empirical data and analysis
Discussion
Conclusion
Reference

Kerangka 2:
Title
Abstract
Introduction
Materials and methods
Results
Discussion
Reference

Kerangka 1 saya sarikan dari tulisan Walsham (2006), dan kerangka 2 dari artikel Day (1975) yang diterbitkan pada 37 tahun yang lalu! Kerangka mana yang sering Anda lihat, baca, atau dengar dalam workshop? Apakah kerangka 1 lebih baik dari kerangka 2? Tidak. Apakah sebaliknya? Tidak juga.

Sekali lagi, perhatikan tradisi dalam disiplin Anda atau kerangka yang diinginkan oleh jurnal atau konferensi tujuan publikasi Anda. Sangat mungkin Anda juga menemukan kerangka lain. Kerangka 1 nampaknya lebih banyak digunakan dalam tradisi yang bersinggungan dengan manusia (ilmu sosial, humaniora, politika), sedang kerangka 2 lebih sering digunakan untuk artikel yang sangat teknis, terutama yang melibatkan aktivitas laboratorium. Karenanya, dalam kerangka 2 ada subbagian ‘materials’.

Kerangka ini akan diulas lebih lanjut dalam entri-entri selanjutnya. Entri dalam blog ini sengaja dibuat pendek, sehingga diharapkan selesai dibaca dan dicerna dalam ‘satu tarikan nafas’.

Mudah-mudahan selalu ada waktu dan energi untuk itu. Tunggu tanggal mainnya! ;-)

Referensi

Abt, H. A. (1981). Some trends in American astronomical publications. Publications of the Astronomical Society of the Pacific, 93, 269-271.

Day, R. (1975). How to write a scientific paper. IEEE Transaction on Professional Communication, 41(7), 486-494.

Foo, J. Y. A. (2011). A retrospective analysis of 10-year authorship trends in biomedical engineering journals. Accountability in Research: Policies and Quality Assurance, 18(2), 91-101.

Hudson, J. (1996). Trends in multi-authored papers in economics. The Journal of Economic Perspectives, 10(3), 153-158.

Liu, X., Bollen, J., Nelson, M. L., Van de Sompel, H. (2005). Co-authorship networks in the digital library research community. Information Processing and Management, 41, 1462–1480.

Smart, J. C., dan Bayer, A. E. (1986). Author collaboration and impact: A note on citation rates of single and multiple authored articles. Scientometrics, 10(5-6), 297-305.

Vafeas, N. (2010). Determinants of single authorship. EuroMed Journal of Business, 5(3), 332-344.

Walsham, G. (2006). Doing interpretive research. European Journal of Information Systems, 15(3), 320-330.

About these ads
4 comments
  1. adi said:

    Terima Kasih atas sharing ilmu yang bermanfaat ini pak Wahid, mohon ijin untuk share di facebook saya.

    • Fathul Wahid said:

      Silakan Mas Adi. Terima kasih sudah mampir.

  2. nasar said:

    kerangka paling simple?

  3. adulweb said:

    Pak Fathul Wahid saya ingin mengusulkan tentang Seleksi Jenis Referensi dalam strategi persiapan artikel yang saya ketahui ada Artikel dari Jurnal, Artikel dari Prosiding dan Artikel Laporan ilmiah/tesisf disertasi.dalam Blog Bapak Belum Ada Penjelasan tentang Perbedaan dari Ke3 Artikel Tersebut.. mohon Pencerahannya Pak,,, Bahasanya yang mudah dimengerti agar artikel yang nanti saya tulis itu nanti masuknya kedalam artikel yang mana.. Jurnalkah, Prosiding atau Laporan Ilmiah..begitu pak.. Terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: